S&P Global beri peringatan risiko kredit Indonesia, cek dampaknya ke IHSG

Ifonti.com , JAKARTA — Lembaga pemeringkat  S&P Global memberikan peringatan terhadap peningkatan risiko profil kredit Indonesia. Koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan semakin rawan ambrol dengan peringatan ini.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menjelaskan ketika downgrade terjadi, pasar menurutnya akan ambrol. Dia juga menjelaskan capital outflow akan semakin besar, karena lembaga rating mengukur seberapa besar potensi gagal bayar itu terjadi.

“Ketika terjadi downgrade, berarti risiko akan mengalami kenaikan yang itu artinya pelaku pasar dan investor akan menuntut imbal hasil yang lebih tinggi,” ujar Nico, Jumat (27/2/2026).

Nico menjelaskan risiko penurunan tidak hanya terjadi pada saham, melainkan obligasi juga akan mengalami kenaikan imbal hasil, yang artinya harga obligasi akan mengalami penurunan.

Nico memperkirakan imbal hasil obligasi dengan durasi 10y yang dijaga di bawah 6,5% mungkin akan mengalami kenaikan kembali.

“Hal ini yang berpotensi membuat IHSG justru semakin rawan terkoreksi, karena capital outflow sewaktu-waktu dapat kembali terjadi,” ucapnya.

Dia juga menuturkan sedari awal risiko fiskal ini selalu diawasi oleh pelaku pasar dan investor, khususnya investor asing. Langkah pemerintah Indonesia yang memperlebar defisit menurutnya tentu saja menjadi perhatian penuh investor asing terkait dengan disiplin fiskal.

Adapun untuk strategi investor, Nico menyarankan investor untuk mencari saham yang memiliki fundamental kuat dan potensi valuasi di masa yang akan datang.

“Karena ketika mengalami penurunan, saham tersebut akan kembali kepada harga yang sesuai dengan fundamentalnya,” tutur dia.

: : IHSG Ditutup Menguat Tipis ke 8.235, Saham BNBR, BUVA, hingga ENRG Tancap Gas

Dia menjelaskan penurunan justru menjadi sebuah kesempatan untuk bisa masuk ke dalam saham tersebut dan melakukan akumulasi. Dia juga mengingatkan investor untuk memastikan, investor berhati-hati terhadap saham yang memiliki volatilitas tinggi.

Sebagai informasi, S&P Global Ratings memperingatkan peningkatan risiko terhadap profil kredit Indonesia, menyusul revisi outlook negatif oleh Moody’s Ratings serta sorotan isu investabilitas dari MSCI Inc.

Peringatan S&P muncul setelah rasio pembayaran bunga utang pemerintah disebut melampaui ambang 15% dari penerimaan negara atau level yang dinilai meningkatkan sensitivitas fiskal terhadap kenaikan biaya pendanaan.

______

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.