
Ifonti.com , JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melemah pada pembukaan perdagangan hari ini, Rabu (21/1/2026) menjelang pengumuman suku bunga acuan dalam hasil RDG Bank Indonesia.
Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.04 WIB, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka terkoreksi 0,01% ke Rp16.957. Bersamaan dengan itu, indeks yang mengukur kinerja dolar AS juga terkoreksi 0,15% ke posisi 98,49.
Selain rupiah, sejumlah mata uang lain di Asia juga tercatat lesu hari ini, seperti rupee India yang terkoreksi 0,07%, yuan China terkoreksi 0,06%, ringgit Malaysia melemah 0,05%, dan dolar Taiwan yang terkoreksi 0,07%.
Sementara itu, yen Jepang dibuka menguat 0,09%, dolar Hong Kong menguat 0,02%, dolar Singapura menguat 0,02%, won Korea menguat 0,51%, peso Filipina menguat 0,23%, dan baht Thailand naik 0,44%.
Direktur Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif hari ini, tetapi dengan kecenderungan ditutup melemah di level Rp16.950–Rp16.980 per dolar AS.
: Deretan Emiten Terimbas Pencabutan Izin oleh Prabowo
Bersamaan dengan melemahnya rupiah hari ini, BI akan mengumumkan keputusan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Januari 2026 terkait dengan penentuan BI Rate pada pukul 14.00 WIB. Tentunya, keputusan suku bunga acuan ini ditunggu oleh pasar, juga terkait langkah BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Sebelumnya, Bank Sentral menyatakan akan terus melakukan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah setelah terjadi pelemahan cukup signifikan. Menurut Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G. Hutapea pihaknya konsisten menjaga stabilitas nilai tukar sehingga dapat menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Konsensus ekonom memproyeksikan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga kebijakan alias BI Rate di level 4,75% dalam pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) edisi Januari 2026 pada Rabu (12/1/2026).
Survei Bloomberg menunjukkan sebanyak 30 dari 30 ekonom memperkirakan BI akan menahan suku bunga. Artinya, semua ekonom mempunyai proyeksi bulat bahwa bank sentral belum akan mengubah BI Rate pada bulan pertama 2026.
: Harga Emas Antam Hari Ini (21/1) Melonjak Rp67.000 Sentuh Rp2,77 Juta per Gram
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede merupakan salah satu ekonom yang menilai BI akan menahan suku bunga acuan. Dia menilai keputusan tersebut merupakan langkah paling realistis di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang masih cukup kuat, serta tingginya sensitivitas pasar terhadap isu-isu kesinambungan fiskal.
Menurutnya, stabilitas nilai tukar dan pengelolaan ekspektasi inflasi masih menjadi prioritas utama otoritas moneter dalam jangka pendek.
“Saya memperkirakan BI akan menahan BI Rate di 4,75%, karena tekanan pada rupiah masih kuat dan pasar sedang sensitif terhadap kekhawatiran fiskal,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (20/1/2026).
Di sisi lain, Josua memandang kondisi permintaan domestik belum menunjukkan urgensi yang mendesak untuk diberikan stimulus moneter berupa pemangkasan suku bunga. Indikator-indikator ekonomi riil dinilai masih berada di zona aman.
Kendati ruang pemangkasan suku bunga dinilai belum terbuka lebar, Josua menyarankan strategi lain apabila BI berencana memberikan dorongan tambahan bagi pertumbuhan dan penyaluran kredit.
Menurutnya, di tengah kondisi rupiah yang masih rapuh, jalur yang lebih aman adalah melalui pelonggaran likuiditas dan penurunan biaya dana jangka pendek tanpa mengubah BI Rate.
U.S. DOLLAR / INDONESIAN RUPIAH – TradingView