
Ifonti.com – , JAKARTA — Putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang membatalkan kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump memicu reaksi beragam di pasar saham dan keuangan Negeri Paman Sam.
Pasar saham bergerak terbatas, sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah AS naik. Sementara itu, dolar melemah di tengah kekhawatiran pelebaran defisit fiskal.
Dilansir Bloomberg, Sabtu (21/2/2026), indeks S&P 500 ditutup menguat tipis 0,1%, meski hanya sekitar separuh konstituennya yang mencatat kenaikan.
: Mahkamah Agung AS Batalkan Kebijakan Tarif Global Trump Karena Lampaui Kewenangan
Di sisi lain, yield US Treasury tenor 10 tahun naik dua basis poin ke level 4,09%, sedangkan indeks dolar AS terkoreksi tipis. ETF yang melacak pasar negara berkembang melonjak mendekati rekor tertinggi, mencerminkan pergeseran minat risiko (risk appetite) investor.
Seperti diberitakan sebelumnya, Mahkamah Agung AS menyatakan Trump melampaui kewenangannya dengan menggunakan undang-undang kekuasaan darurat federal untuk memberlakukan tarif resiprokal dan bea masuk terarah.
: : Deal Prabowo-Trump: Pemerintah RI Sepakat Transfer Data Pribadi ke AS
Namun, alih-alih memicu reli besar, respons pasar cenderung moderat karena investor telah mengantisipasi risiko hukum tersebut dan menilai dinamika kebijakan belum sepenuhnya berakhir.
Mark Malek dari Siebert Financial menjelaskan bahwa keputusan Mahkamah Agung AS itu menjadi pukulan telak bagi kebijakan Pemerintahan AS di bawah kendali Donald Trump. Apalagi, ada risiko hak pengembalian dana bagi importir. Bloomberg sebelumnya melaporkan bahwa jika pengembalian dana dikabulkan sepenuhnya, nilainya dapat mencapai US$170 miliar.
: : Deal Prabowo-Trump: Jika AS Embargo Dagang Suatu Negara, RI Wajib Ikut
“Aliran pendapatan yang selama ini diam-diam mengalir ke Departemen Keuangan dari bea impor kini terhenti, dan pemerintah bahkan mungkin harus mengembalikan sebagian signifikan dari dana yang sudah dikumpulkan.”
Impak Keputusan Mahkamah Agung pada Fiskal AS
Kekhawatiran utama pasar obligasi adalah implikasi fiskal. Tanpa pemasukan dari kebijakan tarif tersebut, potensi defisit anggaran AS dinilai melebar.
Alhasil, Bloomberg melaporkan bahwa kondisi itu akan meningkatkan kebutuhan penerbitan surat utang pemerintah. Tekanan tersebut lebih lanjut membebani harga obligasi dan mendorong kenaikan imbal hasil.
Bagi sektor riil, terutama perusahaan AS yang bergantung pada pasokan impor seperti manufaktur, ritel, otomotif, dan industri, pembatalan tarif tersebut dipandang sebagai sentimen positif terhadap margin laba.
“Ini baik untuk laba, tetapi tidak sepenuhnya menenangkan bagi obligasi,” kata Malek, “Saham yang sensitif terhadap tarif bisa bernapas lega, tetapi suplai Treasury kemungkinan meningkat dan ketidakpastian kebijakan tetap tinggi.”
Pasar juga mempertimbangkan langkah lanjutan Gedung Putih. Trump masih memiliki opsi menggunakan perangkat hukum lain untuk menerapkan tarif yang lebih spesifik per negara atau sektor, meski prosesnya dinilai lebih panjang dan kompleks.
“Ini berarti pemerintahan Trump akan beralih ke tarif spesifik negara dan sektor. Prosesnya lebih lama,” ujar Brian Jacobsen dari Annex Wealth Management.