
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan pada perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terdepresiasi ke level Rp 17.427 per dolar Amerika Serikat (AS), bahkan sempat menyentuh Rp 17.435 per dolar AS pada pukul 10.15 WIB.
Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek seiring meningkatnya ketidakpastian global dan tekanan dari dalam negeri.
“Target saya dalam minggu ini adalah di Rp 17.550 per dolar AS. Kemungkinan besar akan tercapai,” ujar Ibrahim, Selasa (5/5/2026).
Tekanan Belum Reda, Rupiah Tergelincir ke Level Rp 17.429 per Dolar AS
Ia menjelaskan, tekanan terhadap rupiah terutama berasal dari memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur yang mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.
Sehingga, meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain itu, kenaikan harga minyak berpotensi memicu inflasi global yang lebih tinggi. Hal ini membuka peluang bank sentral, termasuk The Fed, untuk kembali menaikkan suku bunga.
Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh tingginya kebutuhan dolar AS untuk impor energi.
Indonesia tercatat masih mengimpor minyak dalam jumlah besar, sehingga kenaikan harga minyak meningkatkan permintaan valas.
Di saat yang sama, kebutuhan dolar juga meningkat pada kuartal II seiring pembagian dividen oleh perusahaan-perusahaan yang tercatat di bursa.
Ibrahim juga menyoroti cadangan devisa Indonesia yang mengalami penyusutan akibat intervensi Bank Indonesia di pasar valuta asing dan pembelian surat utang negara.
Cermati Rekomendasi Saham Emiten Grup Indofood Usai Rilis Kinerja Kuartal I-2026
Di sisi lain, data manufaktur Indonesia menunjukkan pelemahan. Purchasing Managers Index (PMI) yang berada di bawah level 50 mengindikasikan kontraksi sektor manufaktur, seiring mahalnya bahan baku impor.
“Kita melihat sudah di bawah 50, ini mengindikasikan bahwa impor-impor barang dari luar negeri mengalami tekanan karena harganya mahal kemudian barangnya tidak ada sehingga membuat manufaktur di Indonesia mengalami penurunan,” kata Ibrahim.
Kenaikan harga minyak juga dinilai berisiko memperlebar defisit anggaran pemerintah, yang diperkirakan mendekati batas 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Lebih lanjut, pelemahan rupiah dan kenaikan harga komoditas impor mulai berdampak pada masyarakat melalui kenaikan harga barang.
“Kita melihat bahwa hari ini harga-harga semua mengalami kenaikan yang cukup signifikan, mulai dari barang impor, elektronik, hingga bahan pangan,” ujar Ibrahim.