Tren IPO meredup, backdoor listing menggeliat

Ifonti.com JAKARTA — Maraknya pergantian pemegang saham pengendali (PSP) sejak 2025 menjadi sinyal dinamika baru di pasar modal. Fenomena ini muncul di tengah lesunya aktivitas IPO yang pada tahun lalu mencatat realisasi terendah dalam delapan tahun terakhir.

Tahun 2023, Bursa Efek Indonesia (BEI) diketahui mencatatkan rekor historis dengan 79 perusahaan melakukan initial public offering (IPO). Namun, tren ini kemudian berbalik arah secara signifikan pada tahun-tahun berikutnya.

Jumlah emiten yang melantai turun menjadi 41 perusahaan pada 2024, dan terus susut hingga hanya menyisakan 26 perusahaan pada 2025. Memasuki kuartal kedua tahun ini, baru satu perusahaan yang melakukan aktivitas pencatatan saham perdana.

: Pause IPO dan Musim Berburu ‘Cangkang’ di Lantai Bursa

Berdasarkan catatan Bisnis, sejumlah emiten mengalami pergantian kepemilikan. Salah satu aksi pergantian pemegang saham pengendali terbaru adalah PT Prime Agri Resources Tbk. (SGRO) atau sebelumnya Sampoerna Agro.

SGRO mengalami pergantian kepemilikan dari sebelumnya Twinwood Family Holdings ke AGPA Pte. Ltd yang merupakan anak usaha POSCO International. Transaksi tersebut dilakukan dengan harga Rp7.903 per saham, dengan total nilai Rp9,44 triliun.

: : Investor Selektif di Tengah Gejolak, IPO Diproyeksi Bergeliat Semester II/2026

Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI) David Sutyanto menjelaskan fenomena pergantian pengendali dan meningkatnya aksi backdoor listing memiliki keterkaitan dengan melambatnya IPO dalam beberapa waktu terakhir. 

“Ketika kondisi pasar belum sepenuhnya kondusif, sebagian perusahaan cenderung mencari jalur yang lebih cepat dan fleksibel untuk masuk ke Bursa,” kata David, Jumat (10/4/2026). 

: : Semarak PSP Baru Kala IPO Lesu

David mengungkapkan backdoor listing memang memiliki beberapa keunggulan. Keunggulan tersebut seperti proses yang relatif lebih cepat, tidak sekompleks IPO dari sisi keterbukaan dan persyaratan, serta memberi fleksibilitas lebih bagi pemilik baru dalam melakukan restrukturisasi.

Namun, di sisi lain biaya dari backdoor listing menurutnya bisa lebih tinggi secara implisit, dan biasanya hanya menarik bagi perusahaan dengan skala aset yang cukup besar.

Dia juga mengungkapkan emiten-emiten dengan saham di bawah harga Rp50 dan berada papan pemantauan khusus memang sering menjadi target untuk backdoor listing karena valuasinya sudah sangat terdiskon dan struktur kepemilikannya lebih mudah diambil alih. 

“Emiten seperti ini pada dasarnya menjadi kendaraan untuk masuk ke pasar,” tuturnya.

Ke depan, lanjut David, tren ini masih berpotensi berlanjut selama pasar IPO belum sepenuhnya pulih. Namun, kata dia, fenomena backdoor listing ini tetap perlu dicermati, karena kualitas emiten dan perlindungan investor harus menjadi perhatian utama agar tidak menimbulkan distorsi di pasar.

Sementara itu, Pengamat Pasar Modal Reydi Octa menuturkan lesunya IPO dalam dua tahun terakhir memang membuka ruang bagi maraknya pergantian pengendali dan skema backdoor listing.

“Ketika pasar primer lebih selektif dan valuasi sulit diserap, pemilik bisnis cenderung mencari jalur lebih cepat lewat akuisisi emiten yang sudah listing,” ujar Reydi, Kamis (9/4/2026).

Dia menjelaskan backdoor menjadi alternatif karena lebih efisien dari sisi waktu dan fleksibel.

Menariknya, ucap Reydi, banyak aksi backdoor listing ini terjadi pada saham papan pemantauan khusus dengan harga di bawah Rp50, sehingga ke depan tren ini masih berpotensi berlanjut selama minat IPO belum pulih, seiring komitmen penyelenggara bursa untuk memperketat kriteria calon emiten.

“Namun bagi investor, ini bukan sekadar peluang, melainkan area yang penuh jebakan karena sering kali yang diperdagangkan adalah narasi, bukan kinerja riil,” kata dia.

Lebih Selektif

Dari sisi suplai, penjamin emisi efek atau underwriter mengakui saat ini mereka lebih selektif untuk membawa perusahaan-perusahaan melakukan IPO. Direktur Investment Banking Semesta Indovest Sekuritas Kerry Rusli menuturkan saat ini pihaknya melihat bagaimana minat dari investor terhadap saham-saham yang dicatatkan. 

Semesta Indovest Sekuritas juga menurutnya saat ini lebih selektif untuk membawa perusahaan-perusahaan yang memang memiliki potensi maupun secara fundamental baik untuk melantai di Bursa. 

“Jadi memang tidak lagi ya bursa itu dipenuhi dengan perusahaan-perusahaan yang secara fundamental tidak baik di Bursa,” ujar Kerry, Jumat (10/4/2026).

Menurutnya, jika memang sebuah perusahaan tidak layak untuk melantai di Bursa, maka pihaknya akan menyarankan untuk berkembang di luar Bursa terlebih dahulu. Menurutnya, perusahaan yang masuk Bursa seharusnya memberikan manfaat terhadap pemegang saham publik. 

“Jadi pesan kami terhadap teman-teman di sekuritas lain untuk menjaga dan membawa perusahaan-perusahaan yang memang bisa memberikan manfaat dan bagus ke Bursa, agar investor ritel antusias juga,” tuturnya.

Presiden Direktur OCBC Sekuritas Betty Goenawan menjelaskan saat ini OCBC Sekuritas mengerjakan beberapa pencatatan saham lagi. Hanya saja, kata dia, saat ini nasabah perusahaan OCBC Sekuritas masih menunda untuk melakukan pencatatan saham atau IPO dan lebih memilih untuk wait and see.

“Daya serap investor ritel juga saat ini masih wait and see,” ujar Betty ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (10/4/2026).