
Ifonti.com , JAKARTA — Emiten produsen ban portofolio Lo Kheng Hong, PT Gajah Tunggal Tbk. (GJTL), bakal menggelontorkan dividen tunai tahun buku 2025 senilai Rp278,78 miliar yang akan dibayarkan pada 18 Juni 2026.
Keputusan itu telah mengantongi persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang diselenggarakan pada pekan lalu, 22 Mei 2026. Hasilnya, manajemen GJTL menetapkan dividen per saham adalah sebesar Rp80 yang akan didistribusikan kepada pemilik 3,48 miliar lembar saham perseroan.
Batas akhir perdagangan saham dengan hak dividen atau cum dividen di pasar reguler dan pasar negosiasi dijadwalkan jatuh pada 4 Juni 2026.
: Bos Baru Gajah Tunggal (GJTL) Siapkan Mitigasi Risiko Geopolitik
“Pembayaran dividen tunai akan dilakukan pada 18 Juni 2026 kepada para pemegang saham yang namanya tercatat dalam Daftar Pemegang Saham [DPS] Perseroan pada tanggal 8 Juni 2026,” tulis keterbukaan informasi GJTL.
Berikut jadwal pembagian dividen tunai GJTL tahun buku 2025:
: : Eks Dubes RI Suryopratomo Jadi Bos Baru Gajah Tunggal (GJTL)
– Cum Dividen Tunai di Pasar Reguler dan Negosiasi: 4 Juni 2026
– Ex Dividen Tunai di Pasar Reguler dan Negosiasi: 5 Juni 2026
– Cum Dividen Tunai di Pasar Tunai: 8 Juni 2026
– Ex Dividen Tunai di Pasar Tunai: 9 Juni 2026
– Recording Date (DPS yang berhak atas dividen): 8 Juni 2026
– Pembayaran Dividen Tunai: 18 Juni 2026
STRATEGI 2026
Di samping membagikan laba, dalam agenda paparan publik atau pubex, manajemen GJTL memaparkan prospek bisnis dan strategi perseroan dalam menghadapi dinamika ekonomi global sepanjang tahun berjalan 2026.
Wakil Presiden Direktur Gajah Tunggal, Budhi Santoso Tanasaleh, bersama dengan manajemen lainnya menjelaskan bahwa volatilitas geopolitik global berimbas pada kenaikan harga minyak dunia, yang berpotensi mengerek komponen biaya produksi pada kuartal II/2026 dan semester II/2026.
Untuk mengantisipasi hal itu, perseroan akan menyesuaikan harga jual serta memperketat efisiensi di lantai pabrik. Langkah ini dikombinasikan dengan program modernisasi mesin produksi, serta peningkatan kualitas tenaga kerja.
“Diperkirakan biaya produksi naik dan untuk kenaikan harga jual juga akan dilakukan. Akan dilakukan efisiensi biaya produksi, [tetapi] perusahaan masih memiliki optimisme dengan memperhatikan kompetisi,” jelas manajemen.
Adapun dari sisi kesehatan keuangan, manajemen menegaskan posisi utang perusahaan masih berada dalam batas aman. Struktur pinjaman perseroan didominasi oleh tenor jangka panjang berkisar antara 8 hingga 9 tahun, sehingga skema angsuran dipastikan tetap sesuai dengan kapasitas arus kas perseroan
Manajemen juga menyatakan tidak memiliki rencana untuk melakukan diversifikasi ke bisnis ban sepeda dan akan tetap fokus pada portofolio kendaraan bermotor komersial dan penumpang.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.