Harga buyback emas Antam terpaut Rp509.000 dari rekor ATH

Bisnis.com, JAKARTA – Harga buyback emas Antam makin terpaut jauh dari rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) setelah koreksi yang terjadi selama libur Lebaran 2026.

Berdasarkan data Logam Mulia, harga buyback emas Antam dibanderol Rp2.480.000 pada Selasa (24/3/2026) atau akhir periode libur Lebaran 2026. Dalam sepekan terakhir, pergerakan harga acuan pembelian kembali oleh PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) itu turun Rp268.000.

Koreksi yang terjadi sepekan terakhir membuat harga buyback emas Antam terpaut Rp509.000 dari rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH). Terakhir, harga buyback memecahkan rekor baru di Rp2.989.000 pada 29 Januari 2026.

Buyback emas merupakan transaksi menjual kembali emas, baik dalam bentuk logam mulia, logam batangan, maupun perhiasan. Biasanya, harga yang dibanderol lebih rendah dari harga jual saat itu.

Kendati demikian, buyback emas masih bisa mendatangkan keuntungan apabila terdapat selisih besar antara harga jual dan harga buyback.

Sesuai dengan PMK No 34/PMK.10/2017, penjualan kembali emas batangan ke Antam dengan nominal lebih dari Rp10 juta, dikenakan PPh 22 sebesar 1,5 persen untuk pemegang NPWP dan 3 persen untuk non NPWP). Adapun, PPh 22 atas transaksi buyback dipotong langsung dari total nilai buyback.

: : Harga Emas Berpotensi Kian Anjlok Akibat Gejolak Timur Tengah

Adapun, harga buyback emas Antam bergerak mengikuti harga emas di pasar spot.

Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa (24/3/2026), harga emas di pasar spot turun 1,5% menjadi US$4.340,80 per troy ounce. Harga emas sempat naik hampir 1% pada awal perdagangan sebelum berbalik melemah hingga 1,8% dalam sesi yang sangat fluktuatif.

: : Harga Emas Melemah, Pasar Cermati Beda Klaim AS dan Iran soal Konflik

Pergerakan emas banyak mengikuti dinamika pasar saham serta hubungan terbalik dengan harga minyak.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengumumkan penundaan selama lima hari terhadap serangan yang diancamkan ke pembangkit listrik Iran dan menyebut telah terjadi diskusi produktif. 

Namun, pejabat Iran menegaskan tidak ada pembicaraan dengan Washington, sementara laporan The Wall Street Journal menyebut sekutu AS di Teluk Persia berpotensi ikut terlibat dalam konflik.

Lonjakan harga energi akibat perang meningkatkan risiko inflasi dan mendorong investor melepas sebagian posisi emas yang relatif likuid dan menguntungkan untuk dialihkan ke aset lain. Pada sesi sebelumnya, harga emas juga turun hampir 2% dan memperpanjang tren pelemahan selama sembilan hari berturut-turut—penurunan kesepuluh akan menjadi yang terpanjang dalam sejarah.

Meski Trump mengumumkan jeda serangan, ketidakpastian tetap membayangi hasil negosiasi maupun kelancaran pelayaran di Selat Hormuz. Selain itu, kerusakan pada infrastruktur energi diperkirakan membutuhkan waktu lama untuk diperbaiki.

Kondisi tersebut membuat risiko inflasi tetap tinggi sekaligus memicu ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve dan bank sentral lain, yang biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas karena tidak memberikan imbal hasil.

Kepala Riset Komoditas Global di Standard Chartered, Suki Cooper, mengatakan koreksi harga emas saat ini tergolong lebih dalam dari biasanya. Menurutnya, tekanan harga selama empat hingga enam minggu setelah krisis besar bukanlah hal yang tidak lazim karena emas sering dijual sebagai aset likuid ketika investor membutuhkan dana.

Dinamika serupa terjadi setelah Invasi Rusia ke Ukraina 2022, ketika lonjakan awal harga emas sebagai aset safe haven diikuti penurunan selama beberapa bulan akibat lonjakan harga energi yang memperkuat tekanan inflasi global.

Kepala Strategi Valas Global di Union Bancaire Privée, Peter Kinsella, mengatakan pada masa krisis besar investor biasanya menjual aset yang berkinerja baik untuk menutup margin call dari aset lain yang merugi, seperti saham atau obligasi.

Menurutnya, pola tersebut juga terlihat pada 2022 maupun saat krisis keuangan global 2008. 

“Pergerakan harga jangka pendek lebih dipengaruhi oleh posisi pasar, sementara faktor fundamental jangka panjang belum berubah,” ujarnya.

Secara keseluruhan, harga emas telah turun hampir 17% sejak perang dimulai pada akhir Februari hingga penutupan perdagangan Senin. Sebelumnya, logam mulia ini sempat mengalami reli panjang yang didorong oleh ketegangan geopolitik, konflik perdagangan, serta pembelian besar-besaran oleh bank sentral.

Namun, sejumlah negara yang aktif menambah cadangan emas merupakan importir energi. Kenaikan tajam tagihan impor minyak dan gas akibat perang membuat dana yang tersedia untuk membeli emas menjadi lebih terbatas.