Prabowo janjikan buruh kredit rakyat bunga 5% hingga tenor KPR 40 tahun

Presiden Prabowo Subianto menjanjikan program kredit rakyat dengan suku bunga 5% dan perpanjangan tenor KPR hingga 40 tahun kepada ribuan buruh saat gelaran May Day di Monas, Jumat (1/5). 

 

“Kalian mengatakan 30% dari penghasilan untuk membayar kontrakan. Saudara nanti akan memiliki rumah, karena 30% dari penghasilan saudara akan bisa digunakan untuk cicilan dengan perpanjangan tenor,” ujar Prabowo.

Adapun perpanjangan tenor KPR tersebut, akan dikhususkan untuk kelompok tertentu, yakni buruh, nelayan, dan petani. Saat ini, tenor maksimum untuk KPR adalah 30 tahun dan hanya disediakan oleh bank-bank tertentu. 

Baca juga:

  • Prabowo Teken Perpres Ojol, Potongan Aplikator Dipangkas dari 20% Jadi 8%
  • Prabowo Pasang Badan untuk MBG: Apa Salahnya Uang Negara Kembali ke Rakyat?

Selain perpanjangan tenor, Prabowo berencana melunurkan program kredit murah khusus buruh dengan bunga maksimal 5% per tahun,  lebih rendah dibandingkan bunga Kredit Usaha Rakyat yang dipatok 6%. Namun Prabowo belum menjelaskan lebih lanjut peruntukkan program kredit tersebut.

Latar belakang penerbitan program kredit murah tersebut adalah tingginya bunga pinjaman yang dinikmati oleh masyarakat kecil hingga 70% per tahun. Otoritas Jasa Keuangan memungkinkan bunga pinjaman tersebut khusus untuk perusahaan pinjaman daring dengan skema bunga harian untuk hal konsumtif.

Surat Edaran OJK No. 19 Tahun 2025 menetapkan bunga pinjaman oleh perusahaan pinjaman online untuk kebutuhan konsumtif sebesar 0,2% per hari. Angka tersebut dapat menembus 70% jika dihitung secara tahunan.

“Selama ini rakyat kecil kalau pinjam uang, bunganya luar biasa gila. Saya sudah perintahkan bank-bank milik negara untuk meluncurkan kredit untuk rakyat dengan bunga maksimal 5% dalam 1 tahun,” katanya.

Di sisi lain, Bank Indonesia sebelumnya mengeluhkan masih lambatnya penyaluran kredit oleh perbankan. Berdasarkan catatan BI, kredit perbankan yang masih menganggur atau undisbursed loan masih mencapai lebih dari 20% dari total plafon.

Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti menilai potensi penyaluran kredit di berbagai sektor produktif masih besar. Sektor seperti pertanian, jasa dunia usaha, konstruksi, hingga pengangkutan dinilai masih memiliki ruang luas untuk menyerap pembiayaan dari perbankan.

“Kita lihat rasio undisbursed loan juga masih cukup tinggi, di atas 20% terhadap plafon kredit,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah bersama, baik bagi perbankan maupun pemangku kebijakan. Ia berharap penyaluran kredit dapat lebih optimal dan merata sehingga mendukung ekonomi tumbuh lebih cepat.

Kendati demikian, BI mencatat, penyaluran kredit hingga Maret 2026 menunjukkan pertumbuhan yang positif mencapai 9,49%. Namun, penyalurannya lebih banyak didorong oleh bank-bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara.