
Ifonti.com , JAKARTA — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan ada tawaran bantuan pendanaan untuk Indonesia usai menggelar serangkaian pertemuan tingkat tinggi dengan lembaga keuangan multilateral di Washington D.C, Amerika Serikat pada Selasa (14/4/2026) waktu setempat.
Purbaya melangsungkan pertemuan bilateral dan courtesy meeting dengan Managing Director International Monetary Fund (IMF) Kristalina Georgieva, jajaran petinggi Bank Dunia (World Bank), serta perwakilan lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings.
Adapun, agenda utama dalam rangkaian pertemuan ini adalah menyampaikan komitmen Indonesia untuk terus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan APBN di tengah bayang-bayang ketidakpastian global.
: Purbaya Temui BlackRock Cs di AS, Tegaskan Minat Investor Global di RI Masih Tinggi
Purbaya memaparkan sejumlah bauran kebijakan yang tengah dieksekusi pemerintah beserta dampaknya terhadap postur anggaran dan prospek ekonomi makro. Dia mengklaim respons dari IMF, Bank Dunia, dan lembaga pemeringkat cenderung positif.
“Mereka menunjukkan antusiasme tinggi dan menggali lebih dalam terkait fundamental ekonomi dan kebijakan kita. Selama ini mereka mempertanyakan bagaimana Indonesia dapat tumbuh lebih cepat dengan anggaran yang tetap terkendali,” kata Purbaya dalam video keterangannya usai pertemuan.
: : Purbaya Mau Revisi Aturan Restitusi Pajak, Rencanakan Berlaku 1 Mei 2026
Secara khusus dalam pertemuannya dengan IMF, Kristalina Georgieva sempat menyoroti ketidakpastian global yang masih akan menyelimuti perekonomian dunia dalam beberapa waktu ke depan, yang disulut oleh eskalasi ketegangan geopolitik serta volatilitas harga komoditas energi.
Merespons proyeksi tersebut, Purbaya percaya diri bahwa fiskal Indonesia masih solid sehingga APBN diyakini mampu menahan berbagai guncangan eksternal tersebut termasuk lonjakan harga minyak dunia.
“IMF tidak memiliki otoritas untuk mengurangi ketidakpastian global, tetapi menyediakan dukungan bagi negara yang membutuhkan. Indonesia tidak termasuk [membutuhkan dukungan dana], karena kondisi fiskal kita kuat dengan bantalan anggaran sekitar Rp420 triliun,” katanya.
Sementara saat bertemu Bank Dunia dan S&P Global Ratings, Purbaya coba menepis keraguan terhadap kapasitas pemerintah dalam merawat disiplin fiskal sembari memacu roda ekonomi.
Menurutnya, Bank Dunia pun menyatakan minatnya untuk memperdalam kerja sama, khususnya dalam memuluskan pembiayaan proyek strategis jangka panjang dan program pengentasan kemiskinan di Indonesia.
Lebih lanjut, bendahara negara itu mengklaim adanya sinyal ketertarikan dari investor global terhadap instrumen pasar keuangan domestik, baik pada instrumen surat utang maupun saham.
Selama di AS, Purbaya menyatakan memang sudah berdialog dengan 18 investor jumbo yang di antaranya meliputi Fidelity Investments, Goldman Sachs Asset Management (GSAM), Eaton Vance, hingga MFS.
“Kami optimistis dalam waktu dekat aliran dana tersebut akan masuk dan turut mendorong penguatan pasar modal Indonesia,” ucap Purbaya.