IHSG pekan ini rentan tertekan, saham nikel dan CPO jadi andalan

Ifonti.com JAKARTA – Kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) selama sepekan ini diramal masih bergerak melemah. Meskipun begitu, sejumlah emiten di sektor energi dan CPO dinilai masih memiliki ketahanan dan berpeluang menguat di tengah sentimen risk-off investor global.

Melansir data Bursa Efek Indonesia (BEI) per 30 April, IHSG telah jatuh sekitar 19,55% ke level 6.956,81 sepanjang 2026 (year-to-date/YtD). Posisi ini terakhir dialami IHSG pada Juni 2025 lalu, saat pasar perlahan-lahan merangkak naik selepas Presiden AS mengumumkan kebijakan tarif pada April 2025. 

Sejalan dengan itu, investor asing turut mencatatkan net sell senilai Rp49,87 triliun dari pasar domestik sepanjang tahun ini.

: IHSG Rawan Koreksi Hari Ini (4/5/2026), Cermati Saham ANTM hingga MAPI

Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan, menilai kinerja lesu IHSG sepanjang tahun berjalan 2026, disebabkan oleh sentimen global dan domestik. Dari global, ketidakpastian arah kebijakan moneter AS menjadi pemicu utama tekanan jual aset di pasar negara berkembang.

Selain itu, ketegangan geopolitik di Iran juga dinilai telah mendorong harga energi dunia kian memanas dan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global yang persisten.

Dari dalam negeri, tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah memicu aksi jual investor asing.

”Penurunan ini bukan sekadar koreksi teknikal biasa. Ini adalah tekanan sistemik yang berlangsung konsisten. Bulan April 2026 ditutup dengan penurunan 1,30%,” kata David dalam keterangan resminya, Senin (4/5/2026).

David memprediksi kinerja IHSG pada sepekan perdagangan periode 4—8 Mei 2026 tidak jauh berbeda. Outlook pasar masih diramal dalam kondisi risk-off moderat yang didominasi oleh tekanan eksternal, terutama akibat perang di Iran yang memanaskan harga minyak dunia.

IPOT bahkan memprediksi kinerja IHSG secara teknikal bakal bergerak secara downtrend dan menguji support pada area 6.918—6.696. Dengan begitu, David merekomendasikan saham pada sektor nikel dan CPO yang dinilai memiliki ketahanan fundamental yang cenderung kuat.

”Kondisi Selat Hormuz secara fundamental memberikan tekanan besaar berupa kenaikan biaya produksi bagi negara-negara net importir energi, yang pada gilirannya dapat memicu risiko inflasi serta menggerus daya beli masyarakat secara luas,” tambahnya.

Berikut sejumlah saham rekomendasi IPOT:

  1. Buy PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) pada level Rp11.600, dengan target harga Rp12.200, dan stop loss pada area Rp11.300 per saham. Saham AADI diprediksi breakout all time high dan naik dengan high volume.
  2. Buy on pullback PT PP London Sumatra Indonesia Tbk. (LSIP) pada level Rp1.680—Rp1.700, dengan target harga Rp1.800, dan stop loss pada area Rp1.620. Menurutnya, tren kenaikan harga CPO memberikan angin segar bagi LSIP.
  3. Buy PT Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA) pada level Rp1.785, dengan target harga Rp1.960 dan stop loss pada area Rp1.700.  Secara teknikal, SSIA dinilai mampu bergerak di atas rata-rata dan didukung oleh indikator MACD yang terus mengarah menguat.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.