
Ifonti.com , JAKARTA — Kinerja reksa dana sepanjang awal 2026 menunjukkan jurang performa antar jenis produk. Reksa dana saham tampil sebagai bintang utama dengan lonjakan return paling tinggi, sementara instrumen berbasis obligasi dan pasar uang bergerak jauh lebih terbatas.
Data Infovesta Utama mencatat indeks reksa dana saham menjadi yang paling unggul secara year-to-date. Infovesta Equity Fund Index naik 3,65% sejak awal tahun, disusul Infovesta Balanced Fund Index yang menguat 2,33%.
Sebaliknya, kinerja produk defensif cenderung tertahan. Infovesta Money Market Fund Index hanya naik 0,5%, sedangkan Infovesta Fixed Income Fund Index stagnan.
: Investasi Reksa Dana, Strategi Diversifikasi Jadi Kunci
Dalam periode sepekan terakhir, pola yang sama juga terlihat. Reksa dana saham mencatatkan return tertinggi sebesar 3,71%, diikuti reksa dana campuran 2,28%, dan reksa dana pendapatan tetap 0,20%.
Tim Riset Infovesta menyebut kinerja positif reksa dana saham tak lepas dari penguatan IHSG dalam sepekan terakhir yang bergerak bullish sebesar 3,49% ke level 8.212,27.
: : IHSG Volatil, Diversifikasi Reksa Dana Dinilai Krusial
“Dipicu oleh menguatnya saham big caps dan indeks sektoral,” tulis riset tersebut dikutip, Rabu (18/2/2026).
Di sisi lain, pasar obligasi justru melemah tipis. Infovesta Government Bond Index turun 0,08% ke level 11.306,40, sementara yield SBN tenor 10 tahun turun 1,68 bps menjadi 6,40%.
: : Menakar Efek Domino Gejolak Pasar Obligasi ke Reksa Dana Pendapatan Tetap
Dalam waktu dekat, arah kinerja reksa dana masih akan dipengaruhi sejumlah sentimen. Pasar menunggu rilis data domestik seperti kebijakan suku bunga dan pertumbuhan kredit, serta agenda global dari Federal Open Market Committee.
Dari faktor domestik, kebijakan sektor komoditas juga menjadi perhatian. Kementerian ESDM berencana memangkas produksi batu bara 2026 ke atas 600 juta ton serta menurunkan kuota produksi bijih nikel dalam RKAB 2026 menjadi 260–270 juta ton, lebih rendah 29%–31% dibandingkan tahun sebelumnya.
Sentimen tersebut dinilai dapat membatasi penguatan pasar saham karena pengurangan produksi komoditas strategis.
Dalam kondisi saat ini, investor masih dapat memanfaatkan buy on weakness pada saham big cap dengan valuasi undervalued. Sedangkan pada obligasi, tren bearish masih akan terjadi secara terbatas karena pasar cenderung wait and see jelang FOMC pada pekan ini.
Daftar kinerja reksa dana dengan return tertinggi YtD:
Reksa Dana Saham
- Cipta Saham Unggulan Syariah 12,34%
- Succorinvest Soe Plus Equity Fund 11,97%
- Reksa Dana Treasure Saham Mantap 8,05%
- Sucorinvest Maxi Fund 7,28%
- Cipta Saham Unggulan 7,22%
Reksa Dana Campuran
- Star Balanced 8,04%
- Lif Balanced Optima 6,17%
- Pacific Balance Syariah 5,52%
- I AM BUMN Balanced Plus Fund 3,91%
- Panin Dana Unggulan 3,74%
Reksa Dana Pasar Uang
- Juara Money Market Fund 0,74%
- MNC Dana Lancar 0,70%
- MC Dana Syariah Barokah 0,68%
- Insight Money 0,65%
- Recapital Money Market Liquid 0,64%
Reksa Dana Pendapatan Tetap
- MNC Dana Syariah 1,08%
- Setiabudi Dana Obligasi Plus 0,99%
- MNC Dana Likuid 0,96%
- Sucorinvest Stable Fund 0,88%
- Semesta Dana Obligasi 0,85%
_______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual reksa dana. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.