
Ifonti.com , JAKARTA — Kepiawaian Bank Indonesia (BI) dalam menjalankan kebijakan moneter semakin diuji di awal 2026 ketika terjadinya tren pelemahan rupiah dan tekanan untuk ikut mendukung pertumbuhan ekonomi. Bank sentral harus bisa tetap seimbang dalam menjalankan kedua hal tersebut.
Berdasarkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Januari 2026, otoritas moneter memutuskan untuk menahan suku bunga acuan di level 4,75 persen. Kebijakan ini ditempuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus tetap menopang pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Pada perdagangan Rabu (21/1/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat di level Rp16.934 per dolar AS. Rupiah menguat 22 basis poin atau 0,13% dibandingkan posisi sebelumnya.
: Bos BI Sebut Pencalonan Thomas Kemenakan Prabowo untuk Deputi Gubernur Turut Tekan Rupiah
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai keputusan moneter BI pada awal tahun ini mencerminkan langkah yang seimbang antara menjaga stabilitas dan bersifat pro pertumbuhan (pro-growth). Menurut dia, ruang kebijakan BI untuk menaikkan suku bunga relatif terbatas karena harus mempertimbangkan dampaknya terhadap kebijakan fiskal pemerintah.
“Pada dasarnya di kondisi sekarang itu sudah enggak bisa lagi untuk menaikkan bunganya terlalu banyak, karena pemerintah juga harus maintain belanja bunga eggak bisa terlalu besar lagi. Nah, terkait dengan ini yang harus dilakukan sebenarnya adalah koordinasi,” ujar Fakhrul di Jakarta, Rabu (21/1/2026).
: : Nilai Tukar Rupiah dan Independensi Bank Indonesia di RDG Penentu Suku Bunga
Fakhrul menekankan, BI tidak bisa bekerja sendiri dalam menjaga stabilitas rupiah. Pemerintah, khususnya Kementerian Keuangan, dinilai perlu mengambil peran dengan menambah suplai dolar AS di dalam negeri. Salah satu opsi yang dapat ditempuh adalah meningkatkan porsi penerbitan surat utang global (global bonds).
U.S. DOLLAR / INDONESIAN RUPIAH – TradingView
Langkah tersebut dinilai sejalan dengan kondisi cadangan devisa Indonesia yang masih tinggi, seiring berlanjutnya surplus neraca perdagangan. Berdasarkan pemberitaan sebelumnya, posisi cadangan devisa Indonesia per akhir Desember 2025 tercatat sebesar US$156,5 miliar, meningkat dari US$150,1 miliar pada bulan sebelumnya.
: : Bedah APBN 2026: Bea Keluar Emas Hingga Batu Bara jadi Tumpuan, Pajak Lainnya Meroket 1.528%
Menurut Fakhrul, porsi penerbitan global bonds pemerintah pada awal 2026 masih relatif terbatas, sekitar 12%dari total pembiayaan. Padahal, peningkatan penerbitan surat utang global dinilai dapat membantu menjaga likuiditas rupiah di dalam negeri serta meredam volatilitas jangka pendek.
“Kita sedang butuh untuk melakukan hal tersebut. Saya berharap up to 20%dari total funding pemerintah tahun ini. Kita butuh dukungan fiskal juga untuk menambah suplai dolar dalam negeri,” katanya.
Arah suku bunga BI
Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan bahwa RDG Januari 2026 memutuskan untuk menahan suku bunga acuan di level 4,75 persen. Sementara itu, suku bunga deposit facility ditetapkan sebesar 3,75%dan lending facility di level 5,5 persen.
“Keputusan ini konsisten dengan fokus kebijakan saat ini yaitu pada menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global guna mendukung sasaran inflasi 2026—2027 dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Perry dalam konferensi pers, Rabu (21/1/2026).
Ke depan, BI diperkirakan masih memiliki ruang untuk memangkas suku bunga acuan sepanjang 2026. Managing Director, Chief India Economist and Macro Strategist, sekaligus Asean Economist HSBC Pranjul Bhandari memperkirakan BI berpeluang melakukan tiga kali penurunan suku bunga guna mendorong pertumbuhan ekonomi.
Namun, menurut Pranjul, langkah tersebut tetap harus mempertimbangkan stabilitas nilai tukar rupiah, terutama di tengah tekanan global yang berpotensi memicu depresiasi mata uang.
“Saya memperkirakan pemangkasan suku bunga pada 2026 akan oportunis. Bank Indonesia akan mencari peluang ketika dolar terlihat agak lemah dan ada ruang untuk melakukan penurunan. Menurut saya, selama periode 12 bulan kami masih bisa melihat tiga penurunan suku bunga lagi,” ujarnya dalam media briefing daring, Senin (12/1/2026).
Ia memperkirakan BI akan menjalankan kebijakan akomodatif dengan pemangkasan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin, sehingga total penurunan mencapai 75 basis poin sepanjang 2026. Meski demikian, penurunan suku bunga tersebut dinilai tidak akan dilakukan dalam waktu dekat karena BI akan berhati-hati agar pelonggaran kebijakan moneter tidak mengganggu stabilitas nilai tukar.
“Secara umum, saya memperkirakan satu [pemangkasan] di kuartal pertama, satu lagi di kuartal kedua, dan yang ketiga di kuartal ketiga 2026. Jadi, itulah pelonggaran kebijakan moneter yang saya perkirakan,” tuturnya.