Tantangan Psikologis Saat Saham Turun Tajam Adalah Terburu-buru Beli

Ifonti.com – JAKARTA. Kondisi pasar saham yang fluktuatif kerap menjadi tantangan tersendiri bagi investor ritel, terutama saat harga saham mengalami penurunan tajam. Dalam situasi seperti ini, keputusan investasi sering kali dipengaruhi emosi, bukan pertimbangan rasional.

Pengalaman tersebut dirasakan oleh Alfian Limardi, investor ritel yang mulai menjadi nasabah BNI Sekuritas sejak 2016. Ia mengaku pada awalnya lebih banyak menerapkan strategi investasi jangka panjang dengan harapan memperoleh dividen secara rutin.

“Saya dulu lebih ke investor jangka panjang. Beli saham, simpan, berharap dividen,” ujarnya dalam siaran pers, Kamis (4/6/2026).

WIKA Mulai Bangun RSUD Weda Rp 183 Miliar, Target Selesai Desember 2026

Namun, seiring berjalannya waktu dan meningkatnya pengalaman, Alfian mulai memahami bahwa tidak semua saham cocok untuk strategi buy and hold, terutama di tengah kondisi pasar yang tidak menentu.

Menurutnya, salah satu tantangan terbesar dalam berinvestasi saham adalah ketika harga turun tajam. Dalam situasi tersebut, investor kerap tergoda untuk langsung melakukan pembelian karena merasa harga sudah murah.

“Kadang kita gelap mata. Melihat turun langsung ingin beli,” katanya.

Ia menilai kondisi tersebut justru berisiko jika tidak disertai analisis yang matang. Dalam dunia trading, kondisi ini dikenal dengan istilah “menangkap pisau jatuh” atau membeli saham yang masih dalam tren penurunan tanpa konfirmasi perbaikan.

Untuk menghindari keputusan emosional, Alfian mulai mengikuti sesi live trading yang diselenggarakan oleh BNI Sekuritas, baik secara daring maupun luring. Melalui sesi tersebut, ia belajar menentukan level teknikal seperti support dan resistance, serta memahami kapan waktu yang lebih tepat untuk masuk atau keluar dari pasar.

“Sebagai trader, kami diajarkan menentukan batas atas dan bawah, termasuk kapan ambil profit atau cut loss,” jelasnya.

Selain itu, sesi edukasi tersebut juga menjadi ruang diskusi sebelum mengambil keputusan, termasuk mengevaluasi saham yang sudah dimiliki di portofolio.

Dalam aktivitas sehari-hari, Alfian juga memanfaatkan aplikasi BIONS untuk membantu memantau pergerakan harga dan membaca chart. Meski demikian, ia menegaskan bahwa teknologi hanya berfungsi sebagai alat bantu, sementara keputusan akhir tetap harus berdasarkan analisis dan pengelolaan risiko.

Bitcoin Jatuh ke US$64.000, Investor Beralih ke Altcoin yang Melejit hingga 228%!

Ia menilai, pendekatan belajar bersama melalui live trading membantu investor ritel lebih disiplin dan tidak mudah panik saat menghadapi volatilitas pasar.

“Trading bareng bikin lebih semangat, tapi juga lebih terkendali,” ujarnya.

Dengan kondisi pasar yang dinamis, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa keputusan investasi saat harga saham turun perlu dilakukan dengan tenang, terukur, dan tidak terburu-buru.