
Ifonti.com , JAKARTA — Sebanyak 10 saham terbesar di Indonesia tercatat menguasai 75,44% dari total kapitalisasi pasar indeks FTSE Indonesia.
Berdasarkan data terbaru FTSE Russell Factsheet per 31 Maret 2026, indeks FTSE Indonesia saat ini mencakup 39 emiten sebagai konstituen. Namun, dengan dominasi 10 saham tersebut, praktis 29 perusahaan hanya memberikan dampak sekitar 24,56% terhadap fluktuasi indeks secara keseluruhan.
Dalam daftar top 10 constituents, sektor finansial masih menjadi tulang punggung utama. Mereka adalah PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BNI).
BBCA memimpin dengan bobot terbesar mencapai 18,81%, disusul BBRI 13,07%, BMRI sebesar 12,16% dan BBNI 2,69%. Jika digabungkan, empat bank penguasa pasar ini sudah merepresentasikan hampir separuh dari total indeks.
: FTSE Russell Pertahankan Status RI sebagai Secondary Emerging Market
Selain perbankan, sejumlah emiten dari sektor telekomunikasi dan otomotif turut mengisi pos 10 besar. Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) mencatatkan posisi kuat dengan bobot mencapai 7,92%, disusul oleh raksasa emiten otomotif yakni PT Astra International Tbk. (ASII) sebesar 7,49%.
Adapun PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) memiliki bobot 4,81%, lalu PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) juga bertahan di zona elit dengan bobot 3,53%. Melengkapi daftar ini, terdapat PT United Tractors Tbk. (UNTR) dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) masing-masing 2,61% dan 2,37%.
Sementara itu, dalam pengumuman terbarunya, FTSE menyatakan tidak mempertimbangkan Indonesia untuk masuk ke dalam daftar pantauan yang berpotensi menurunkan derajat pasar modal nasional di mata investor global.
“Pada tahap ini, status pasar Secondary Emerging Indonesia tetap tidak berubah. FTSE Russell tidak mempertimbangkan Indonesia untuk dimasukkan ke dalam Watch List dan akan terus memantau kemajuan reformasi serta menjalin komunikasi dengan pelaku pasar,” tulis FTSE Russell dalam laporan terbarunya.
Keputusan FTSE Russell untuk mempertahankan posisi Indonesia tersebut didasari oleh apresiasi terhadap serangkaian inisiatif reformasi yang tengah dijalankan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI).
Beberapa langkah yang dicermati meliputi peningkatan pengungkapan pemegang saham (shareholder disclosure), perluasan kategori klasifikasi investor, hingga pengetatan aturan free floatminimum.
Lembaga tersebut juga menilai langkah-langkah ini merupakan respons positif untuk menjawab kekhawatiran pelaku pasar global terkait transparansi dan keandalan data transaksi yang sempat menjadi sorotan sebelumnya.
Berikut 10 saham dengan bobot terbesar dalam indeks FTSE Indonesia: No Saham Bobot 1 PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) 18,81% 2 PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) 13,07% 3 PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) 12,16% 4 PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) 7,92% 5 PT Astra International Tbk. (ASII) 7,49% 6 PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) 4,81% 7 PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) 3,53% 8 PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) 2,69% 9 PT United Tractors Tbk. (UNTR) 2,61% 10 PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) 2,37%
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.