Opini: THR besar, bursa menipis: Membaca IHSG menjelang Idul Fitri 1447 H

Ifonti.com – , JAKARTA – Setiap menjelang hari besar, pasar modal hampir selalu memunculkan pertanyaan yang sama: apakah libur panjang akan mendorong harga saham naik? Pengalaman berbagai bursa memang menunjukkan bahwa jawabannya kerap positif. Menjelang Chinese New Year di Hong Kong, Natal di pasar-pasar maju, atau hari libur besar lain, return pra-libur sering membaik. Namun pelajaran penting dari berbagai negara adalah ini: efek hari raya tidak pernah bekerja seperti tombol otomatis. Ia muncul melalui perilaku investor, perubahan likuiditas, dan rotasi sektor, bukan sekadar karena kalender menunjukkan hari besar.

Karena itu, membaca pasar saham Indonesia menjelang Idul Fitri 1 Syawal 1447 H tidak cukup dengan kalimat sederhana bahwa Lebaran identik dengan konsumsi, maka saham pasti naik. Tahun ini, justru ada dua kekuatan yang bergerak berlawanan. Di satu sisi, pendorong domestik sangat kuat. Pemerintah menyalurkan THR aparatur negara dan pensiunan sekitar Rp55 triliun, sektor swasta diperkirakan mengalirkan THR sekitar Rp124 triliun, bonus hari raya untuk mitra pengemudi dan kurir ikut menambah daya beli, sementara mobilitas Lebaran diproyeksikan mencapai 143,91 juta pergerakan. Ini jelas menjadi suntikan likuiditas ke ekonomi riil.

Namun di sisi lain, bursa masuk ke musim Lebaran dalam kondisi yang tidak ideal. IHSG menutup 2025 pada 8.646,94, lalu melemah menjadi 8.235,49 pada akhir Februari 2026. Tekanan berlanjut pada Maret; indeks sempat memantul ke 7.440,91 pada 10 Maret, tetapi kembali turun ke 7.137,21 pada 13 Maret. Artinya, pasar tidak sedang memasuki Lebaran dari posisi euforia, melainkan dari posisi defensif. Dalam situasi seperti ini, sentimen positif musiman dapat muncul, tetapi biasanya lebih rapuh dan mudah berubah menjadi aksi ambil untung.

: Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini Senin 16 Maret 2026

Pengalaman internasional juga mengajarkan bahwa hari raya tidak selalu mengangkat seluruh pasar secara serempak. Di beberapa negara Muslim, studi menemukan Eid-ul-Fitr memberi pengaruh positif terhadap return, tetapi di tempat lain yang lebih terlihat justru penurunan volatilitas karena aktivitas perdagangan melambat. Di Turki, dampak Ramadan bahkan lebih terasa pada sektor tertentu ketimbang indeks pasar secara keseluruhan. Pesan yang relevan bagi Indonesia sederhana: bila efek Lebaran muncul, besar kemungkinan ia hadir secara selektif, bukan merata.

Temuan riset di Indonesia bergerak ke arah yang sama. Ada studi yang menemukan pengaruh Ramadan pada indeks syariah atau kelompok saham tertentu, tetapi ada pula yang tidak menemukan pengaruh signifikan Idul Fitri terhadap IHSG secara agregat. Sebagian penelitian justru menunjukkan perubahan volume perdagangan dan respons pasca-libur lebih menonjol dibanding kenaikan harga pra-libur. Dengan kata lain, anomali musiman di Indonesia ada, tetapi tidak cukup konsisten untuk diperlakukan sebagai rumus dagang yang pasti berhasil.

: : IHSG Dibuka Tinggalkan Level 7.000: Saham BREN, DSSA hingga MDKA Berguguran

Itulah sebabnya Idul Fitri tahun ini lebih tepat dibaca sebagai musim selektivitas. Kenaikan belanja rumah tangga, mudik, dan peningkatan transaksi harian berpotensi menopang emiten yang terkait konsumsi cepat, ritel pilihan, perbankan, pembayaran digital, telekomunikasi, transportasi, logistik, dan jalan tol. Tidak semua emiten dalam sektor-sektor itu akan menang sama besar, tetapi kelompok tersebut paling dekat dengan transmisi belanja Lebaran ke laba perusahaan. Investor sebaiknya fokus pada perusahaan yang memang memiliki pricing power, neraca yang kuat, dan visibilitas pertumbuhan laba yang jelas.

Di sinilah jebakannya. Ketika tema musiman terlalu populer, pasar mudah menciptakan crowded trade: terlalu banyak pelaku masuk ke saham yang sama dengan cerita yang sama. Pada fase ini, penguatan pra-libur justru bisa menjadi rapuh, karena sedikit tekanan jual saja dapat memicu koreksi tajam. Lebih berisiko lagi bila investor mengejar saham yang naik hanya karena narasi Lebaran, padahal fundamentalnya tipis, likuiditasnya rendah, dan manfaat musiman terhadap kinerjanya tidak nyata.

: : IHSG Waspada Bearish: Saham PSAB, INDY hingga BUKA Jadi Jagoan Analis

Ada tiga hal yang patut diantisipasi investor. Pertama, risiko likuiditas. Menjelang libur panjang, kedalaman pasar menipis, spread bisa melebar, dan pergerakan harga menjadi lebih mudah dipengaruhi transaksi besar. Kedua, risiko gap setelah bursa kembali dibuka. Selama pasar tutup, berita global tetap berjalan, mulai dari tarif dagang, geopolitik, harga komoditas, hingga arah dolar AS dan yield global. Posisi yang terlihat aman sebelum libur dapat berubah drastis ketika perdagangan dibuka kembali. Ketiga, risiko menyamakan konsumsi musiman dengan reli indeks. THR dan mudik memang baik bagi ekonomi domestik, tetapi IHSG tetap dipengaruhi arus asing, suku bunga, nilai tukar, dan sentimen global.

Kesimpulannya, menjelang Idul Fitri 1447 H, pasar saham Indonesia tampaknya lebih berpotensi menghadirkan peluang sektoral daripada reli menyeluruh. Stimulus konsumsi tahun ini besar, tetapi datang pada saat IHSG sedang rapuh dan likuiditas menjelang libur cenderung menipis. Investor karena itu perlu menahan godaan untuk membaca Lebaran sebagai jaminan kenaikan pasar. Yang lebih penting adalah disiplin memilih saham, menjaga ukuran posisi, dan membedakan secara tegas antara sentimen jangka pendek dengan ketahanan fundamental. Dalam pasar seperti sekarang, yang paling diuntungkan bukan investor yang paling cepat mengikuti mitos musiman, melainkan yang paling cermat membaca kualitas emiten dan struktur risikonya.