
Ifonti.com JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi tetap mampu tembus level 9.000 pada akhir 2026 nanti usai mengalami guncangan hebat awal tahun. Reformasi pasar modal dan saham big caps yang bervaluasi murah disebut menjadi katalis pendorong.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG mengalami anjlok 6,84% menjadi 8.329 pekan lalu pada periode 23-30 Januari 2026. Terpantau aksi jual asing di lantai bursa mencapai Rp13,92 triliun dalam sepekan.
Hingga akhir sesi I perdagangan hari ini, Senin (2/2/2026), IHSG masih melanjutkan pelemahannya sebesar 5,31% menjadi 7.887,16.
: Kejatuhan Pasar Saham Picu Net Sell Asing di Obligasi RI Rp3,3 Triliun Lebih
Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia Ezaridho Ibnutama mengatakan pihaknya masih optimistis dengan menyematkan rating overweight untuk IHSG. Pada akhir tahun ini, NH Korindo Sekuritas memprediksi IHSG akan berada di kisaran 9.600-9.800, sejalan dengan undervaluation saham-saham big caps, terutama saham emiten bank kelas KBMI IV.
“Meskipun terdapat turbulensi akibat pernyataan MSCI yang berpotensi menurunkan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market, yang berpotensi memicu arus keluar asing sebesar US$6–9 miliar, kami berpendapat hal ini kecil kemungkinannya terjadi karena adanya langkah reformasi fiskal pemerintah yang sedang dan akan diimplementasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk meningkatkan transparansi dan likuiditas bagi modal asing,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (2/2/2026).
Kejatuhan pasar saham di Indonesia pada awal tahun ini dipicu oleh pengumuman dari indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) pekan lalu. MSCI mengumumkan kebijakan interim berupa pembekuan atau freeze rebalancing indeks untuk saham asal Indonesia pada periode Februari 2026.
Merespons hal itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan 8 rencana aksi percepatan reformasi integritas pasar modal Indonesia. Delapan poin itu terdiri dari kebijakan baru free float, transparansi data ultimate beneficial owner (UBO), penguatan data kepemilikan saham, demutualisasi BEI, penegakan peraturan dan sanksi, tata kelola emiten, pendalaman pasar secara terintegrasi, serta kolaborasi dan sinergi dengan stakeholders.
Selain upaya untuk meningkatkan transparansi dan likuiditas pasar tersebut, proyeksi IHSG oleh NH Korindo Sekuritas Indonesia juga didasarkan atas sentimen positif yang datang dari Danantara Indonesia. Menurutnya, masuknya Danantara di pasar saham dapat mendorong sovereign wealth fund untuk meningkatkan likuiditas.
Secara bersamaan, lembaga dana pensiun dan asuransi telah memberikan lampu hijau untuk menaikkan porsi investasi mereka di aset saham hingga 20% pada saham-saham LQ45, dari regulasi sebelumnya yang membatasi sampai 8%.
“Kementerian Keuangan menyebutkan peningkatan porsi saham harus dibatasi pada saham LQ45. BPJS Ketenagakerjaan juga telah berencana sejak tahun lalu untuk menaikkan porsi saham dari 10–13% pada 2025 menjadi 20%, setara dengan estimasi Rp161,03 triliun,” tandasnya.
IDX COMPOSITE INDEX – TradingView
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.