Simak proyeksi rupiah untuk hari ini (5/5), cek sentimen yang menyeretnya

Ifonti.com – JAKARTA. Nilai tukar rupiah diproyeksi masih dalam tekanan pada perdagangan hari ini (5/5/2026).

Sekedar mengingatkan, rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,33% secara harian ke Rp 17.394 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (4/5/2026). 

Berbeda, berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah menguat 0,05% ke level Rp 17.368 per dolar AS. 

Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, rupiah berbalik melemah cukup besar terhadap dolar AS setelah data – data ekonomi yang sangat mengecewakan. Walau neraca dagang Indonesia masih mencatatkan surplus, namun ekspor dan impor turun turun tajam.

Sedangkan inflasi secara tahunan juga menunjukkan penurunan yang terbilang besar dari 3,48% menjadi 2,42%, hal ini memberikan dilema bagi BI untuk arah kebijakan suku bunga ke depannya.

Jebakan Dividen Mengintai Investor, Cek Rekomendasi Saham dan Prospeknya

Dolar AS sendiri sebenarnya masih trendless, tekanan pada rupiah umumnya dari sentimen domestik. 

“Untuk besok (hari ini), investor akan kembali menghadapi data domestik penting yaitu produk domestik bruto (PDB) kuartal pertama. Investor juga tentunya tetap mencermati perkembangan seputar Timur Tengah dan harga minyak mentah dunia,” ujar Lukman kepada Kontan, Senin (4/5/2026). 

Lukman memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp 17.300 – Rp 17.450 per dolar AS pada hari ini (5/5/2026).

Sementara itu, analis Mata Uang Ibrahim Assuaibi bilang, pelemahan rupiah salah satunya karena kinerja sektor manufaktur yang masuk zona kontraksi.

Data Purchasing Managers’ Index (PMI) yang dirilis S&P Global hari ini, menunjukkan PMI Indonesia berada di 49,1 pada April 2026. Angka ini adalah yang terendah sejak Juli 2025 atau sembilan bulan terakhir. Angka ini sekaligus menandai kontraksi pertama PMI sejak Juli 2025 setelah delapan bulan ekspansi.

PMI mengalami kontraksi karena terjadi penurunan kondisi sektor manufaktur Indonesia pada awal kuartal II – 2026. Kontraksi ini didorong oleh penurunan berkelanjutan dalam volume produksi.

Penurunan tersebut terjadi selama dua bulan berturut-turut, dengan laju penurunan yang semakin cepat dibandingkan Maret dan menjadi yang tercepat sejak Mei tahun lalu. 

Cek Rekomendasi Saham Pilihan Hari Ini (5/5), IHSG Diproyeksi Melemah

“Aktivitas manufaktur Indonesia semakin tergerus dampak perang hingga mengalami kontraksi,” ucap Ibrahim, Senin (4/5/2026). 

Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah besok masih akan dipengaruhi eskalasi di Timur Tengah hingga sentimen kondisi perekonomian Indonesia. 

Ibrahim memproyeksikan, rupiah bergerak fluktuatif namun ditutup melemah dalam rentang Rp 17.390 – Rp 17.440 per dolar AS pada hari ini (5/5/2026).