
Ifonti.com NEW YORK. Dua tema utama yang memengaruhi pasar saham Amerika Serikat, yakni ledakan industri kecerdasan buatan (AI) dan tekanan inflasi terhadap belanja konsumen, akan menjadi perhatian investor pekan depan melalui laporan keuangan sejumlah perusahaan besar, termasuk Nvidia dan Walmart.
Indeks saham utama Wall Street terus menguat dalam beberapa pekan terakhir. Indeks acuan S&P 500 dan Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi kini mendekati rekor tertinggi baru.
Manajer portofolio Jensen Investment Management, Allen Bond, mengatakan pergerakan pasar saat ini dipengaruhi oleh dua narasi besar yang berjalan hampir bersamaan, yakni perkembangan teknologi AI dan lonjakan harga energi akibat perang di Iran.
Rupiah Berpotensi Lanjut Tertekan, Simak Proyeksinya untuk Senin (18/5/2026)
“Perkembangan dari dua faktor ini bisa sangat memengaruhi arah pasar dari hari ke hari,” kata Bond.
Meski demikian, saham-saham di Wall Street sempat melemah pada Jumat setelah kenaikan harga minyak mentah memicu kekhawatiran inflasi dan mendorong kenaikan tajam imbal hasil obligasi.
Sejak menyentuh titik terendah pada akhir Maret, indeks S&P 500 telah melonjak hampir 17% dan kini mencatat kenaikan lebih dari 8% sepanjang 2026.
Namun, sejumlah investor menilai reli pasar mulai kehilangan tenaga. Mereka menyoroti bahwa kenaikan indeks hanya ditopang oleh sedikit saham berkapitalisasi besar, sehingga reli dianggap kurang sehat.
Data LSEG menunjukkan hanya sekitar seperlima komponen S&P 500 yang mampu mengungguli indeks sejak 30 Maret.
“Sekali lagi hanya sejumlah kecil saham yang mendorong kenaikan indeks secara keseluruhan,” ujar Kepala Strategi Investasi Madison Investments, Patrick Ryan. “Pasar tidak terlalu sehat ketika begitu banyak saham tertinggal.”
Perhatian investor akan tertuju pada laporan keuangan perusahaan semikonduktor raksasa Nvidia yang dijadwalkan rilis pada Rabu mendatang.
Saham Nvidia dan sektor chip lainnya menjadi motor utama penguatan pasar berkat tingginya permintaan chip AI untuk pembangunan pusat data dan infrastruktur kecerdasan buatan.
Sejak titik terendah pasar pada Maret, saham Nvidia telah naik sekitar 36%, sementara indeks semikonduktor Philadelphia SE melonjak lebih dari 60%.
Bahkan, sejak pasar bullish dimulai pada Oktober 2022, saham Nvidia telah meroket lebih dari 1.800%.
Investor kini menunggu apakah hasil kinerja Nvidia mampu membenarkan lonjakan harga saham tersebut sekaligus mempertahankan dominasinya di industri AI di tengah persaingan yang semakin ketat.
“Kami ingin melihat bukti bahwa Nvidia benar-benar mendapatkan manfaat dari lonjakan belanja pusat data,” kata Bond.
IHSG Berpotensi Sideways Bearish, Tekanan MSCI dan Asing Masih Dominan
Sementara itu, Kepala Strategi Investasi PNC Financial Services Group, Yung-Yu Ma, menilai pasar juga akan mencermati apakah para pesaing mulai menggerus pangsa pasar Nvidia.
“Pertanyaannya sekarang adalah apakah Nvidia masih mampu mempertahankan posisi kepemimpinannya seperti beberapa tahun terakhir,” ujarnya.
Selain sektor teknologi, investor juga menantikan laporan dari perusahaan ritel besar seperti Walmart, Home Depot, Target, dan TJX Companies.
Walmart, peritel terbesar di dunia, dijadwalkan merilis laporan keuangan kuartalan pada Kamis.
Pasar khawatir inflasi yang dipicu perang dan kenaikan harga energi mulai menekan belanja masyarakat Amerika, yang menyumbang lebih dari dua pertiga aktivitas ekonomi AS.
Data terbaru menunjukkan indeks harga konsumen dan produsen di AS mengalami kenaikan signifikan. Bahkan, harga rata-rata bensin nasional di AS telah melampaui US$ 4,50 per galon untuk pertama kalinya dalam hampir empat tahun terakhir.
Investor berharap laporan para peritel dapat memberikan gambaran terbaru mengenai pola belanja masyarakat dan seberapa kuat daya tahan konsumen menghadapi tekanan harga.
“Pada akhirnya biaya hidup yang tinggi akan mulai membebani konsumen dan memperlambat pengeluaran mereka,” kata Ma. “Itulah yang menjadi pertaruhan utama dalam laporan sektor ritel: seberapa tangguh konsumen saat ini.”
MSCI Masih Freeze, Saham Konglomerat Dituntut Punya Cerita Baru