Rupiah dalam tren melemah, simak rekomendasi saham sektor konsumer

Ifonti.com – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang sedang dalam tren melemah diproyeksi memberi tekanan tambahan bagi emiten sektor konsumer. Pergerakan nilai tukar hingga daya beli diproyeksi menjadi penentu kinerja sektor konsumer ke depan. 

Muhammad Thoriq Fadilla, Research Analyst Bumiputera Sekuritas mengatakan, pelemahan rupiah pada dasarnya memberikan dampak yang berbeda pada masing-masing subsektor konsumer. Dampak terbesar dirasakan oleh emiten yang masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor seperti makanan dan minuman, susu, farmasi, personal care, hingga produk berbasis petrokimia. 

“Kenaikan biaya bahan baku impor akan menekan margin laba apabila perusahaan tidak mampu melakukan penyesuaian harga jual secara cepat,” ujar Thoriq kepada Kontan, Jumat (5/6/2026). 

Namun demikian, Thoriq melihat dampak pelemahan rupiah terhadap sektor konsumer pada 2026 relatif lebih terkendali dibandingkan periode tahun 2022 – 2024 karena inflasi domestik masih berada dalam rentang target Bank Indonesia BI) dan daya beli masyarakat tetap ditopang oleh pertumbuhan ekonomi yang stabil.

Bank Indonesia juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2026 berada pada kisaran 4,9% – 5,7% dengan inflasi yang tetap terkendali.

Kocok Ulang Portofolio Aset di Tengah Koreksi IHSG dan Rupiah Tembus Rp 18.000

Perusahaan Fast-Moving Consumer Goods (FMCG) besar seperti PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) umumnya memiliki kemampuan meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen sehingga tekanan margin akibat pelemahan rupiah cenderung bersifat sementara dibandingkan emiten skala kecil.

Selain itu, harga beberapa komoditas bahan baku seperti gula dan kakao yang relatif lebih moderat pada 2026 turut membantu menjaga profitabilitas sektor. 

Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT) Brigita Kinari mengatakan, pelemahan rupiah masih jadi tekanan bagi sektor konsumer karena sebagian bahan baku dan kemasan berbasis dolar AS. Dampaknya berupa kenaikan biaya produksi dan tekanan margin apabila perusahaan tidak dapat meneruskan kenaikan biaya ke harga jual. 

Setiap pelemahan rupiah berpotensi menekan laba emiten konsumer, meski dampaknya berbeda pada tiap perusahaan. Emiten MYOR dan ICBP relatif lebih defensif karena memiliki eksposur ekspor, sementara PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) lebih rentan karena pendapatannya lebih bergantung pada pasar domestik.

“Prospek sektor konsumer masih positif dgn tanda-tanda pemulihan yang semakin terlihat,” ucap Brigita. 

Menurut Brigita, ada beberapa pendorong utamanya, seperti dukungan belanja pemerintah dan program makan bergizi gratis (MBG), serta basis perbandingan yang lebih rendah pada kuartal II – kuartal III 2026.

Selain itu, valuasi sektor masih relatif menarik. Tercatat pada kuartal I – 2026, penjualan consumer staples tumbuh 5,9% yoy dan laba bersih agregat naik 1,3% yoy, mengindikasikan awal pemulihan konsumsi domestik.

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo melihat prospek sektor konsumer masih positif dalam jangka menengah, didukung oleh pertumbuhan konsumsi domestik, meningkatnya pendapatan masyarakat, serta stabilnya inflasi. Selain itu, karakter sektor konsumer yang defensif membuat permintaannya relatif lebih stabil dibanding sektor siklikal

Rupiah Tembus ke Rp 18.000 untuk Pertama Kali, Begini Pergerakannya di Pekan Ini

Beberapa sentimen utama yang perlu diperhatikan adalah pergerakan nilai tukar rupiah, tren harga bahan baku global, daya beli masyarakat, inflasi, serta perkembangan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK). 

“Investor juga perlu mencermati strategi pricing dari masing-masing emiten dan kemampuan mereka menjaga volume penjualan di tengah potensi kenaikan harga produk,” terang Azis. 

Brigita juga melihat risiko negatif yang perlu dicermati antara lain pergerakan rupiah terhadap dolar AS. Selain itu, tingginya harga minyak mentah Brent, risiko kenaikan harga crude palm oil (CPO), potensi penyesuaian harga bahan bakar subsidi (BBM) subsidi yang dapat menekan daya beli, dan kemampuan emiten melakukan pass-through kenaikan biaya ke harga jual juga perlu diperhatikan.

  CMRY Chart by TradingView  

Alhasil, Brigita merekomendasikan beli saham MYOR dengan target harga Rp 2.700 per saham.

Sedangkan Azis merekomendasikan wait and see atau buy on weakness saham PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) dengan syarat adanya rebound dengan target harga Rp 4.540 – Rp 4.550 dan suppport di level Rp 4.240 – Rp 4.200 per saham. 

Sementara Thoriq merekomendasikan buy on weakness saham CMRY dengan target harga Rp 4.600 per saham dengan stoploss di Rp 4.050 per saham. Serta trading buy saham ICBP dengan target harga Rp 6.900 per saham dan stoploss di Rp 6.200 per saham.