Harga emas melonjak, saham PSAB & MDKA cs justru catat net buy asing saat IHSG ambrol

Ifonti.com , JAKARTA – Harga emas global melejit ke US$5.245 per oz pada perdagangan Rabu (28/1), sejalan dengan investor yang mengalihkan investasinya ke aset safe haven ini di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Selain itu, beberapa saham-saham emiten emas di Indonesia justru mencatat net buy asing di tengah capital outflow yang melanda pasar domestik.

Pada penutupan pasar Rabu (28/1) indeks harga saham gabungan (IHSG) terkoreksi 7,35%, tertekan sentimen pembekuan rebalancing MSCI.

: Harga Buyback Emas Antam Naik Rp105.000 dalam Sehari

Bersamaan dengan lesunya indeks komposit, tercatat net sell asing sebesar Rp6,17 triliun.

Capaian transaksi ini langsung membalikkan kinerja pasar sejak awal tahun menjadi net sell sebesar Rp3,71 triliun, dibandingkan pada penutupan Selasa (27/1) kala pasar saham RI masih menorehkan net buy asing sebesar Rp2,45 triliun year to date (YtD).

: : Saham ANTM, AMMN, BRMS Cs Dibanting MSCI Meski Harga Emas Rekor US$5.200

Ketika pasar dilanda aksi jual asing, saham-saham emiten emas menunjukkan catatan yang berbeda. Sebagian ada yang masuk daftar teratas saham yang menorehkan net sell asing terbesar di pasar reguler. Sebaliknya, ada pula yang justru mencatatkan net buy asing. 

Persamaan saham-saham yang masih dilirik asing ini adalah emiten emas yang memiliki portofolio di lingkup eksplorasi. Pertama, ada PT J Resources Asia Pasifik Tbk. (PSAB) yang menorehkan net buy asing di pasar reguler sebesar Rp8,70 miliar, meski harga sahamnya ditutup turun 4% ke Rp600.

: : Harga Melambung, Warga di Surabaya Rela Buru Emas Batangan sejak Pagi Hari

Kedua, ada PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) dengan net buy asing di pasar reguler Rp204 miliar. Harga MDKA pada penutupan pasar bahkan naik 0,93% ke Rp3.240

Ketiga, ada PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) dengan catatan net buy asing di pasar reguler Rp34,78 miliar. Saham emiten afiliasi Prajogo Pangestu ini ditutup koreksi 12,36% ke Rp1.560

Keempat, ada saham PT Indika Energy Tbk. (INDY) dengan net buy asing di pasar reguler sebesar Rp56,29 miliar. Sejalan dengan neraca transaksi asing yang positif, harga INDY di akhir perdagangan naik 1,21% ke Rp3.350.

Kelima, ada saham PT United Tractors Tbk. (UNTR) dengan net buy asing di pasar reguler mencapai Rp28,60 miliar. Harga saham UNTR turun 2,82% ke Rp24.950 di akhir sesi perdagangan Rabu (28/1).

Di sisi lain, sejumlah saham emiten emas masuk ke dalam daftar saham net sell asing terbesar pada perdagangan Rabu (28/1). Mereka adalah PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) dengan net sell asing di pasar reguler Rp314,32 miliar, PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) mencatat net sell asing Rp108,50 miliar, PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) mencatat net sell asing Rp94,44 miliar.

Selanjutnya, PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) dengan net sell asing di pasar reguler Rp44,28 miliar, PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI) dengan net sell asing mencapai Rp42,21 miliar, serta PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA) yang mencatat net sell asing sebesar Rp7,43 miliar.

12 Emiten Emas 

Melansir laporan Stockbit Sekuritas, saat ini terdapat 12 emiten yang memiliki bisnis emas dengan segmen industri yang beragam. Emiten dengan rantai industri paling lengkap adalah ANTM dan ARCI yang memiliki segmen eksplorasi, penambangan, pemurnian sampai fabrikasi.

Menilik segmen saham-saham emiten emas yang masih diburu asing saat IHSG lesu, PSAB, MDKA, dan UNTR memiliki portofolio di segmen eksplorasi dan penambangan. Sedangkan, CUAN dan INDY hanya mempunyai portofolio bisnis di segmen eksplorasi.

Stockbit Sekuritas juga membedah, secara umum emiten–emiten di industri emas dapat dibagi ke dalam 2 kategori model bisnis, yakni pertambangan emas dan perdagangan emas. Model bisnis pertambangan emas berfokus pada eksplorasi dan proses penambangan emas untuk menghasilkan bijih emas (gold ore) dan doré (batangan emas dengan kandungan 10–30% emas). 

Sementara itu, perusahaan perdagangan emas berfokus pada pemurnian (refinery) dan pabrikasi emas menjadi produk akhir seperti emas batangan (minted bar) dan perhiasan, kemudian didistribusikan dan dijual melalui toko ritel. 

“Secara umum, profitabilitas perusahaan pertambangan emas cenderung dipengaruhi oleh pergerakan harga emas, sementara profitabilitas perusahaan perdagangan emas lebih bergantung kepada volume penjualan karena keuntungannya berasal dari spread jual–beli,” tulis Stockbit Sekuritas, dikutip Kamis (29/1/2026).

Dalam riset terpisah, Stockbit Sekuritas melihat harga emas sepanjang tahun ini diprediksi akan terus melonjak. Lonjakan yang terjadi hingga hari ini utamanya didorong oleh debasement trade, seiring dengan investor yang menjauhi mata uang dan obligasi pemerintah AS.

Penguatan harga emas tersebut juga didorong kekhawatiran investor terhadap kebijakan kontroversial Presiden Donald Trump belakangan ini, termasuk ancaman terhadap independensi The Fed, wacana pencaplokan Greenland, dan intervensi militer di Venezuela. 

Masih berkutat di Amerika Serikat, Turmp pada pekan lalu mengklaim sudah mewawancarai kandidat Ketua The Fed pengganti Jerome Powell dan telah memiliki pilihan. Pemilihan ketua The Fed yang dovish akan memperbesar ekspektasi penurunan suku bunga lebih lanjut tahun ini yang cenderung berpotensi berdampak positif bagi emas.

Riset tersebut juga memaparkan, Goldman Sachs pada Rabu (21/1) telah menaikkan proyeksi harga emas dari US$4.900 per oz menjadi US$5.400 per oz di akhir 2026 nanti. Proyeksi itu didasarkan oleh berlanjutnya diversifikasi aset sektor swasta dan bank sentral negara berkembang ke emas. 

“Goldman Sachs memproyeksikan bank sentral di seluruh dunia akan membeli rata–rata sekitar 60 ton per bulan selama 2026 seiring tren bank sentral negara berkembang yang diperkirakan terus melakukan diversifikasi cadangan ke emas,” tandasnya.