
Ifonti.com , JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah di tengah reli Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini mengindikasikan bahwa arus dana asing yang masuk ke pasar saham Indonesia masih bersifat jangka pendek dan oportunistik.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan menjelaskan bahwa kondisi tersebut mencerminkan karakter inflow asing yang selektif, terutama mengalir ke saham-saham big caps dan konstituen indeks LQ45. Investor global, dinilai memanfaatkan momentum penguatan saham berkapitalisasi besar tanpa sepenuhnya mencerminkan keyakinan terhadap fundamental makro jangka panjang Indonesia.
“Pelemahan rupiah di tengah reli IHSG menunjukkan investor asing masuk untuk memanfaatkan peluang jangka pendek, bukan karena keyakinan struktural terhadap ekonomi domestik,” ujarnya, Senin (19/1/2026).
: Ramalan Arah Reli IHSG Saat Kurs Rupiah Kembali Ambles
Menurut David kenaikan IHSG dalam beberapa waktu terakhir memang ditopang oleh masuknya dana asing. Namun, keberlanjutan tren tersebut masih sangat bergantung pada sejumlah faktor eksternal dan domestik, mulai dari stabilitas nilai tukar rupiah, arah kebijakan suku bunga global, hingga kinerja makroekonomi dan laba emiten dalam negeri.
Di sisi sektoral, pelemahan rupiah dinilai memberikan dampak yang beragam. Sektor berbasis ekspor dan komoditas seperti batubara, mineral, serta crude palm oil (CPO) berpotensi diuntungkan seiring peningkatan nilai pendapatan dalam dolar AS.
: : Rupiah Diprediksi Terus Tertekan, Indikasi Fundamental Ekonomi RI Rentan?
Sebaliknya, sektor yang bergantung pada impor, seperti barang konsumsi dan ritel, serta emiten dengan porsi utang dolar yang besar, berisiko menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya dan risiko selisih kurs.
Dalam meredam dampak fluktuasi nilai tukar, David menyebut emiten umumnya telah menyiapkan sejumlah strategi mitigasi, antara lain melalui lindung nilai (hedging) valuta asing, penyesuaian struktur utang, hingga efisiensi biaya operasional. Selain itu, keseimbangan antara pendapatan dan beban dalam mata uang yang sama juga menjadi langkah penting guna menekan risiko kurs.
: : IHSG Terus Ngegas Cetak Rekor saat Rupiah Keok, Waspada Anomali?
Adapun dia mencermati dari sisi peluang investasi, saham berbasis ekspor dengan neraca keuangan yang solid masih dinilai prospektif.
Beberapa emiten, imbuhnya, yang dapat dicermati antara lain adalah PT United Tractors Tbk. (UNTR), saham-saham komoditas seperti PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) dan PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO), serta perbankan besar seperti PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang relatif lebih resilien terhadap volatilitas rupiah.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.