Pentingnya perlindungan konsumen di era keuangan digital

Ifonti.com   JAKARTA. Industri keuangan digital Indonesia dinilai memasuki fase yang semakin matang. Karena itu, perlindungan konsumen menjdi penitng di era keuangan digital ini.

Aalagi, pertumbuhan jumlah pengguna dan transaksi kini tak lagi hanya diukur dari ekspansi bisnis, tetapi juga dari kemampuan pelaku industri menjaga kepercayaan publik, perlindungan konsumen, serta tata kelola yang sehat.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, jumlah pengguna platform aset keuangan digital telah mencapai 17,17 juta dengan total 77,32 juta transaksi sepanjang tahun berjalan. 

Di tengah lonjakan aktivitas tersebut, regulator dan pelaku industri menilai inovasi teknologi harus diimbangi dengan penguatan keamanan dan edukasi masyarakat agar pertumbuhan industri tetap berkelanjutan.

Bank Sentral India Usulkan Koneksi Mata Uang Digital BRICS

Isu tersebut menjadi sorotan dalam Rapat Umum Anggota Asosiasi Fintech Indonesia 2026 di Jakarta, Selasa (12/5/2026). Forum itu menekankan bahwa industri keuangan digital Indonesia kini bergerak menuju fase baru yang lebih menitikberatkan pada kepercayaan publik dan kepatuhan regulasi.

Ketua Umum AFTECH Pandu Sjahrir mengatakan, pelaku industri saat ini tidak lagi hanya fokus merebut pangsa pasar, tetapi mulai menjadikan tata kelola dan kepatuhan sebagai fondasi utama pertumbuhan.

Menurut dia, inovasi teknologi keuangan juga harus dibangun dengan pendekatan yang aman dan bertanggung jawab agar mampu memberi dampak nyata bagi sektor riil dan masyarakat luas. 

“Industri digital Indonesia saat ini memiliki cerita pertumbuhan yang positif dan fondasi bisnis yang lebih sehat dibanding beberapa tahun sebelumnya,” ujar Pandu.

Pandangan serupa disampaikan Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi. Ia menegaskan pertumbuhan industri keuangan digital tidak boleh hanya berorientasi pada ekspansi bisnis, tetapi juga harus memastikan perlindungan konsumen dan keberlanjutan ekosistem dalam jangka panjang.

Friderica menilai perkembangan teknologi seperti artificial intelligence (AI), big data analytics, cloud computing, hingga blockchain akan semakin berperan dalam memperluas inklusi dan efisiensi layanan keuangan digital. 

Akuntara Dorong Talenta Vokasi Siap Hadapi Era Pajak Digital

Teknologi tersebut dinilai mampu membantu menjangkau masyarakat maupun pelaku usaha yang selama ini belum terlayani optimal oleh layanan keuangan formal.

Di sisi industri, Indodax menilai arah perkembangan sektor aset digital kini mengalami pergeseran dari sekadar mengejar pertumbuhan transaksi menuju penguatan kepercayaan publik dan kepatuhan regulasi.

Chief Marketing Officer Indodax Aloysia Dian mengatakan, kepercayaan menjadi fondasi utama dalam industri aset digital. 

Karena itu, pertumbuhan industri kripto perlu dibarengi dengan perlindungan konsumen, transparansi, serta tata kelola yang kuat agar ekosistem dapat berkembang secara sehat dan berkelanjutan.

Selain memperkuat sistem keamanan dan transparansi platform, Indodax juga mengaku aktif meningkatkan edukasi masyarakat melalui berbagai program literasi. 

Langkah itu dilakukan agar masyarakat memahami potensi sekaligus risiko investasi aset kripto secara lebih bijak.

“Ekosistem yang sehat hanya bisa tercipta ketika inovasi berjalan seiring dengan perlindungan konsumen, edukasi, dan tata kelola yang baik,” kata Aloysia.

Indo Premier Rilis xRDN, Layanan Menabung Digital, Cek Potensi Imbal Hasilnya

Ke depan, pelaku industri menilai pertumbuhan sektor aset digital Indonesia akan sangat ditentukan oleh kemampuan menjaga keseimbangan antara inovasi teknologi, perlindungan konsumen, dan kepatuhan regulasi. 

Dengan dukungan regulasi yang dinilai semakin matang serta kolaborasi antara regulator dan industri, ekosistem keuangan digital Indonesia diyakini dapat terus tumbuh secara sehat, inklusif, dan berkelanjutan.