
Ifonti.com – JAKARTA. Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) atau Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) mencatat lonjakan transaksi kontrak berjangka komoditas minyak mentah sejak krisis politik terjadi di Timur Tengah.
Sepanjang bulan Maret 2026, transaksi kontrak berjangka komoditas minyak mentah COFU10 tercatat sebanyak 648 lot, melonjak jauh dari transaksi di bulan Februari 2026 sebesar 12 lot dan Januari 2026 sebesar 4 lot.
COFU10 merupakan kontrak berjangka minyak mentah yang merepresentasikan 10 barel per lot. Adapun jenis minyak mentah dalam kontrak berjangka ini adalah jenis West Texas Intermediate (WTI) yaitu minyak mentah ringan (light) dan manis (sweet), yang menjadi salah satu patokan (benchmark) harga minyak dunia utama.
IHSG Melemah 0,24% ke 7.541 pada Rabu (22/4/2026), DSSA, BREN, NCKL Top Losers LQ45
Direktur ICDX Nursalam mengatakan, lonjakan transaksi kontrak berjangka minyak mentah khususnya COFU10 ini menunjukkan tingginya minat pelaku usaha melakukan hedging atau lindung nilai atas komoditas tersebut. Seperti diketahui, krisis di Timur Tengah cukup memberikan guncangan pada pasar energi global, khususnya minyak mentah.
“Dalam situasi seperti ini, hedging atau lindung nilai dapat mengatasi risiko yang terjadi atas perubahan harga pada pasar fisik (spot),” ujar Nursalam dalam keterangan resmi, Rabu (22/4/2026).
Nursalam menambahkan, selain kontrak berjangka minyak mentah, saat ini di ICDX telah memfasilitasi transaksi multilateral yang dapat dimanfaatkan para pelaku usaha untuk hedging dari beberapa komoditi. Seperti mata uang dan emas.
“Sebagai Bursa, kami akan terus mengembangkan kontrak-kontrak berjangka sesuai dengan kebutuhan para pelaku usaha,” terang Nursalam.
Terkait harga minyak mentah dunia di tengah krisis Timur Tengah, Research & Development ICDX Girta Yoga melihat dari situasi pasar saat ini, harga minyak mentah dalam jangka pendek masih cukup kuat untuk bergerak pada tren bullish. Hal ini karena efek dari risiko geopolitik timur tengah yang saat ini menjadi katalis penggerak utama belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
“Risiko geopolitik dari perang Iran ini berdampak langsung pada gangguan pasokan di pasar global akibat aksi saling blokade di jalur pengiriman vital, terutama Selat Hormuz yang berkontribusi terhadap sekitar 20% pasokan energi global,” jelas Yoga.
Jasuindo Tiga Perkasa (JTPE) Berencana Gelar Buyback Siapkan Anggaran Rp 200 Miliar
Selain itu, indikator lain yang perlu dipantau termasuk kelanjutan negosiasi gencatan senjata AS – Iran untuk mencapai kesepakatan damai yang mengakhiri perang Iran, perkembangan konflik Israel – Lebanon, kebijakan terkait output OPEC+, dan pertumbuhan permintaan di negara importir utama seperti China dan India.
Adapun untuk level resistance terdekat dalam jangka pendek harga minyak mentah kemungkinan akan berada di kisaran harga US$ 95 – US$ 100 per barel. “Apabila mendapat katalis negatif, harga berpotensi turun menemui level support di kisaran harga US$ 80 – US$ 75 per barel,” pungkas Yoga.