Indeks Bisnis-27 menghijau di awal pekan, ditopang saham BRPT, INCO, BUMI

Ifonti.com , JAKARTA — Indeks Bisnis-27 memulai perdagangan awal pekan di zona hijau di tengah kehati-hatian pasar mencermati pertemuan The Fed. Saham BRPT, INCO, dan BUMI terpantau memimpin penguatan.

Berdasarkan data IDX Mobile pada pukul 09.05, Indeks kerja sama dengan harian Bisnis Indonesia dibuka pada level 476,24 menguat 0,45%. Terpantau sebanyak 16 saham konstituen menghijau, 7 saham memerah, dan 4 saham stagnan.

Sejumlah saham unggulan yang tergabung dalam indeks ini tampak mengalami penguatan, di antaranya yakni saham PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) naik 5,45% ke level Rp2.130, saham PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) naik 4,10% ke level Rp6.975, selanjutnya saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) naik 3,70% ke level Rp224.

: Terdepak dari Indeks LQ45 dan IDX80, Saham BREN-DSSA Justru Melaju Hijau

Berikutnya saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) naik 2,24% ke level Rp1.140, dan saham PT Aneka Tambang (persero) Tbk. (ANTM).

Sebaliknya sejumlah saham yang menahan laju penguatan dan cenderung melemah adalah saham PT United Tractors Tbk. (UNTR) melemah 3,85% ke level Rp30.625, selanjutnya saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) turun 0,71% ke level Rp1.400.

: : Indeks Bisnis-27 Dibuka Melemah, ADRO dan PGEO Cs Tetap Cuan

Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) melemah 0,67% ke level Rp4.478, dan saham PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) turun 0,57% ke level Rp870.

Tim riset Phintraco Sekuritas memperkirakan  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak dalam tekanan pada awal pekan ini, di tengah ketidakpastian global yang dipicu memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah serta sikap hati-hati investor menjelang sejumlah agenda ekonomi penting dunia.

Sentimen pasar dipengaruhi oleh harapan akan dimulainya kembali perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Menteri Luar Negeri Iran dilaporkan telah melakukan kunjungan ke Islamabad untuk membahas potensi negosiasi lanjutan dengan AS melalui mediasi Pakistan.

Di sisi lain, konflik di kawasan Lebanon Selatan masih berlanjut meskipun telah diumumkan perpanjangan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. Bahkan, muncul kabar bahwa AS berpotensi menjatuhkan sanksi terhadap sekutu di NATO, termasuk terhadap Spanyol, yang dinilai tidak sejalan dalam konflik Iran.

Pelaku pasar global juga menanti sejumlah agenda penting pekan ini, termasuk pertemuan bank sentral utama dunia seperti Federal Reserve, European Central Bank, Bank of England, dan Bank of Japan. Selain itu, rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal I/2026 dari AS dan kawasan Eropa turut menjadi perhatian investor.

Dari dalam negeri, pasar masih dibayangi risiko dampak konflik global terhadap ekonomi domestik, mulai dari tekanan terhadap nilai tukar rupiah, potensi lonjakan inflasi, hingga risiko pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

Sentimen tambahan datang dari lembaga pemeringkat Moody’s yang mempertahankan peringkat utang Indonesia di level Baa2, atau satu tingkat di atas investment grade. Namun, outlook diturunkan dari stabil menjadi negatif, mencerminkan meningkatnya risiko eksternal.

______

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.