
Ifonti.com , JAKARTA — Kinerja rata-rata reksa dana saham diproyeksikan masih berada di kisaran pertumbuhan 7%–9%, dimotori sektor energi dan komoditas. Namun demikian, pertumbuhan ini tidak akan setinggi capaian tahun sebelumnya.
Vice President Infovesta Wawan Hendrayana mengatakan pada tahun ini, mayoritas manajer investasi akan meracik portofolio agar tidak tertinggal dari Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG.
Oleh karena itu, saham-saham konglomerasi akan mulai mengisi portofolio reksa dana, terutama yang masuk indeks besar luar negeri seperti MSCI, FTSE atau GDX.
: Mirae Asset Soroti Reksa Dana Saham sebagai Alternatif Investasi di 2026
“Kinerja [reksa dana saham] masih bisa diharapkan positif meski tidak setinggi tahun lalu. Kinerja akan berada rata-rata di 7% – 9 %,” ujarnya, Senin (19/1/2026).
Seiring dengan proyeksi pertumbuhan reksa dana saham, Wawan juga menyebut dana kelolaan juga berpotensi menembus Rp90 triliun – Rp100 triliun.
: : Eastspring Indonesia Ungkap Strategi Reksa Dana Saham pada 2026
Dia melanjutkan apabila pada tahun lalu IHSG hingga mampu menembus 9.000, sebagian besar dari saham-saham konglomerasi hingga saham yang terkait emas. Pada tahun ini, imbuhnya, di tengah ketidakpastian global, sektor energi dan komoditas masih menjadi pilihan.
Sisi lain, saham-saham sektor keuangan juga mulai dilirik karena menawarkan valuasi yang relatif murah dengan dividend yield yang menarik.
: : Beda Jurus Manajer Investasi Racik Reksa Dana Saham di Tengah Euforia Pasar
Wawan mencatat kinerja reksa dana saham sepanjang 2025 mencatatkan dinamika menarik karena dana kelolaan reksa dana saham justru mengalami penurunan tipis. Kondisi ini mencerminkan perilaku investor yang mulai melakukan profit taking setelah melalui periode pemulihan pasar.
Penurunan dana kelolaan tersebut dinilai wajar, mengingat sebagian investor memilih merealisasikan keuntungan. Setelah sebelumnya, kinerja reksa dana saham pada periode 2023–2024 cenderung tertekan akibat koreksi pasar, sehingga rebound yang terjadi pada 2025 dimanfaatkan investor untuk mengunci hasil investasi.
Menurutnya, reksa dana saham tetap ideal sebagai instrumen investasi jangka panjang. Pengalaman menunjukkan bahwa investor yang masuk pada 2022 baru mulai menikmati keuntungan pada 2025, seiring dengan terjadinya rebound kinerja pasar saham. Meski demikian, tetap terdapat produk reksa dana saham yang mampu mencatatkan kinerja jauh di atas indeks acuan.
Oleh karena itu, investor disarankan memiliki time horizon minimal lima tahun serta memahami karakteristik reksa dana yang dipilih, apakah berfokus pada saham-saham blue chip atau memiliki strategi yang lebih agresif.
Diversifikasi portofolio juga menjadi kunci, mengingat reksa dana pendapatan tetap dan pasar uang terbukti mampu memberikan profit yang konsisten dalam lima tahun terakhir.