
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Rupiah kembali tertekan seiring penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya tensi geopolitik global dan ekspektasi suku bunga tinggi AS yang bertahan lebih lama.
Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (15/5/2026) pukul 12.09 WIB, rupiah spot ada di level Rp 17.593 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,37% dari sehari sebelumnya. Sedangkan indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang Utama dunia ada di 99,09, naik dari sehari sebelumnya yang ada di 98,81.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan dolar AS terjadi seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik, khususnya terkait memanasnya hubungan antara AS dan Iran.
Rupiah Spot Melemah 0,37% ke Rp 17.593 per Dolar AS Jumat (15/5) Siang
Menurut Ibrahim, ketegangan meningkat setelah Iran melakukan latihan militer besar-besaran di Selat Hormuz yang merupakan jalur penting perdagangan minyak dunia. Situasi tersebut mendorong kenaikan harga minyak mentah dan memicu permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS.
Selain itu, pasar juga mencermati dinamika hubungan geopolitik di Timur Tengah, termasuk dugaan peningkatan kerja sama antara Israel dengan sejumlah negara kawasan seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi.
Ketegangan semakin meningkat setelah insiden tenggelamnya kapal kargo di perairan Oman serta laporan penahanan sejumlah kapal oleh Iran usai latihan militernya di Selat Hormuz.
“Secara eksternal, kondisi geopolitik membuat dolar AS menguat, harga minyak naik, dan rupiah mengalami pelemahan,” ujar Ibrahim pada Jumat (15/5/2026).
Dari sisi kebijakan moneter AS, Ibrahim menilai kenaikan harga energi berpotensi mendorong inflasi AS tetap tinggi sehingga membuka peluang suku bunga acuan Federal Reserve bertahan di level tinggi lebih lama.
MSCI Umumkan Rebalancing Index Periode Mei, Begini Efeknya ke IHSG
Menurut dia, kondisi tersebut akan semakin menopang penguatan dolar AS, terlebih di tengah ketidakpastian perang dagang antara AS dan China.
Pasar juga menyoroti pertemuan Presiden AS, Donald Trump dengan Presiden China, Xi Jinping yang membahas isu perdagangan, Taiwan, hingga konflik Timur Tengah. Pernyataan China yang meminta AS tidak mencampuri isu Taiwan turut menambah ketidakpastian global.
Di dalam negeri, Ibrahim menilai tekanan terhadap rupiah semakin besar karena pasar domestik tengah libur panjang sehingga intervensi Bank Indonesia (BI) hanya dilakukan melalui pasar internasional.
Ia menyebut BI terus melakukan intervensi di pasar offshore untuk menahan pelemahan rupiah. Menurutnya, langkah tersebut terlihat dari pergerakan rupiah yang sempat menembus Rp 17.600 per dolar AS sebelum kembali bergerak di bawah level tersebut.
“Bank Indonesia benar-benar melakukan intervensi di pasar internasional untuk menjaga stabilitas rupiah,” kata Ibrahim.
Selain faktor eksternal, Ibrahim menilai tingginya kebutuhan impor minyak mentah untuk subsidi bahan bakar minyak (BBM) juga menjadi salah satu faktor yang menekan rupiah. Kenaikan harga minyak global dinilai meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor energi.
Nusatama (NTBK) Siap Rights Issue Rp 500 Miliar, Perkuat Bisnis EV Truck dan Akuisisi
Ibrahim bahkan memperkirakan rupiah berpotensi menembus Rp 18.000 per dolar AS dalam waktu dekat apabila tekanan global terus meningkat. Ia juga menambahkan jika Rp 18.000 per dolar AS tembus di bulan Mei, maka ada kemungkinan besar rupiah akan menembus level Rp 22.000 per dolar AS
Maka dari itu, terdapat kemungkinan BI menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan berikutnya guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Meski demikian, Ibrahim menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat, salah satunya tercermin dari dominasi investor domestik dalam kepemilikan obligasi pemerintah.