BI siaga jaga rupiah saat Timur Tengah membara akibat serangan AS-Israel ke Iran

Ifonti.com , JAKARTA — Bank Indonesia (BI) menyatakan akan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, menyusul serangan rudal Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir pekan lalu.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia Erwin Gunawan Hutapea menegaskan bahwa bank sentral akan terus mencermati pergerakan pasar secara saksama.

Erwin mengakui bahwa ketegangan geopolitik terbaru tersebut membuat peningkatan sentimen hindari risiko (risk-off) di pasar keuangan global akibat ketegangan terbaru tersebut. Dia pun mengaku bahwa otoritas moneter siap memberikan respons terukur di pasar valuta asing.

: Perang AS-Iran Berkecamuk, Impor BBM ke RI Berpotensi Terganggu, Ini Datanya

“Bank Indonesia akan terus mencermati pergerakan pasar secara seksama dan merespons secara tepat, termasuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai dengan fundamentalnya,” jelas Erwin dalam keterangannya, Senin (2/3/2026).

Untuk meredam gejolak dan menjaga kepercayaan pelaku pasar, dia memaparkan bahwa BI akan melakukan langkah intervensi melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.

: : MUI Dukung Prabowo Jadi Juru Damai AS-Israel-Iran, Rilis Sepuluh Poin Tausiyah

Di samping melakukan intervensi di pasar valas, sambungnya, bank sentral coba mengoptimalkan bauran kebijakan guna meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan suku bunga.

Sebagai informasi, pada Sabtu (28/2/2026) waktu setempat, Israel yang kemudian diikuti oleh Amerika Serikat melancarkan serangan rudal ke wilayah Iran. Serangan tersebut dilatarbelakangi oleh kebuntuan negosiasi antara Washington dan Teheran terkait isu pengembangan senjata nuklir, meskipun terdapat informasi bahwa Iran sudah menyetujui sejumlah klausul yang diajukan AS.

Televisi pemerintah Iran mengonfirmasi tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, figur yang telah berkuasa selama lebih dari tiga dekade.

Selain itu, berdasarkan laporan Al Jazeera, media pemerintah setempat mencatat setidaknya 51 orang tewas. Di sisi lain, kantor berita Mehr turut melaporkan bahwa rudal Israel menghantam sebuah sekolah di sebelah timur ibu kota Teheran, yang merenggut nyawa dua orang siswa.

U.S. DOLLAR / INDONESIAN RUPIAH – TradingView Potensi Efek Ekonomi ke Indonesia

Eskalasi geopolitik ini memicu kekhawatiran mendalam terhadap stabilitas perekonomian dunia, terutama bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) misalnya, yang menilai perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran pada akhirnya akan menekan perekonomian Indonesia secara bersamaan, mulai dari inflasi dan nilai tukar rupiah hingga fiskal dan kinerja perdagangan.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman menyampaikan konflik Iran—Israel dan Amerika Serikat (AS) tidak hanya sekadar isu geopolitik regional, tetapi shock eksternal bagi negara berkembang seperti Indonesia.

“Mekanisme transmisinya terutama melalui perubahan perilaku investor global,” kata Rizal kepada Bisnis, Minggu (1/3/2026).

Ketika risiko global meningkat, Rizal menjelaskan bahwa pasar masuk fase risk-off sehingga dana portofolio keluar dari emerging market menuju aset aman. Dampaknya terlihat pada tekanan terhadap nilai tukar rupiah, kenaikan yield SBN, dan meningkatnya premi risiko negara.

“Jadi, tekanan yang muncul lebih karena persepsi risiko global, bukan perubahan fundamental domestik secara tiba-tiba,” ungkapnya.

Saluran kedua adalah energi dan fiskal. Rizal menuturkan, Indonesia merupakan net importer minyak sehingga setiap kenaikan harga minyak langsung memperlebar defisit neraca migas dan meningkatkan kebutuhan devisa.

Pada saat yang sama, Rizal menyebut bahwa pemerintah harus menahan kenaikan harga BBM untuk menjaga inflasi dan daya beli, yang berarti kompensasi dan subsidi energi berpotensi membesar.

“Akibatnya ruang fiskal tertekan: APBN harus bekerja lebih keras bukan untuk ekspansi ekonomi, tetapi untuk stabilisasi harga,” ujarnya.

Dari sisi nilai tukar, Rizal mengungkapkan bahwa tekanan datang dari dua arah sekaligus. Pertama, capital outflow akibat perpindahan portofolio global ke dolar AS. Kedua, meningkatnya permintaan valas domestik untuk impor energi dan bahan baku.

Dia menuturkan, kombinasi ini biasanya membuat rupiah melemah dan membatasi ruang pelonggaran moneter. BI cenderung lebih berhati-hati menurunkan suku bunga karena prioritas jangka pendek bergeser dari mendorong pertumbuhan menjadi menjaga stabilitas kurs dan inflasi.

Sementara pada perdagangan luar negeri, efeknya cenderung asimetris. Artinya, nilai impor hampir pasti naik karena harga energi meningkat, tetapi ekspor belum tentu meningkat karena konflik menekan pertumbuhan ekonomi global. 

Konsekuensinya, kata Rizal, neraca perdagangan berisiko menyempit, industri manufaktur menghadapi kenaikan biaya produksi, dan dunia usaha menjadi wait and see terhadap investasi baru.

“Dengan demikian, perang di Timur Tengah bagi Indonesia pada akhirnya bermuara pada satu hal, yakni tekanan simultan pada inflasi, kurs, fiskal, dan kinerja perdagangan sekaligus,” tegasnya.