BI: Pemanfaatan KLM baru 4,83%, masih ada ruang tekan bunga kredit

Ifonti.com , JAKARTA — Bank Indonesia (BI) mencatat pemanfaatan Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) telah mencapai Rp427,5 triliun. Namun, bank sentral menilai masih terdapat ruang tambahan yang bisa dimanfaatkan perbankan untuk mempercepat penurunan suku bunga kredit.

Deputi Gubernur Senior BI Destri Damayanti mengemukakan pemanfaatan KLM saat ini baru mencapai 4,83% dari Dana Pihak Ketiga (DPK), sementara batas insentif yang tersedia mencapai 5,5%.

“Artinya masih ada sekitar 0,7% yang bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan insentif ini,” ujar Destri dalam Konferensi Pers Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, dikutip Minggu (22/2/2026). 

: BI Klaim Skema Baru KLM Percepat Penurunan Suku Bunga Kredit

Dari total realisasi KLM, sebesar Rp357,9 triliun terserap melalui lending channel, yakni insentif bagi bank yang memperluas kredit ke sektor prioritas seperti padat karya, hilirisasi, dan perumahan.

Adapun Rp69,6 triliun lainnya berasal dari interest channel, skema baru yang memberikan insentif kepada bank yang secara konsisten menurunkan suku bunga kredit.

: : BI Gelontorkan Insentif KLM Rp427,5 Triliun, Bank BUMN Serap Paling Banyak

BI mencatat suku bunga kredit eksisting memang turun sekitar 40 basis poin. Namun untuk kredit baru, penurunannya sudah mencapai 75 basis poin, lebih cepat dibandingkan penurunan BI rate sebesar 125 basis poin sejak 2025.

Menurut Destri, optimalisasi interest channel menjadi strategi terbaru BI untuk mempercepat transmisi kebijakan moneter ke sektor riil, sekaligus menjaga momentum pertumbuhan kredit.

: : Perjanjian Dagang RI-AS: Indonesia Tak Wajibkan Data Pembayaran Diproses di Dalam Negeri

Ke depan, BI akan terus mendorong perbankan memanfaatkan ruang insentif yang masih tersedia agar penyaluran kredit ke sektor strategis makin kuat dan suku bunga kredit makin kompetitif.

Kredit Bank Tumbuh 9,96% Per Januari 2026

Bank Indonesia (BI) melaporkan pertumbuhan kredit pada Januari 2026 sebesar 9,96% secara tahunan (year on year/YoY), sedikit meningkat dibandingkan dengan Desember 2025 9,69%.  

BI juga mencatat fasilitas yang belum ditarik atau undisbursed loan mencapai Rp2.506,47 triliun atau 22,65% dari plafon kredit yang tersedia.  

Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan pertumbuhan didukung oleh kredit investasi yang tumbuh 22,38%, kredit modal kerja 4,13%, dan kredit modal kerja 6,58%. 

“Perkembangan positif kredit ini didukung peningkatan kegiatan ekonomi, pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial Bank Indonesia serta realisasi program prioritas pemerintah, ujarnya dalam Konferensi Pers Hasil RDG Bulanan Februari 2026, Kamis (19/2/2026).

Dia bilang prospek pertumbuhan kredit ke depan masih cukup kuat didorong permintaan dan penawaran. “Dari sisi permintaan pemanfaatan pembiayaan perbankan dapat terus ditingkatkan terutama untuk fasilitas pinjaman yang belum digunakan alias undisbursed loan yang masih cukup besar,” sebutnya. 

Dari sisi penawaran, kapasitas pembiayaan bank tetap memadai ditopang oleh rasio likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang meningkat menjadi sebesar 27,54% dan DPK tumbuh 13,48% pada Januari 2026. 

Selain itu, Perry menyebut minat penyaluran kredit perbankan terus membaik tercermin dari persyaratan pemberian kredit yang longgar kecuali pada segmen kredit konsumsi dan UMKM karena masih adanya risiko kredit pada kedua segmen tersebut.  

“Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit 2026 pada kisaran 8% sampai 12%,” pungkasnya.