
Ifonti.com – , JAKARTA — Absennya emiten pelat merah dalam daftar pencatatan saham perdana (IPO) pada 2026 diprediksi bakal menurunkan nilai penggalangan dana di pasar modal. Meski demikian, kondisi tersebut dinilai tidak akan berdampak signifikan terhadap likuiditas pasar sekunder.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia menjelaskan bahwa selama ini BUMN memang identik dengan deal size yang besar sehingga memengaruhi nilai penggalangan dana secara agregat. Namun, dia menekankan bahwa likuiditas pasar tidak ditentukan semata oleh banyaknya emiten baru.
Kedalaman pasar modal saat ini lebih ditentukan oleh proporsi saham publik (free float), arus dana asing, serta likuiditas perdagangan saham existing.
“Dalam konteks kenaikan free float ke 15%, fokus pasar saat ini justru pada redistribusi suplai dan perbaikan struktur likuiditas,” kata Liza kepada Bisnis dikutip pada Minggu (15/2/2026).
Liza menambahkan bahwa bagi pelaku pasar saat ini, kualitas kedalaman pasar memiliki urgensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan sekadar mengejar volume penggalangan dana atau fundraising dari emiten-emiten baru.
Oleh karena itu, ketidakhadiran IPO BUMN dinilai tidak akan menyusutkan minat investor global yang mengutamakan ukuran likuiditas riil serta kejelasan tata kelola. Selama reformasi pasar berjalan konsisten dan transparansi meningkat, daya tarik pasar modal Indonesia dinilai tetap terjaga.
“Reformasi yang kredibel bahkan bisa lebih berdampak dibandingkan sekadar menghadirkan nama besar baru ke bursa,” ucap Liza.
Di sisi lain, strategi pemerintah untuk menunda IPO hingga proses restrukturisasi dan merger BUMN rampung dinilai sebagai langkah strategis untuk mengoptimalkan valuasi pada 2027 mendatang. Hal tersebut dianggap lebih memberikan kepastian bagi pasar terkait dengan fundamental perusahaan.
“Pasar menghargai earnings visibility dan struktur bisnis yang lebih sederhana, bukan sekadar status BUMN. Likuiditas yang sehat dan struktur yang kuat akan menciptakan valuasi yang lebih berkelanjutan,” tuturnya.
: Reformasi Pasar Modal, Ini Perintah Prabowo Soal Demutualisasi Bursa
Dalam catatan Bisnis sebelumnya, Danantara memastikan tidak ada IPO BUMN pada tahun ini. Adapun aksi pencatatan saham perdana dari korporasi pelat merah diperkirakan baru akan bergulir pada 2027.
Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria menjelaskan bahwa pihaknya memilih untuk memprioritaskan penyelesaian 41 rencana kerja strategis, mencakup merger, restrukturisasi hingga penataan aset sebelum membawa BUMN melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).
“Jadi mudah-mudahan tahun 2027, kami akan mulai melakukan proses IPO terhadap perusahaan-perusahaan kita,” ujarnya di Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Dony menjelaskan setiap BUMN harus melewati empat tahapan evaluasi sebelum diputuskan untuk go public. Proses ini dimulai dari tinjauan fundamental bisnis, diikuti konsolidasi bisnis seperti merger ataupun restrukturisasi.
Selanjutnya, perusahaan negara akan memasuki tahap penulisan ulang model bisnis, sebelum akhirnya masuk ke fase penciptaan nilai atau value creation.
“Memang untuk tahun ini kita belum ada [IPO] yang akan kami lakukan,” ucap Dony yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN.