
Ifonti.com JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga akhir penutupan perdagangan sesi I Senin (30/3/2026) parkir di zona merah dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik yang masih membebani pasar.
IHSG dibuka melemah 76,52 poin atau -1,08% ke level 7.020,53 pada awal perdagangan hari ini Senin (30/3/2026). Bahkan berdasarkan data RTI pukul 09.28, IHSG sempat terpantau anjlok lebih tajam 118,41 poin atau -1,67% ke 6.978.
Pada penutupan perdagangan sesi I, IHSG masih ditutup melemah 0,376% ke level 7.070,402.
Head of Research RHB Sekuritas Andrey Wijaya menjelaskan tekanan utama datang dari faktor eksternal, terutama volatilitas harga minyak dunia yang masih tinggi serta ekspektasi suku bunga global yang bertahan lebih lama di level tinggi atau higher for longer.
Kondisi ini mendorong penguatan dolar AS dan memicu aliran dana keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Dari domestik, investor juga masih cenderung wait and see terhadap arah kebijakan fiskal serta stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal,” ujarnya, Senin (30/3/2026).
: Periode “Drawndown” IHSG dari Peristiwa Dot-com Bust 2000 hingga Perang AS-Iran 2026
Kombinasi sentimen tersebut membuat pelaku pasar memilih melakukan aksi ambil untung (profit taking), terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar yang akhirnya menekan pergerakan IHSG.
Ke depan, pergerakan IHSG diperkirakan masih akan bergerak terbatas dalam jangka pendek. Andrey menilai, secara valuasi IHSG saat ini sudah mendekati area bawah tetapi belum cukup kuat untuk berbalik arah dalam waktu dekat.
“Dalam jangka pendek, IHSG kemungkinan akan bergerak sideways dengan volatilitas yang masih tinggi, karena faktor global seperti arah suku bunga dan harga minyak belum stabil,” lanjutnya.
Meski demikian, prospek jangka menengah dinilai masih cukup positif. Selama fundamental domestik tetap terjaga dengan pertumbuhan ekonomi di kisaran 5% dan inflasi yang terkendali, IHSG berpeluang kembali menguat secara bertahap.
Ini Faktor Penentu Arah IHSG Selanjutnya
Lebih lanjut, terdapat sejumlah faktor yang akan menjadi penentu arah pergerakan IHSG ke depan, baik sebagai pendorong maupun penekan pasar.
Dari sisi positif, potensi penguatan IHSG dapat datang dari mulai turunnya ekspektasi suku bunga global atau adanya kebijakan penurunan suku bunga. Selain itu, stabilisasi harga minyak, kembalinya aliran dana asing ke pasar berkembang, serta fundamental domestik yang kuat, terutama dari sektor konsumsi, perbankan, dan pertumbuhan laba emiten akan menjadi katalis utama.
Namun di sisi lain, risiko pelemahan masih membayangi. Lonjakan harga minyak yang berkelanjutan berpotensi menekan inflasi dan fiskal, sementara penguatan dolar AS serta kenaikan imbal hasil global dapat memicu kembali arus keluar dana asing. Ketidakpastian kebijakan, baik dari sisi global maupun domestik, juga menjadi faktor yang perlu dicermati investor.
IDX COMPOSITE INDEX – TradingView
Head Online Trading Support (OTS) BCA Sekuritas Achmad Yaki mengatakan sentimen geopolitik menjadi salah satu faktor utama yang menekan pasar. Konflik yang berkepanjangan di kawasan Timur Tengah memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global, yang pada akhirnya berdampak pada persepsi risiko investor.
“Tekanan lebih banyak berasal dari konflik geopolitik di Timur Tengah dan kekhawatiran terkait suplai BBM dalam negeri,” ujarnya.
Selain faktor eksternal, dari sisi domestik, pasar juga belum mendapatkan katalis kuat. Hingga saat ini, belum terlihat adanya kebijakan signifikan dari pemerintah maupun regulator yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek.
Tekanan Teknikal, IHSG Berpeluang Rebound Terbatas
Secara teknikal, pergerakan IHSG dinilai masih berada dalam tren bearish. Namun demikian, peluang untuk terjadi rebound jangka pendek tetap terbuka, terutama jika indeks mampu bertahan di atas level support kunci.
Achmad menyebutkan, area support IHSG berada di kisaran 6.750 hingga 6.820. Selama level tersebut mampu dipertahankan, IHSG masih memiliki peluang untuk mengalami penguatan terbatas.
“Jika kuat bertahan di area tersebut, IHSG berpotensi rebound dengan resist terdekat di level 7.125 hingga 7.355,” jelasnya.
Meski ada potensi penguatan jangka pendek, investor tetap diminta berhati-hati. Pasalnya, arah tren utama IHSG masih cenderung melemah, sehingga setiap kenaikan lebih bersifat teknikal dan belum didukung oleh perubahan fundamental yang signifikan.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.