
Ifonti.com – JAKARTA. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat penerbitan obligasi korporasi sepanjang Januari – Mei 2026 meningkat dibanding periode yang sama tahun lalu. Peningkatan ini di antaranya karena kebutuhan refinancing hingga kebutuhan menjaga fleksibilitas pendanaan.
“Penerbitan obligasi korporasi masih meningkat hingga Mei 2026. Nilai penerbitan kumulatif Januari–Mei 2026 mencapai Rp 78,09 triliun. Angka tersebut naik 30,25% dibandingkan Rp 59,95 triliun pada periode yang sama tahun lalu,” ungkap Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin kepada Kontan, Selasa (2/6/2026).
Ahmad mengatakan, kenaikan tersebut menunjukkan bahwa pasar obligasi korporasi belum kehilangan momentum, meskipun suku bunga acuan dan yield obligasi bergerak naik. Dalam kondisi normal, kenaikan yield membuat biaya penerbitan lebih mahal karena emiten harus menawarkan kupon yang lebih menarik.
Reksadana Pasar Uang Masih Bertahan Positif, Saham dan Campuran Kian Tertekan
Namun, kebutuhan pendanaan korporasi tetap berjalan karena sebagian emiten masih perlu menjaga likuiditas, membiayai kembali utang jatuh tempo, dan mengamankan pendanaan sebelum biaya dana naik lebih jauh.
Kebutuhan refinancing menjadi salah satu penopang utama penerbitan. Surat utang korporasi yang jatuh tempo pada 2026 mencapai Rp 162,72 triliun. Dari jumlah tersebut, jatuh tempo pada kuartal I mencapai Rp 26,88 triliun dan kuartal II sebesar Rp 28,33 triliun. Beban jatuh tempo tersebut mendorong sebagian emiten untuk masuk pasar lebih awal, terutama emiten yang memiliki akses pasar yang kredibel.
“Secara keseluruhan, saya melihat peningkatan penerbitan hingga Mei 2026 lebih mencerminkan kombinasi antara refinancing, prefunding, dan kebutuhan untuk menjaga fleksibilitas pendanaan,” terang Ahmad.
Ahmad menambahkan bahwa ini bukan berarti biaya dana berada dalam kondisi yang murah. Sebaliknya, kenaikan yield membuat penerbitan menjadi lebih selektif. Emiten dengan profil kredit lebih kuat cenderung lebih mudah mengakses pasar karena permintaan terhadap surat utang mereka akan tetap kuat. Sementara emiten dengan profil lebih lemah berpotensi menunggu kondisi pasar yang lebih stabil.
Inflasi Naik, Geopolitik Memanas, Rupiah Tumbang Lagi ke Rp 17.839 per Dolar AS