RI tak butuh bantuan IMF, menkeu klaim APBN punya bantalan Rp420 T

Jakarta, IDN Times – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa Indonesia saat ini tidak membutuhkan bantuan pendanaan dari Dana Moneter Internasional (IMF) karena bantalan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih kuat, dengan Saldo Anggaran Lebih (SAL) mencapai sekitar Rp420 triliun.

Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya usai bertemu Managing Director IMF, Kristalina Georgieva, di Washington DC, Amerika Serikat. Dalam pertemuan tersebut, ia menanyakan langkah-langkah yang dapat dilakukan IMF untuk membantu negara-negara menghadapi ketidakpastian global.

IMF menjelaskan lembaga tersebut tidak memiliki kewenangan langsung untuk mengendalikan ketidakpastian global, namun berperan melalui pengawasan ekonomi, pemberian rekomendasi kebijakan, serta penyediaan bantuan pendanaan bagi negara yang membutuhkan.

“Mereka menyampaikan bahwa IMF tidak memiliki otoritas untuk melakukan hal tersebut, tetapi menyediakan dana bantuan bagi negara yang membutuhkan. Tentu saja Indonesia tidak membutuhkan, karena kondisi anggaran kita cukup baik dan masih memiliki bantalan yang besar, yaitu Rp420 triliun,” kata Purbaya dalam pernyataan resmi, dikutip Jumat (17/4/2026).

1. IMF sempat terkejut dengan ketahanan ekonomi RI

Purbaya Yudhi Sadewa juga menyebut IMF sempat terkejut dengan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah kondisi global saat ini. Di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, ia mengklaim ekonomi Indonesia sedang mengalami percepatan, sehingga mampu meredam dampak ketidakpastian global.

“Mereka awalnya cukup heran bagaimana Indonesia bisa bertahan dalam kondisi global seperti ini. Saya jelaskan kita telah mengubah kebijakan sejak akhir tahun lalu, dan dampaknya sudah terlihat. Ekonomi kita sedang mengalami percepatan meskipun ada guncangan akibat ketidakpastian global, termasuk kenaikan harga minyak,” ujarnya.

2. Komitmen jaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan APBN

Di samping itu, Purbaya menyampaikan komitmen pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di tengah ketidakpastian global.

“Kami juga bertemu dengan 18 investor besar, termasuk Goldman Sachs dan Fidelity Investments. Mereka ingin memahami arah kebijakan pertumbuhan dan pengelolaan anggaran Indonesia, serta menilai apakah strategi tersebut kredibel dan berkelanjutan,” ujar Purbaya dalam keterangan tertulis, Rabu (15/4/2026).

Purbaya menjelaskan, pemerintah telah menyampaikan secara komprehensif berbagai kebijakan yang ditempuh, termasuk dampaknya terhadap APBN dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurutnya, respons dari IMF, Bank Dunia, serta lembaga pemeringkat internasional tergolong positif, terutama terhadap kemampuan Indonesia dalam mendorong pertumbuhan tanpa membebani fiskal

“Mereka menunjukkan antusiasme tinggi dan menggali lebih dalam terkait fundamental ekonomi dan kebijakan kita. Selama ini mereka mempertanyakan bagaimana Indonesia bisa tumbuh lebih cepat dengan anggaran yang tetap terkendali,” jelasnya.

3. Investor global tertarik masuk di instrumen sektor keuangan

Terkait minat investasi, Purbaya menyebut investor global, khususnya dari AS, menunjukkan ketertarikan pada instrumen sektor keuangan, baik fixed income maupun equity.

“Sebagian besar merupakan investasi portofolio, bukan foreign direct investment (FDI). Namun kami optimistis dalam waktu dekat aliran dana tersebut akan masuk dan turut mendorong penguatan pasar modal Indonesia,” tambahnya.

Di Forum IMF, Menkeu Tegaskan Kekuatan Fiskal dengan Bantalan Rp420 T IMF Turunkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Gegara Konflik Timur Tengah Dipuji IMF dan Investor Global, Indonesia Dinilai Tangguh Jaga Stabilitas