Alasan Sekuritas Tetap Optimistis Terhadap Saham Adaro Andalan (AADI)

JAKARTA – Phintraco Sekuritas menyematkan rekomendasi optimistis terhadap saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI), mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp10.200. Analisis ini hadir di tengah kinerja harga saham AADI yang masih dalam tren koreksi, meskipun potensi jangka panjang perusahaan dinilai menjanjikan.

Lisya Anxellin, seorang analis riset dari Phintraco Sekuritas, menjelaskan bahwa pandangan positif terhadap AADI didasarkan pada diversifikasi pasar ekspornya yang luas di Asia Tenggara. Selain itu, potensi perusahaan untuk merambah produk-produk bernilai tambah dari batu bara, seperti Dimetil Eter (DME), menjadi pendorong utama optimisme ini. Aspek-aspek tersebut menandakan adanya peluang pertumbuhan signifikan bagi perusahaan publik yang bergerak di sektor pertambangan batu bara, logistik dan transportasi, pengelolaan lahan, serta layanan air.

Target harga saham AADI sebesar Rp10.200 dihitung menggunakan metode valuasi Sum-of-the-Parts (SOTP). Dengan tingkat pengembalian yang disyaratkan sebesar 13,38% dan tingkat pertumbuhan terminal sebesar 1,46%, valuasi ini mencerminkan nilai wajar yang diperkirakan oleh Phintraco Sekuritas, sebagaimana tertulis dalam riset yang dirilis pada Senin, 25 Agustus 2025.

Namun, di tengah rekomendasi beli yang optimistis, pergerakan harga saham Adaro Andalan menunjukkan tren yang kurang menguntungkan. Pada perdagangan Jumat, 29 Agustus 2025, harga saham AADI melemah 1,08% menjadi Rp6.900. Penurunan ini konsisten dengan koreksi yang terjadi dalam beberapa periode terakhir, yakni turun 1,78% dalam sebulan, 4,50% dalam tiga bulan terakhir, dan telah anjlok sekitar 18,58% secara year-to-date (YtD).

Kendati demikian, Phintraco Sekuritas turut mengingatkan para investor mengenai sejumlah risiko yang dapat memengaruhi kinerja AADI. Risiko-risiko tersebut meliputi potensi melemahnya harga batu bara global, kelebihan pasokan di pasar internasional, serta kemungkinan penerapan kebijakan bea ekspor yang dapat menekan profitabilitas perusahaan.

Sejalan dengan dinamika pasar, emiten batu bara yang terafiliasi dengan Garibaldi Thohir ini baru saja melaporkan kinerja keuangan untuk semester I/2025. Laporan tersebut menunjukkan adanya penurunan laba bersih yang signifikan, seiring dengan pendapatan usaha yang juga menyusut.

Sepanjang periode Januari hingga Juni 2025, AADI mencatat pendapatan usaha sebesar US$2,39 miliar, turun 9,67% dibandingkan US$2,65 miliar pada semester I/2024. Penurunan yang lebih drastis terlihat pada bottom line, di mana laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar US$428,68 juta. Angka ini anjlok 50,09% secara year-on-year dari US$858,92 juta pada semester I/2024.

Dengan asumsi kurs Rp16.129 per dolar AS, sesuai laporan keuangan per 30 Juni 2025, laba bersih AADI setara dengan Rp6,91 triliun. Informasi lebih lanjut mengenai laporan keuangan dapat ditemukan pada artikel terkait berikut:

Adaro Andalan (AADI) Cetak Laba Rp6,91 Triliun, Anjlok 50% Semester I/2025

Kinerja pasar dan potensi pertumbuhan AADI tetap menjadi sorotan, terutama setelah perusahaan ini bersama beberapa emiten konglomerat lain berhasil masuk ke dalam indeks MSCI. Pembaca dapat menelusuri detailnya melalui tautan di bawah ini:

Adu Kinerja Emiten Konglomerat (CUAN, AADI, RATU) Paling Kilat Masuk Indeks MSCI

Belum Setahun IPO, BEI Apresiasi Saham RATU dan AADI Masuk MSCI