Opini: Menakar ketahanan IHSG pascareformasi pasar modal

Ifonti.com – , JAKARTA – Tuntasnya seluruh proposal reformasi integritas pasar mo­­­dal Indonesia menandai lebih dari sekadar capaian kebijakan, melainkan titik balik struktural. Untuk pertama kalinya, Indonesia tidak ha­­­nya merespons standar glo­­­bal, tetapi secara proaktif membentuk ulang fondasi transparansi, investabilitas, dan kredibilitas pasarnya.

Mengutip Kepala Eksekutif Pengawas PMDK OJK, reformasi ini mencakup pembu­­ka­­­an data kepemilikan sa­­­ham di atas 1%, penguatan kla­­­sifikasi investor menjadi 39 kategori, serta penyesuaian free float menjadi 15%. Tidak kalah penting, implementasi High Shareholding Concentration (HSC) sebagai early warning mechanism dan akses informasi pemilik manfaat hingga tingkat pemegang saham minimal 10%, mempertegas arah baru pasar yang lebih transparan, akuntabel, dan terukur.

Sebelumnya, pasar menghadapi tekanan yang tidak ring­an. Sepanjang Maret 2026, IHSG terkoreksi 14,42% bulanan dan 18,49% ta­­­hunan. Tekanan ini berasal dari kombinasi dinamika global, faktor domestik, dan penilaian global index provi­­der yang memicu reposisi por­tofolio investor global. Hal ini tecermin dalam arus dana yang mencatatkan net sell asing sebesar Rp23,34 triliun.

: Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini, Rabu 29 April 2026

Sekilas, kondisi ini dipersepsikan sebagai sinyal pe­­­le­­­mahan. Namun, jika di­­­­lihat lebih dalam, fondasi pasar justru menunjukkan daya tahan yang relatif ku­­­at. Likuiditas tetap terjaga dengan RNTH sebesar Rp20,66 triliun, sementara bid-ask spread masih berada dalam rentang yang stabil. Ba­­­sis investor domestik juga terus menguat mencapai 24,74 juta atau tumbuh 21,51% tahunan.

Di sektor pengelolaan in­­­vestasi, kinerja menunjukkan tren positif. AUM mencapai Rp1.084,10 triliun serta net subscription reksa dana masih kuat di Rp29,12 triliun. Bahkan, di tengah tekanan, fungsi intermediasi tetap berjalan dengan penghimpunan dana korporasi mencapai Rp51,96 triliun dan pipeline yang tetap solid. Dengan kata lain, apa yang terjadi saat ini lebih mencerminkan fase penyesuaian bukan pelemahan fundamental.

SEJARAH KETAHANAN

Menarik untuk menengok kembali pola historis pasar modal Indonesia. Sejarah me­­nunjukkan bahwa IHSG tidak asing terhadap tekanan, justru telah berkali-kali melewati episode krisis dengan karakter pemulihan yang relatif cepat.

Pada krisis Asia 1997, IHSG terkoreksi sekitar 31,96%, tetapi pulih dalam waktu se­­­kitar 3 bulan. Pada 1998 turun sekitar 18,69%, bahkan kali ini pulih dalam 1 bulan. Tekanan dotcom crash tahun 2000 menurun 21,64%, pulih dalam 9 bu­­­lan, sementara guncangan global akibat peristiwa 9/11 pada 2001, turun 23,76%, tetapi kembali stabil dalam waktu 5 bulan. Saat pada krisis keuangan global 2008, IHSG turun sekitar 31,61% dan mampu pulih dalam 6 bulan.

: : IHSG Ditutup Turun 0,48% ke 7.072, Saham AMMN, DSSA dan TPIA Kompak Merah

Memasuki periode yang lebih modern, pola tersebut pada dasarnya tetap konsisten. Satu-satunya pengecualian terjadi pada pandemi Covid-19 tahun 2020, IHSG terkoreksi sangat tajam mencapai 75,86% dan memerlukan 3,5 tahun untuk pulih sepenuhnya. Namun, konteksnya berbeda karena yang terganggu bukan hanya pasar keuangan, tetapi juga aktivitas ekonomi riil secara global. Di luar periode tersebut, karakter pemulihan tetap ce­­­pat. Bahkan pada 2025, saat tarif resiprokal AS, IHSG pulih hanya sekitar 2 bulan.

Kesimpulannya adalah selama tekanan tidak merusak fundamental ekonomi domestik, pasar modal Indonesia cenderung mampu pulih de­­­ngan cepat. Pertanyaannya, apakah pola tersebut akan kembali terulang pada kondisi saat ini? Bagaimana posisi pasar saat ini?

Secara umum, kondisi saat ini mirip dengan episode se­­­be­­­lumnya, tekanan berasal dari eksternal, terutama geopolitik dan dinamika li­­­kui­ditas global. Namun, per­­lu dicatat bahwa pasar In­­­do­­­ne­­­sia kini sedang mengalami structural upgrade melalui re­­­formasi integritas yang kom­­­prehensif. Jika pada masa lalu pasar pulih tanpa perubahan struktur yang signifikan, maka kali ini pemulihan berpotensi berlangsung dalam kerangka pasar yang lebih berkualitas.

ARAH KE DEPAN

Meski demikian, struktur pasar saat ini didominasi oleh investor ritel, sementara peran investor institusi domestik belum optimal, sehingga pasar relatif sensitif terhadap volatilitas jangka pendek dan arus dana asing. Oleh karena itu, reformasi perlu diiringi dengan pendalaman pasar yang agresif agar ketahanan jangka panjang dapat terwujud.

Pada titik ini, pasar berada pada persimpangan yang menarik. Apakah tekanan mengikuti pola historis, di mana IHSG pulih dalam wak­tu singkat? Ataukah re­­­formasi yang berlangsung membutuhkan waktu lebih panjang sebelum stabilitas baru terbentuk?

Jika reformasi mampu me­­­ningkatkan kepercayaan investor dan faktor eksternal tidak menjadi krisis sistemik, maka probabilitasnya mengarah pada skenario rebound yang cepat. Namun, jika tekanan global berlanjut dan adaptasi pasar membutuhkan waktu, maka fase penyesuaian bisa lebih panjang. Sejarah memberi optimisme. Reformasi memberi arah. Kini, pasar harus membuktikan keduanya bisa berjalan beriringan.