
Ifonti.com JAKARTA — Bank Dunia (World Bank) telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi ke level 4,7% pada 2026. Namun, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) tetap optimistis ekonomi Indonesia bisa tumbuh 5,5%.
Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu Febrio Nathan Kacaribu mengatakan berkaca pada proyeksi sebelumnya, Bank Dunia selalu memberikan estimasi yang jauh dari target pemerintah. Pada 2025, World Bank memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 4,8%. Sementara realisasinya, ekonomi Indonesia pada 2025 tumbuh 5,11%.
“Jadi enggak apa-apa, ini kita senang bahwa World Bank dan investor-investor yang lain itu ingin sekali memantau perekonomian Indonesia dan kita bisa deliver dan itu menjadi kabar baik bagi investor,” kata Febrio di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah RI (Bakom RI) pada Kamis (9/4/2026).
: Bank Dunia Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Jadi 4,7% pada 2026
Menurutnya, meskipun proyeksi Bank Dunia di bawah target pemerintah, bahkan Bank Dunia memangkas proyeksinya itu, namun Kemenkeu optimistis target pertumbuhan ekonomi bisa tercapai.
Optimisme Kemenkeu itu didasarkan atas sejumlah faktor. Menurutnya, sekitar 50% pertumbuhan ekonomi berasal dari konsumsi. Lalu, 8%-9% dari belanja pemerintah. Kemudian, sekitar 30% berasal dari investasi. Selain itu, sekitar 25% berasal dari ekspor.
: : Pertumbuhan Ekonomi Kaltim 2025 Melambat jadi 4,53%, Bank Indonesia Ungkap Penyebabnya
Apabila menilik berbagai sektor, menurutnya yang paling menarik adalah sektor pertanian. Sektor tersebut berkontribusi terhadap 13% pertumbuhan ekonomi. Jika tahun-tahun sebelumnya sektor pertanian hanya tumbuh di bawah 2%, maka pada 2025 sektor pertanian tumbuh di atas 5%. Lalu, sektor tanaman pangan tumbuh di atas 9%.
“Jumlah tenaga kerja yang kerja di sektor pertanian itu sekitar 40 juta. Nah jadi sektor yang sangat penting. Selama ini tumbuhnya lambat,” kata Febrio.
: : Turun! OECD Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Jadi 4,8% pada 2026
Menurutnya, terjadi perubahan struktur perekonomian Indonesia. Kemudian, perubahan menuju penguatan sektor pertanian ini juga akan berlanjut pada 2026. Hal ini juga sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto dalam upaya penguatan belanja sektor pertanian.
“Panen langsung naik. Untuk beras itu di atas 13-14% pertumbuhannya tahun lalu. Lalu MBG [makan bergizi gratis] itu permintaan terhadap produk pertanian itu meningkat tinggi sekali,” ujar Febrio.
Faktor yang bisa menggenjot pertumbuhan ekonomi lainnya ada di sektor manufaktur. Pada 2025, sektor ini tumbuh 5,4%, lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya yang ada di bawah 5%.
“Nah ini artinya perekonomian kita memang sangat dinamis. Dan kita terus akan melanjutkan ini untuk tahun 2026,” ujar Febrio.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I, kuartal II 2026, dan seterusnya menurut Febrio akan banyak ditentukan oleh belanja negara yang dieksekusi dengan sangat cepat. Dia memberi contoh bahwa pada kuartal I/2025 belanja negara hanya sekitar Rp600an triliun. Kemudian, pada kuartal I/2026, belanja negara melonjak menjadi Rp815 triliun.
“Ini [belanja negara] pertumbuhan 30%. Nah ini pasti langsung akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi untuk kuartal I/2026. Makanya yakin 5,5% [pertumbuhan ekonomi] akan tetap,” ujar Febrio.
Akan tetapi, menurutnya memang terdapat tantangan pertumbuhan ekonomi tahun ini. Ekonomi Tanah Air tiba-tiba dihadapkan pada harga minyak mentah yang tinggi.
“Tetapi defisitnya kita jaga, belanja kita jaga, daya beli masyarakat kita jaga. Supaya pertumbuhan ekonomi akan tetap berlanjut,” tutur Febrio.
Sebelumnya, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat ke level 4,7% pada 2026. Proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan dengan estimasi Bank Dunia pada Oktober 2025 lalu, yang mematok laju produk domestik bruto (PDB) RI di angka 4,8% pada tahun ini.
Berdasarkan laporan terbaru East Asia & Pacific Economic Update edisi April 2026, pemangkasan proyeksi pertumbuhan Indonesia ini sejalan dengan tren perlambatan ekonomi secara regional di kawasan Asia Timur dan Pasifik (EAP) di luar China yang diproyeksi mencapai 4,1% pada 2026, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya di angka 4,4%.
Bank Dunia mencatat bahwa perlambatan kawasan ini utamanya ditekan oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengerek harga energi global. Indonesia pun akan ikut terdampak.
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan melambat ke level 4,7%, lantaran tekanan dari tingginya harga minyak dan sentimen penghindaran risiko [risk-off] hanya akan diimbangi sebagian oleh penerimaan komoditas dan inisiatif investasi yang digerakkan oleh negara,” tulis laporan Bank Dunia tersebut, dikutip Rabu (8/4/2026).