
Ifonti.com , JAKARTA—Kebijakan ekspor satu pintu batu bara melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) memicu tekanan pada mayoritas saham emiten batu bara di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Investor merespons negatif kebijakan tersebut karena dinilai meningkatkan ketidakpastian bisnis dan berpotensi menekan margin perusahaan tambang batu bara dalam jangka pendek hingga menengah.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya mengumumkan kebijakan ekspor satu pintu dalam penyampaian Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027 di Rapat Paripurna DPR, Rabu (20/5/2026).
Dalam tahap pertama implementasi mulai 1 Juni 2026, eksportir diwajibkan mengalihkan kontrak ekspor-impor dengan pembeli luar negeri kepada badan usaha milik negara (BUMN). Untuk menjalankan skema tersebut, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara membentuk anak usaha baru bernama PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
Selanjutnya, mulai 1 September 2026, DSI akan menjadi satu-satunya pihak yang dapat berkontrak langsung dengan pembeli batu bara di luar negeri.
Pasar langsung merespons kebijakan itu dengan aksi jual saham-saham batu bara. Pada penutupan perdagangan Rabu (20/5), saham PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) turun 2,18% ke Rp11.200, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) melemah 4,29% ke Rp2.230, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) turun 0,91% ke Rp8.125.
: : Untung-Buntung Ekspor Satu Pintu Danantara ke Emiten Batu Bara
Selanjutnya, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) anjlok 6,99% ke Rp173, PT Indika Energy Tbk. (INDY) melemah 6,15% ke Rp2.290, dan PT Harum Energy Tbk. (HRUM) turun 5,16% ke Rp735.
Bumi Resources Tbk. – TradingView
Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand mengatakan pasar cenderung memberikan respons negatif pada tahap awal implementasi karena ketidakpastian regulasi menciptakan risk premium yang menekan valuasi saham, khususnya emiten dengan eksposur ekspor tinggi.
: : DMO Batu Bara Dialihkan ke PT DSI, Aturan Masih Abu-abu
Menurut dia, terdapat tiga risiko utama yang berpotensi membebani emiten batu bara. Pertama, tekanan average selling price (ASP) akibat hilangnya fleksibilitas negosiasi langsung dengan pembeli premium.
Kedua, risiko selisih kurs apabila transaksi dilakukan dalam rupiah sementara pasar batu bara menggunakan denominasi dolar AS. Ketiga, potensi biaya tambahan dari skema perdagangan melalui Danantara yang dapat memangkas margin perusahaan.
“Tekanan ASP karena hilangnya fleksibilitas negosiasi langsung dengan pembeli premium, risiko selisih kurs jika transaksi Danantara dalam rupiah sementara pasar batu bara berdenominasi dolar, dan biaya counterparty Danantara yang belum jelas namun berpotensi memotong margin yang sudah tipis,” ujar Abida, Kamis (21/5/2026).
Meski demikian, dia menilai kebijakan tersebut juga memiliki peluang jangka panjang berupa akses pasar baru melalui jaringan global Danantara serta potensi stabilisasi harga jual karena berkurangnya persaingan antar eksportir domestik.
Abida menyarankan investor fokus pada emiten yang memiliki struktur biaya rendah agar tetap kompetitif meski terdapat tambahan biaya dalam rantai perdagangan. Dia juga menyarankan pendekatan wait and see untuk emiten dengan margin tipis dan leverage tinggi hingga aturan teknis lebih jelas.
Sementara itu, Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai pasar masih berhati-hati karena investor belum dapat menghitung dampak kebijakan terhadap margin dan siklus kas emiten batu bara.
“Yang pasti, mekanisme perdagangan yang berisiko menambah ketidakpastian bakal menjadi sentimen negatif pasar,” ujarnya.
Wafi menyarankan investor memilih emiten dengan biaya produksi rendah, memiliki diversifikasi bisnis non-batu bara, serta neraca keuangan yang kuat. Dalam jangka pendek, dia merekomendasikan strategi akumulasi selektif ketika harga saham turun, bukan melakukan pembelian agresif.
Dia menyebut ITMG dan ADRO relatif lebih defensif dibandingkan emiten lain karena kualitas aset dan fleksibilitas bisnis yang lebih baik. Sementara itu, emiten yang sangat bergantung pada ekspor spot diperkirakan menghadapi volatilitas lebih tinggi.
“Preferensi saya ITMG dan ADRO karena lebih defensif dari sisi kualitas aset dan fleksibilitas bisnis, sementara emiten yang bergantung pada ekspor spot kemungkinan volatilitasnya lebih tinggi,” kata Wafi.
Di sisi lain, Wafi menilai kebijakan ekspor satu pintu juga berpotensi memberikan manfaat jangka panjang berupa penguatan posisi tawar Indonesia di pasar global, pengurangan perang harga antar eksportir domestik, perbaikan tata niaga, hingga pembukaan akses pasar baru apabila jaringan pemasaran terintegrasi dapat berjalan efektif.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.