
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tekanan terhadap rupiah semakin terlihat sepanjang Mei 2026. Mata uang Garuda tidak hanya melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), tetapi juga terdepresiasi terhadap seluruh mata uang utama dunia seiring kombinasi sentimen global dan domestik yang membebani pasar keuangan Indonesia.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah mencatat pelemahan terhadap seluruh mata uang utama selama Mei. Dolar Australia (AUD) menjadi mata uang dengan penguatan terbesar terhadap rupiah, yakni 3,44% secara bulanan (month on month/MoM). Sejak awal tahun hingga akhir Mei 2026, penguatan AUD terhadap rupiah bahkan telah mencapai 13,76%.
Tekanan juga datang dari mata uang lainnya. Dolar Singapura (SGD) menguat 3,21% MoM dan 7,89% secara year to date (YtD). Yen Jepang (JPY) naik 3,27% MoM dan 5,40% YtD, sedangkan franc Swiss (CHF) menguat 3,78% MoM dan 8,43% YtD.
IPO Sepi dan Pasar Saham Masih Lesu, Bagaimana Arah Pergerakan ke Depan?
Di saat yang sama, dolar AS menguat 3,08% terhadap rupiah sepanjang Mei dan telah naik 7,20% sejak awal tahun. Bahkan, nilai tukar rupiah sempat menyentuh level terlemah sepanjang sejarah di Rp 17.881 per dolar AS pada Jumat (29/5).
Sementara itu, euro (EUR) menguat 2,66% MoM dan 6,29% YtD, poundsterling Inggris (GBP) naik 2,53% MoM dan 7,06% YtD, serta dolar Kanada (CAD) menguat 2,08% MoM dan 6,44% YtD.
Pengamat Pasar Modal Universitas Indonesia, Budi Frensidy, menilai pelemahan rupiah dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik yang terjadi secara bersamaan.
Menurutnya, penguatan dolar AS, tingginya imbal hasil obligasi AS (US Treasury) serta kenaikan harga energi global menjadi faktor dominan yang mendorong tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Kondisi tersebut diperparah oleh keluarnya dana asing dari aset-aset Indonesia. Sebagai negara net importir minyak, Indonesia juga menghadapi risiko tambahan ketika harga minyak dunia meningkat karena dapat memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi impor, beban subsidi energi, dan defisit transaksi berjalan.
“Dari domestik, tekanan bertambah karena sentimen pasar terhadap fiskal, stabilitas IHSG, rebalancing indeks global, dan persepsi risiko kebijakan,” ujar Budi kepada Kontan, Senin (1/6/2026).
Kinerja Indeks Kompas100 Terseok-Seok, Simak Prospeknya pada Masa Depan
Budi menjelaskan, dolar Australia menjadi mata uang dengan penguatan paling besar terhadap rupiah karena didukung sejumlah faktor fundamental. Selain kenaikan suku bunga Reserve Bank of Australia (RBA), AUD juga memperoleh dukungan dari tingginya harga komoditas dan ekspektasi bahwa ekonomi Australia akan diuntungkan oleh siklus komoditas global.
“Dolar Australia sering dianggap sebagai commodity currency. Ketika harga komoditas dan ekspektasi permintaan global membaik, AUD biasanya ikut menguat,” kata Budi.
Menurut Budi, tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut pada beberapa bulan mendatang, meski pergerakannya tidak selalu berlangsung secara linear.
Ia memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada kuartal III-2026 akan bergerak di kisaran Rp 17.300 hingga Rp 17.900 per dolar AS dalam skenario dasar (base case).
Namun, dalam skenario yang lebih buruk, rupiah berpotensi menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar AS apabila harga minyak melonjak tajam, arus keluar modal asing berlanjut, atau sentimen terhadap kondisi fiskal Indonesia memburuk.
Di tengah tekanan tersebut, Budi menilai Bank Indonesia masih memiliki ruang untuk meredam volatilitas pasar melalui kenaikan suku bunga, intervensi di pasar valas, maupun operasi moneter.
Meski demikian, ia mengingatkan efektivitas kebijakan BI sangat bergantung pada perkembangan faktor eksternal.
“Jika dolar AS, yield AS, dan harga minyak tetap tinggi, BI hanya bisa memperlambat pelemahan, bukan sepenuhnya membalikkan arah rupiah,” jelasnya.
Untuk investor yang ingin melakukan diversifikasi mata uang, Budi merekomendasikan dolar AS dan dolar Singapura sebagai pilihan utama.
Menurutnya, dolar AS tetap menjadi aset paling likuid dan defensif dalam menghadapi gejolak pasar global. Sementara dolar Singapura dinilai menarik karena relatif stabil dan sering menjadi representasi kekuatan ekonomi kawasan Asia.
Adapun dolar Australia dapat dipertimbangkan sebagai pilihan tambahan bagi investor yang memiliki toleransi risiko lebih tinggi dan meyakini tren kenaikan harga komoditas masih berlanjut.
“Untuk investor konservatif, kombinasi USD dan SGD masih menjadi pilihan paling masuk akal. Sedangkan investor yang lebih agresif dapat mempertimbangkan AUD secara terbatas,” kata Budi.