Dividen dan prospek emiten jadi motor pendorong reksa dana saham

Ifonti.com JAKARTA — Sentimen positif kinerja reksa dana saham berpotensi muncul dari pembagian dividen serta peluang perbaikan kinerja emiten ke-depan sepanjang 2026.

Direktur Panin Asset Management Rudiyanto menilai prospek reksa dana saham masih terbuka meskipun IHSG sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa. Investor dengan profil risiko masing-masing masih akan masuk ke dalam instrumen investasi kolektif ini.

Saat ini, pergerakan pasar saham dinilai masih didominasi oleh saham non-blue chip, sedangkan saham-saham blue chip relatif tertinggal. 

“Namun demikian, sentimen positif berpotensi muncul dari pembagian dividen serta peluang perbaikan kinerja emiten ke depan, yang diharapkan dapat menopang kinerja reksa dana saham sepanjang 2026,” terangnya, Jumat (23/1/2026).

: IHSG Sentuh ATH, Reksa Dana Saham Dinilai Masih Punya Peluang Tumbuh 2026

Dari sisi pengembangan produk, dia mengatakan pihaknya secara rutin akan menerbitkan reksa dana terproteksi, sepanjang terdapat aset dasar yang sesuai dengan kebijakan investasi dan kondisi pasar.

Sementara itu, dari sisi kinerja bisnis, total dana kelolaan (asset under management/AUM) Panin Asset Management per Desember 2025 tercatat sebesar Rp14,3 triliun. Pada 2026, Rudiyanto menargetkan pertumbuhan AUM hingga mencapai Rp17 triliun, seiring dengan strategi pengelolaan portofolio yang adaptif dan upaya menjaga kepercayaan investor.

Memasuki awal 2026 dia memilih menerapkan strategi pengelolaan portofolio yang fleksibel dan dinamis, seiring dengan perkembangan kondisi pasar yang terus berubah. Dia menegaskan tidak mengunci portofolio pada sektor tertentu, melainkan menyesuaikan komposisi investasi dengan dinamika pasar dan peluang yang muncul.

Sejumlah saham di sektor energi dan komoditas tercatat memiliki kinerja yang cukup baik. Selain itu, saham-saham lapis kedua atau second liner yang sebelumnya cenderung kurang diperhatikan mulai menunjukkan kenaikan, sehingga turut menjadi perhatian dalam strategi investasi tahun ini. Meski demikian, dia tidak mengunggulkan jenis reksa dana tertentu.

Dia menyarankan agar pemilihan produk tetap disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor. Dengan pendekatan tersebut, dia berharap investor dapat memperoleh hasil yang optimal sesuai dengan tujuan investasinya.

Sebelumnya, Vice President Infovesta Wawan Hendrayana mengatakan kinerja rata-rata reksa dana saham diproyeksikan masih berada di kisaran pertumbuhan 7%–9%, dimotori sektor energi dan komoditas. Namun demikian pertumbuhan ini tidak akan setinggi capaian tahun sebelumnya.

Wawan menyebut pada tahun ini, mayoritas manajer investasi akan meracik portofolio agar tidak tertinggal dari IHSG.  Oleh karena itu, saham-saham konglomerasi akan mulai mengisi portofolio reksa dana, terutama yang masuk indeks besar luar negeri seperti MSCI, FTSE atau GDX.

“Kinerja [reksa dana saham] masih bisa diharapkan positif meski tidak setinggi tahun lalu. Kinerja akan berada rata-rata di 7% – 9 %,” ujarnya, Senin (19/1/2026).

Seiring dengan proyeksi pertumbuhan reksa dana saham, dana kelolaan juga berpotensi menembus Rp90 triliun – Rp100 triliun.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.