Wamenkeu: Yield SBN masih terjaga, BI bantu serap Rp140,57 triliun

Ifonti.com , JAKARTA — Pemerintah meyakini kepercayaan investor terhadap instrumen Surat Berharga Negara (SBN) tetap solid di tengah eskalasi geopolitik global. Bank Indonesia (BI) turut bantu menjaga imbal hasil obligasi pemerintah.

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyampaikan bahwa kuatnya kepercayaan investor, baik dari dalam maupun luar negeri, tercermin dari pergerakan imbal hasil (yield) SBN yang tidak mengalami lonjakan ekstrem.

Meskipun pasar sempat diguncang oleh gejolak geopolitik di Timur Tengah pasca-serangan rudal yang melibatkan Israel-Amerika Serikat dan Iran pada akhir Februari 2026, pemerintah menilai dampak rembesannya ke pasar obligasi domestik masih dalam batas wajar.

: Purbaya Siapkan Rp2 Triliun per Hari untuk Serap SBN yang Dilepas Investor

“Pembiayaan fiskal kita masih sangat dipercaya oleh investor, baik domestik maupun asing. Kelihatan dari yield-nya [imbal hasilnya]. Kalau investor tidak percaya pada yield kita, pada fiskal kita, maka yield-nya akan melonjak,” jelas Juda dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah di Balai Kartini, Jakarta, Senin (25/5/2026).

Berdasarkan catatan Kementerian Keuangan, yield SBN tenor 10 tahun berada di level 6,01% pada akhir 2025. Terkini, berdasarkan hasil lelang terakhir per 12 Mei 2026, yield rata-rata tertimbang SBN 10 tahun yang dimenangkan berada di posisi 6,73% atau naik 0,72 poin persentase.

: : Pemerintah Sebut Modal Asing Mulai Kembali usai Intervensi Pasar SBN

“Sekarang ini di sekitar 6,5% hingga 6,7%, tidak jauh beda dengan sebelum terjadinya [gejolak geopolitik]. Ya, ada peningkatan, tapi tidak signifikan. Jadi krisis yang bersumber dari fiskal tidak ada tanda-tandanya,” kata Juda.

Dalam agenda yang sama, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menjelaskan bahwa ketidakpastian global telah mendorong kenaikan yield obligasi AS (US Treasury), hingga penguatan indeks dolar AS (DXY). Perkembangan tersebut mendorong arus modal keluar dari pasar keuangan negara berkembang seperti Indonesia.

: : Intervensi Pasar SBN demi Rupiah, Purbaya Klaim Aksi Jual Investor Makin Turun

Oleh sebab itu, Destry mengungkapkan bahwa bank sentral turut melakukan intervensi di pasar utang negara agar menjaga stabil yield-nya sehingga mencegah arus modal keluar lenih lanjut.

“Kita juga sudah melakukan pembelian SBN juga, dalam mereka mendorong likuditas dan juga menjaga yield pembelian supaya tidak terlalu meningkat tajam,” katanya.

Adapun, dari awal tahun hingga 19 Mei 2026, bank sentral telah menyerap SBN sebesar Rp140,57 triliun. Dari jumlah tersebut, Rp73,28 triliun di antara dilakukan lewat pembelian di pasar sekunder.

Lebih lanjut, demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, BI juga melakukan intervensi di pasar spot, non-deliverable forward (NDF), hingga Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

Dari sisi pasokan valuta asing, otoritas moneter memperketat pengawasan untuk memastikan setiap permintaan dolar AS memiliki underlying transaksi yang riil, seperti kebutuhan impor atau kewajiban pembayaran utang.

Langkah pamungkas adalah pengetatan moneter melalui jalur suku bunga. Seperti diketahui, pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) edisi Mei 2026, bank sentral memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin (bps) ke level 5,25%.

“Kita harus membuat instrumen rupiah kita itu menjadi menarik lagi, sehingga itu bisa mendorong inflow [aliran modal] kembali masuk, paling tidak ke pasar keuangan kita dulu,” jelas Destry.