IHSG pekan depan bergerak terbatas di level 7.000–7.200, cermati saham-saham berikut

Ifonti.com , JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak terbatas dan sideways secara teknikal pada pekan depan di rentang di level 7.000–7.200.

Tim riset Phintraco Sekuritas menyebut pelaku pasar akan menantikan sejumlah rilis data ekonomi penting pada pekan depan, antara lain indeks S&P Global Manufacturing PMI Maret 2026, neraca perdagangan Februari 2026, serta data inflasi Maret 2026.

Data-data tersebut dinilai akan menjadi katalis utama arah pergerakan IHSG selanjutnya. Investor juga dinilai masih akan bersikap wait and see di tengah tingginya ketidakpastian global.

: Waspada Tekanan Jual di Pasar Saham jelang Pemberlakuan Free Float 15%

“Investor akan menantikan sejumlah data ekonomi domestik pekan depan. Pada level resistance diperkirakan IHSG bergerak level 7.200 dan support di level 7.000,” tulis tim, Jumat (27/2/2026).

Adapun sejumlah saham rekomendasi Tim Phintraco Sekuritas yang dinilai menarik untuk dicermati pada pekan depan antara lain PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC), PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG), PT Petrosea Tbk. (PTRO), PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) seiring potensi pergerakan harga komoditas dan dinamika pasar global.

: : 12 Perusahaan Antre IPO di BEI per Akhir Maret 2026, Dominan Perusahaan Jumbo

IHSG ditutup melemah pada perdagangan Jumat (27/3), terseret sentimen global yang masih diliputi ketidakpastian, terutama terkait dinamika hubungan Amerika Serikat dan Iran.

IHSG pada penutupan perdagangan Jumat (27/3/2016) parkir di level 7.097,06 atau turun 0,94% dibandingkan penutupan sebelumnya.

: : Analis Ungkap Efek Domino Free Float 15% ke Saham Small-Mid Cap

Tim Riset Phintraco Sekuritas mengatakan tekanan pasar dipicu oleh pernyataan yang saling bertolak belakang antara AS dan Iran terkait upaya diplomatik untuk meredakan konflik, sehingga memicu kekhawatiran investor terhadap eskalasi yang lebih luas.

Kondisi ini diperparah oleh lonjakan harga minyak mentah dan gas alam yang memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global. Kenaikan harga energi dinilai berpotensi mendorong inflasi, baik di tingkat global maupun domestik, sehingga menambah tekanan di pasar keuangan.

Sejalan dengan pelemahan IHSG, nilai tukar rupiah juga ditutup melemah 0,45% ke level Rp16.980 per dolar AS di pasar spot, mencerminkan meningkatnya tekanan eksternal terhadap aset berisiko.

Secara sektoral, saham infrastruktur mencatatkan penurunan terdalam dengan koreksi 1,29%, seiring aksi jual investor pada saham-saham berbasis proyek. Sebaliknya, sektor energi menjadi penopang dengan penguatan 0,35%, didukung kenaikan harga komoditas energi global.

Di sisi domestik, data jumlah uang beredar (M2) menunjukkan pertumbuhan 8,7% secara tahunan (pada Februari 2026, melambat dibandingkan 10% pada Januari 2026.

Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan uang beredar sempit (M1) sebesar 14,4% dan uang kuasi sebesar 3,1%. Penyaluran kredit yang masih tumbuh juga turut menopang likuiditas di perekonomian.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.