Harga minyak dunia melemah, begini prospeknya

Ifonti.com JAKARTA. Harga minyak dunia kompak melemah dalam beberapa hari terakhir seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global. Penurunan ini terjadi setelah sebelumnya harga minyak sempat melonjak akibat meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

Analis komoditas sekaligus Founder Traderindo, Wahyu Laksono, menilai penurunan harga minyak dipicu oleh mulai meredanya kecemasan pasar terkait risiko gangguan pasokan ekstrem, terutama dari kawasan Timur Tengah.

“Koreksi pasar terjadi didorong oleh perkembangan positif terkait negosiasi damai dan upaya diplomasi untuk meredakan konflik geopolitik di Timur Tengah. Optimisme pasar meningkat setelah adanya laporan kemajuan dalam diskusi antara pihak-pihak terkait mengenai stabilitas jalur pelayaran logistik energi, khususnya di wilayah Selat Hormuz,” ujar Wahyu kepada Kontan, Selasa (26/5/2026).

Menurut dia, sentimen positif juga datang dari laporan kemajuan diskusi mengenai stabilitas jalur pelayaran logistik energi di kawasan Selat Hormuz. Selain itu, kabar mengenai mulai amannya pelayaran kapal tanker komersial membuat premi risiko (risk premium) di pasar energi menurun.

Emiten Nikel Dihimpit Sejumlah Tantangan di Tengah Tren Kenaikan Harga Komoditas

Kondisi tersebut mengurangi kekhawatiran investor terhadap gangguan distribusi minyak global yang sebelumnya mendorong harga minyak ke level tertinggi dalam setahun terakhir.

Tak hanya faktor geopolitik, pelemahan harga minyak juga dipengaruhi penyesuaian proyeksi permintaan global. Wahyu menyebut lembaga energi internasional mulai memangkas outlook pertumbuhan permintaan minyak.

“Ditambah lagi proyeksi pertumbuhan permintaan global yang baru-baru ini dipangkas oleh lembaga energi dunia turut menekan harga dari sis fundamental permintaan, beralih dari fokus ketatnya pasokan akibat hambatan geopolitik,” jelasnya.

Untuk jangka pendek, Wahyu memperkirakan harga minyak masih bergerak volatil dalam fase konsolidasi. Koreksi berpotensi berlanjut secara terbatas apabila perkembangan diplomasi di Timur Tengah terus menunjukkan hasil positif dan tidak terjadi eskalasi konflik baru.

“Pasar saat ini sedang mencari titik keseimbangan baru setelah lonjakan harga yang cukup agresif pada awal tahun,” katanya.

Di tengah volatilitas tinggi, Wahyu menyarankan investor bersikap hati-hati dan cenderung menunggu kepastian arah pasar. Investor dinilai perlu mencermati perkembangan data persediaan minyak mentah global serta situasi operasional jalur distribusi energi, terutama di Selat Hormuz.

Peningkatan Efisiensi Operasional, Begini Prospek Kinerja Telkom (TLKM)

Bagi trader jangka pendek, instrumen berbasis komoditas atau exchange traded fund (ETF) minyak masih dapat dimanfaatkan untuk menangkap momentum pergerakan harga. Namun, strategi tersebut perlu dibarengi manajemen risiko yang ketat.

Sementara bagi investor saham, penurunan harga minyak dapat menjadi sentimen positif karena berpotensi mengurangi tekanan inflasi global.

Dengan demikian, sektor-sektor yang sensitif terhadap biaya energi seperti transportasi dan barang konsumsi berpeluang kembali menarik perhatian pasar.

Hingga semester I-2026, Wahyu memperkirakan harga minyak masih bertahan di level relatif tinggi meskipun volatilitas mulai menurun.

Ia memproyeksikan harga minyak Brent bergerak pada kisaran US$ 85 hingga US$ 100 per barel. Adapun harga minyak WTI diperkirakan berada di rentang US$ 80 hingga US$ 95 per barel.

Prediksi tersebut didasarkan pada asumsi normalisasi distribusi energi global berlangsung bertahap serta kebijakan produksi kelompok negara eksportir minyak tetap dijaga untuk menopang stabilitas pasar.

Bumi Resources (BUMI) Terbitkan Obligasi Senilai Rp 1,84 Triliun

“Prediksi ini berada pada asumsi bahwa proses normalisasi alur distribusi energi global berjalan secara bertahap dan kuota produksi dari aliansi negara eksportir minyak (OPEC+) tetap dipertahankan untuk menjaga stabilitas pasar,” ujar Wahyu.

Melansir dari Trading Economics pada Rabu (27/5/2026) pukul 12.50 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$ 92,0 per barel atau melemah 6,3% dalam sepekan terakhir.

Sementara itu, minyak Brent diperdagangkan di kisaran US$ 98,0 per barel, yang juga melemah 6,7% dalam seminggu. Kedua komoditas tersebut tercatat turun masing-masing sekitar 7,9% dan 6,1% dalam sebulan terakhir.