
Ifonti.com – , JAKARTA — Ciptadana Sekuritas Asia mempertahankan proyeksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) 2026 usai mengalami guncangan hebat pada awal tahun akibat pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI)
“Kami mempertahankan target JCI [IHSG] kami di 8.960 untuk skenario dasar kami dan 9.600 untuk skenario bullish kami,” tulis Erni Marsella Siahaan, analis Ciptadana Sekuritas Asia, dalam laporannya, Selasa (3/2/2026).
Secara keseluruhan, sekuritas ini merekomendasikan investor untuk tetap selektif, mempertahankan eksposur pada saham-saham defensif, dan secara bertahap mengakumulasi saham-saham yang memiliki keyakinan tinggi saat harga turun.
: Profil Jeffrey Hendrik Pjs Direktur Utama BEI Kala IHSG Diguncang MSCI
“[untuk]… memposisikan diri untuk normalisasi setelah tekanan terkait MSCI mereda,” jelasnya.
Erni menjelaskan bahwa, pihaknya tetap optimistis terhadap saham-saham yang berorientasi domestik dengan eksposur kepemilikan asing yang terbatas, terutama bank, barang konsumsi, dan telekomunikasi.
: : Ramai-Ramai Investor Berburu Emiten Fundamental usai Saham Konglomerat Digoyang MSCI
“[Saham-saham] yang seharusnya menawarkan perlindungan relatif di tengah ketidakpastian yang sedang berlangsung,” pungkasnya.
Seperti diketahui, data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan IHSG mengalami anjlok 6,84% menjadi 8.329 pekan lalu pada periode 23–30 Januari 2026. Terpantau aksi jual asing di lantai bursa mencapai Rp13,92 triliun dalam sepekan.
: : Menanti Tuah Pertemuan BEI-MSCI Tarik Dana Asing Masuk Pasar Saham RI
Kejatuhan pasar saham di Indonesia pada awal tahun ini dipicu oleh pengumuman dari indeks global MSCI pekan lalu. MSCI mengumumkan kebijakan interim berupa pembekuan atau freeze rebalancing indeks untuk saham asal Indonesia pada periode Februari 2026.
Merespons hal itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan 8 rencana aksi percepatan reformasi integritas pasar modal Indonesia. Delapan poin itu terdiri dari kebijakan baru free float, transparansi data ultimate beneficial owner (UBO), penguatan data kepemilikan saham, demutualisasi BEI, penegakan peraturan dan sanksi, tata kelola emiten, pendalaman pasar secara terintegrasi, serta kolaborasi dan sinergi dengan stakeholders.