
Ifonti.com JAKARTA – Saham emiten migas PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) menjadi salah satu yang patut dicermati seiring dengan harga minyak mentah yang memanas efek eskalasi geopolitik di Amerika.
Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak Brent pada perdagangan Senin (5/1/2026) berbalik menguat 0,21% ke US$60,88 per barel setelah terkoreksi 1,2%. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,09% ke US$57,37 per barel.
Kenaikan harga minyak belakangan ini efek eskalasi geopolitik antara Amerika Serikat dengan Venezuela. Tepat setelah Presiden AS Trump mengumumkan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, harga minyak langsung bergejolak. Venezuela merupakan negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, mencapai 303,22 miliar barel atau hampir seperlima dari cadangan minyak dunia.
: Ambisi Kuasai Venezuela, Trump Kumpulkan Bos Minyak AS Akhir Pekan Ini
Adapun di sepanjang 2025 harga minyak global mendingin. Anggota organisasi negara-negara pengekspor minyak beserta mitra atau OPEC+ pada September 2025 menambah produksi minyak sebesar 547.000 per barel per hari (bpd), membuat pasokan global melimpah dan menekan harga komoditas tersebut.
Alhasil, kondisi tersebut membuat average selling price emiten hulu minyak seperti PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) turun.
Berdasarkan data perseroan hingga kuartal III/2025, penjualan dari segmen minyak mentah ENRG tergerus 3,54% YoY menjadi US$112,14 juta. Penurunan ini disebabkan oleh koreksi harga rata-rata penjualan yang susut 14% YoY menjadi US$71,14 per barel, meski secara volume produksinya meningkat 6% YoY menjadi 8.381 bpd.
Adapun, segmen penjualan minyak ENRG berkontribusi hanya 31,03% dari total pendapatan. Segmen paling besar, penjualan gas bumi yang berkontribusi 61,01% tumbuh 9,36% YoY menjadi US$220,49 juta. Hasilnya, secara akumulasi penjualan neto ENRG dalam Januari-September 2025 meningkat 13,05% YoY menjadi US$361,38 juta.
“Pertumbuhan produksi minyak terutama didorong oleh produksi dari Blok Siak dan Kampar di Riau, sementara tambahan produksi gas dari Blok Sengkang di Sulawesi Selatan mendukung kinerja gas yang stabil,” kata Direktur Utama dan Chief Executive Officer ENRG, Syailendra S. Bakrie.
Namun demikian, ENRG membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 8,54% YoY dari US$51,27 juta menjadi US$55,65 juta.
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi menilai kenaikan harga minyak global bagi emiten hulu migas memang akan memberikan dampak positif, namun hanya dalam jangka pendek.
“Kenaikan harga minyak bisa langsung mendorong average selling price di kuartal I/2026. Tapi hati-hati, dengan klaim AS yang mau mengelola minyak Venezuela, kalau AS sukses mengambil alih dan mendorong produksi Venezuela, suplai global akan meningkat dan harga bisa turun lagi,” kata Wafi kepada Bisnis, Senin (5/1/2025).
Wafi merinci, bagi emiten minyak di sisi downstream risiko yang dihadapi adalah berupa tekanan margin yang tinggi. Apabila harga minyak mentah melesat cepat, emiten membutuhkan modal yang lebih besar untuk stok barang, sedangkan belum pasti harganya langsung tertransmisi ke harga jual ke konsumen akhir.
“Kalau untuk emiten upstream (hulu), risikonya pada cost push inflation. Biaya operasional dan sewa rig bisa ikut naik. Ada juga risiko berupa volatilitas ekstrem,” tegasnya.
: Imbas Konflik AS-Venezuela, Saham Migas MEDC, ELSA, ENRG Cs Ngegas Pagi Ini
Wafi menuturkan, strategi yang tepat untuk situasi saat ini adalah melalukan short term trading tanpa perlu hold jangka panjang karena tren makro minyak masih kelebihan pasokan.
Berdasarkan data Terminal Bloomberg, sebanyak 5 analis (100%) merekomendasikan buy ENRG dengan target harga Rp1.906, mencerminkan potensial return 12,2% dari harga Rp1.700. Salah satu yang merekomendasikan buy adalah Senior Analyst Kiwoom Sekuritas Sukaro Alatas yang menyematkan target harga Rp1.720 untuk ENRG.
Dalam riset yang terbit 17 Desember 2025, Sukarno mengatakan ENRG mengalokasikan capital expenditure (capex) US$200 juta atau sekitar Rp3,3 triliun sebagai bagian dari rencana investasi US$1,4 miliar dalam kurun 2025-2035 yang difokuskan pada eksplorasi, pengembangan dan pemeliharaan untuk menjaga keberlanjutan produksi. ENRG sendiri menargetkan pertumbuhan produksi 10% YoY pada 2026 dan berambisi melipatgandakannya sampai 100 mboepd pada 2030.
Salah satu pertimbangan utama rekomendasi Kiwoom Sekuritas atas ENRG adalah bauran produksi perseroan yang mendukung, di mana kenaikan volume minyak dan perbaikan harga gas mengkompensasi dampak penurunan harga minyak dan mengecilnya volume produksi gas.
“Risiko penurunan [rating] meliputi transisi energi, ketidakpastian regulasi, fluktuasi harga komoditas, persaingan dan perkembangan teknologi,” kata Sukarno.
Energi Mega Persada Tbk. – TradingView
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.