Tertekan sentimen global, begini proyeksi rupiah pada 2026

Ifonti.com – JAKARTA. Eskalasi perang Amerika Serikat (AS) – Israel dengan Iran telah menekan mata uang negara – negara di dunia, termasuk Indonesia. Kombinasi sentimen global dan faktor domestik diproyeksi menjadi penentu arah nilai tukar rupiah pada tahun 2026. 

Chief Economist BRI Danareksa Sekuritas, Helmy Kristanto mencatat konflik AS – Israel dengan Iran memasuki minggu keenam. Namun ketegangan tersebut terus menunjukkan tanda-tanda kemajuan yang tidak merata, dengan upaya de-eskalasi yang masih sangat rapuh.

Pada 7 April, Presiden AS Donald Trump mengumumkan penundaan dua minggu untuk serangan yang direncanakan terhadap Iran di bawah gencatan senjata dua sisi yang terkait dengan pembukaan kembali Selat Hormuz. Harga minyak mentah Brent sempat turun lebih dari 15% menuju US$ 90 per barel, tetapi kelegaan itu memudar setelah serangan Israel di Lebanon menyebabkan Iran menutup Selat lagi, melemahkan momentum diplomatik. 

Didukung Danantara Jadi Dirut BEI, Paket Oki Ramadhana Tancap Gas Gelar Ramah Tamah

Pada saat yang sama, negosiasi selama 21 jam di Islamabad, yang difasilitasi oleh Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan. Wakil Presiden AS JD Vance kemudian mengkonfirmasi bahwa pembicaraan telah terhenti setelah Iran menolak untuk berkomitmen menghentikan pengembangan nuklir, yang menggarisbawahi jalur yang tidak pasti saat ini menuju de-eskalasi. 

“Ketidakpastian ini telah menyebabkan volatilitas pasar yang lebih tajam dan terkonsentrasi di awal dibandingkan selama perang Rusia dan Ukraina pada tahun 2022,” ujar Helmy saat dikonfirmasi Kontan, Selasa (14/4/2026). 

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede Josua mengatakan, pelemahan rupiah yang terjadi sampai saat ini lahir dari gabungan faktor eksternal dan domestik. Dari sisi eksternal, perang di Timur Tengah mendorong penghindaran risiko global, menaikkan harga minyak, memperkuat dolar AS, dan membuat pasar keuangan dunia lebih gelisah.

Berdasarkan riset ekonomi Permata Bank juga menekankan bahwa ketidakpastian arah suku bunga global, perang dagang, dan perlambatan ekonomi Tiongkok ikut menambah tekanan pada arus modal dan nilai tukar negara berkembang. 

Adapun dari sisi domestik, pasar juga masih menimbang menyempitnya surplus perdagangan, proyeksi defisit transaksi berjalan, turunnya cadangan devisa menjadi US$ 148,2 miliar dolar AS per Maret 2026, serta sentimen terhadap kebijakan domestik dan fiskal. Tekanan itu diperberat oleh revisi prospek peringkat Indonesia menjadi negatif oleh Moody’s dan Fitch, yang membuat premi risiko Indonesia tetap tinggi.

“Karena itu, rupiah melemah bukan hanya karena perang, tetapi karena perang datang ketika fondasi eksternal dan persepsi risiko domestik memang sedang sensitif,” ucap Josua.

Kepala Riset NH Korindo Sekuritas, Ezaridho Ibnutama menyebut prospek negatif yang diberikan oleh lembaga pemeringkat kredit multinasional Moody’s dan Fitch telah menimbulkan kekhawatiran atas kurangnya kejelasan dampak dari program-program sosial pemerintahan saat ini sebagai langkah untuk pertumbuhan ekonomi yang agresif. 

Kebijakan B50 Jadi Sentimen Positif, Saham CPO Diproyeksi Menguat

Sementara itu, Kepala Riset OCBC Sekuritas, Budi Rustanto mengatakan bahwa Bank Indonesia (BI) menghadapi tantangan mendorong pertumbuhan ekonomi, menjaga keseimbangan eksternal, dan mengendalikan inflasi. Meskipun BI mempertahankan kisaran proyeksi inflasi tidak berubah pada 1,5% – 3,5% dan proyeksi current account deficit (CAD) tetap pada 0,1 – 0,9% dari Produk Domestik Bruto (PDB), tetapi BI memperingatkan bahwa periode harga minyak yang tinggi dalam jangka panjang dapat memberikan tekanan tambahan pada neraca transaksi berjalan ke depannya. Budi memperkirakan bahwa BI akan mempertahankan suku bunga sembari mencermati perkembangan global dan domestik. 

“Jadi bisa jadi sampai dengan akhir tahun tidak ada pemotongan suku bunga karena tekanan harga minyak,” ucap Budi. 

Josua menjelaskan terdapat beberapa sentimen yang perlu diawasi sampai akhir tahun untuk mencermati pergerakan rupiah. Pertama, keberlangsungan gencatan senjata dan normalisasi jalur energi di Selat Hormuz, karena ini akan langsung menentukan arah harga minyak. Kedua adalah arah inflasi dan suku bunga Amerika Serikat, sebab sampai sekarang pejabat Bank Sentral Amerika Serikat masih menilai perang dan harga energi menambah ketidakpastian inflasi. 

Ketiga adalah pergerakan dolar AS dan imbal hasil obligasi Amerika Serikat, karena dua variabel ini sangat menentukan tekanan ke mata uang negara berkembang. Keempat adalah arus modal asing ke pasar obligasi, saham, dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia. 

Kelima adalah cadangan devisa, surplus perdagangan, serta defisit transaksi berjalan Indonesia. Serta yang keenam adalah sentimen kebijakan domestik, termasuk kredibilitas fiskal, prospek peringkat utang, dan perkembangan isu pasar modal seperti MSCI. 

Analis PT Finex Bisnis Solusi Future, Brahmantya Himawan melihat ada risiko tambahan dari faktor domestik yakni potensi kemarau panjang akibat El Nino pada semester II-2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan pada tahun 2026 berpotensi mengalami kemarau cukup kering, terutama di wilayah pesisir Jawa. Jika hal ini berdampak ke produksi pangan atau energi, bisa menambah tekanan inflasi dan mempersempit ruang stabilisasi rupiah.

Kantongi Restu Pemegang Saham, Pembangunan Jaya Ancol (PJAA) Angkat Dirut Baru

“Semua faktor ini saling terhubung dan akan menentukan arah rupiah ke depan,” ujar Brahmantya.

Selain itu, Budi mengatakan, pergeseran kebijakan investasi dengan pembentukan Danantara perlu menunjukkan hasil nyata hingga tahun 2026 untuk meningkatkan kepercayaan investor dan bisnis. Faktor domestik ini bertepatan dengan meningkatnya risiko eksternal karena pengembalian dari peningkatan ekspor ke AS kemungkinan akan menjadi lebih jelas pada kuartal kedua dan ketiga tahun 2026.  

Josua memperkirakan dalam skenario dasar, rupiah sampai akhir tahun berpeluang ditutup di kisaran Rp 16.900 sampai Rp 17.000 per dolar AS. Brahmantya melihat rupiah sampai akhir tahun 2026 berpotensi bergerak di kisaran Rp 17.100 – Rp 17.600 per dolar AS. Jika kondisi global membaik dan tekanan energi mereda, rupiah bisa kembali di bawah Rp 17.000 per dolar AS. Tapi jika risiko geopolitik meningkat kembali, rupiah masih berpotensi melemah lebih lanjut.  

Budi memproyeksikan rupiah pada tahun 2026 di level Rp 16.830 per dolar AS. Sementara Ezaridho memperkirakan USD/IDR dengan target akhir tahun di Rp 17.250 – Rp 17.350 karena ketidakpastian geopolitik eksternal yang menyebabkan kurangnya kepercayaan terhadap Indonesia.