BI intervensi rupiah di pasar offshore saat libur Lebaran, antisipasi gejolak Timur Tengah

Ifonti.com JAKARTA — Bank Indonesia (BI) memastikan akan tetap berada di pasar untuk mengintervensi stabilitas nilai tukar rupiah, khususnya di pasar luar negeri (offshore), sepanjang periode libur panjang Hari Raya Idulfitri 2026.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menjelaskan bahwa langkah ini diambil sebagai bentuk mitigasi dan antisipasi otoritas moneter terhadap eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang memicu lonjakan volatilitas di pasar keuangan global.

Destry menjelaskan bahwa pergerakan arus modal dan fluktuasi mata uang tidak berhenti meskipun aktivitas pasar keuangan domestik tengah memasuki masa libur Lebaran. Oleh sebab itu, BI akan tetap melakukan operasi moneternya.

: Sempat Sentuh Rp17.000, Rupiah Ditutup Stagnan Rp16.997 per Dolar AS Hari Ini (17/3)

“Meskipun pasar keuangan domestik tutup selama libur Lebaran, perdagangan rupiah di pasar luar negeri tetap berjalan dan fluktuasinya dapat berdampak secara langsung pada ekonomi Indonesia,” ujarnya dalam keterangannya, Kamis (19/3/2026).

Absennya transaksi di pasar spot domestik (inshore) membuat pembentukan harga rupiah sangat dipengaruhi oleh transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore. Akibatnya, sambung Destry, kehadiran bank sentral menjadi krusial untuk mencegah pelemahan rupiah yang tidak sejalan dengan fundamental ekonomi.

: : Jurus Baru BI Perkuat Rupiah: Aturan Beli Valas dan Devisa Diperketat Mulai April 2026

Nantinya, Kantor Perwakilan BI New York akan terus melakukan pemantauan transaksi NDF pasar offshore. Jika dibutuhkan, maka BI akan masuk ke pasar untuk melakukan intervensi di pasar NDF global.

“Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan moneter untuk memperkuat ketahanan eksternal dari kemungkinan eskalasi perang Timur Tengah, termasuk menempuh langkah-langkah penyesuaian yang diperlukan guna tetap konsisten dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional,” tutupnya.

: : Rupiah Dihantam Perang Timur Tengah, Bank Indonesia Pasang Badan Sampai Rebound

Sebelumnya, dalam konferensi pers Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI edisi Maret 2026 pada Selasa (17/3/2026), Gubernur BI Perry Warjiyo mengaku terjadi pelemahan rupiah beberapa waktu terakhir.

Dia memaparkan bahwa nilai tukar rupiah tercatat berada di level Rp16.985 per dolar AS per 16 Maret 2026. Posisi tersebut mencatatkan pelemahan sebesar 1,29% secara point-to-point dibandingkan dengan level akhir Februari 2026.

Menurutnya, tekanan terhadap mata uang nasional ini sejalan dengan tren pelemahan yang juga dialami oleh berbagai mata uang negara non-dolar AS di seluruh dunia.

“Memburuknya kondisi global akibat Perang Timur Tengah berdampak pada pelemahan nilai tukar dan memicu keluarnya arus modal asing (capital outflow) dari negara-negara emerging market, tidak terkecuali Indonesia,” jelas Perry.

Libur Operasi Moneter

Sementara itu, BI juga sudah mengumumkan penyesuaian jadwal operasional pada periode Hari Raya Idulfitri 1447 H/Tahun 2026.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan bahwa akan ada penyesuaian jadwal operasional otoritas moneter pada 18 sampai dengan 24 Maret 2026, termasuk operasi moneter untuk menstabilkan nilai tukar rupiah.

“Seluruh kegiatan transaksi operasi moneter rupiah ditiadakan,” jelas Denny dalam keterangannya, dikutip Selasa (10/3/2026).

Sejalan dengan itu, operasi moneter valuta asing (valas) ditiadakan. Akibatnya, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) dan Kurs Acuan Non-USD/IDR tidak diterbitkan.

“Kurs Bank Indonesia menggunakan referensi kurs hari kerja terakhir,” lanjut keterangan tersebut.

Dari sisi acuan suku bunga, BI juga menyampaikan bahwa INDONIA, Compounded INDONIA, dan INDONIA Index tidak akan terbit selama periode Lebaran 2026. 

Sistem Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS), Bank Indonesia Scripless Securities Settlement System (BI-SSSS), dan Bank Indonesia Electronic Trading Platform (BI-ETP) turut tidak akan beroperasi. 

Begitu juga dengan seluruh layanan penyelenggaraan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI), yang tidak akan beroperasi. Denny menjelaskan bahwa seluruh warkat debit di Zona 4 yang telah diserahkan pada tanggal 17 Maret 2026 (H-1) akan diselesaikan settlement-nya pada tanggal 25 Maret 2026.  

Seluruh kegiatan layanan kas pun ditiadakan. Kabar baiknya, Bank Indonesia Fast Payment (BI-FAST) tetap beroperasi penuh.

“Seluruh kegiatan operasional Bank Indonesia akan kembali berjalan normal sepenuhnya pada Rabu, 25 Maret 2026. Selanjutnya, pelaksanaan kegiatan operasional di institusi sektor keuangan menjadi pertimbangan dan kewenangan masing-masing institusi,” tutup Denny.

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede menilai bahwa penghentian operasi moneter sejak 18 Maret hingga 24 Maret 2026 Bank Indonesia (BI) membuat penyesuaian nilai tukar di pasar domestik berisiko terakumulasi saat pasar kembali beroperasi normal pada 25 Maret 2026.

“Artinya, bila selama libur terjadi kejutan dari pasar global, penyesuaian nilai tukar di pasar domestik berisiko muncul sekaligus saat pasar buka kembali, sehingga peluang lonjakan kurs setelah Lebaran menjadi lebih besar,” ujarnya kepada Bisnis, dikutip Rabu (11/3/2026).