Indeks Bisnis-27 dibuka melemah, saham ADMR, ADRO, hingga AMRT justru melaju

Ifonti.com , JAKARTA – Indeks Bisnis-27 dibuka melemah pada perdagangan hari ini, Senin (9/2/2026). Meskipun begitu, Sejumlah saham seperti ADMR, ADRO, hingga AMRT masih menguat pada pembukaan perdagangan.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, indeks hasil kerja sama Bursa dengan Harian Bisnis Indonesia itu dibuka melemah 0,35% ke level 529,82. Dari 27 konstituen, sebanyak 11 saham masih menguat, 14 melemah, dan 2 stagnan.

Penguatan harga saham dialami oleh PT Alamtri Mineral Indonesia Tbk. (ADMR) yang naik 1,44% ke Rp1.765 per saham. Mengekor di belakangnya, saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) menguat 1,92% ke Rp2.120 dan saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) menguat 1,10% ke Rp1.830 per saham.

: Indeks Bisnis-27 Ditutup Melemah, Saham TLKM dan AMRT Cs Masih Cuan

Penguatan juga dialami oleh PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) yang menguat 3,23% ke Rp3.830, saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) menguat 1,77% ke Rp230, atau saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) menguat 1,60% ke Rp 2.540.

Sebaliknya, pelemahan harga dialami oleh PT Astra International Tbk. (ASII) yang terkoreksi 1,49% ke Rp6.600, saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) melemah 1,30% ke Rp7.575, dan saham PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) melemah 1,18% ke Rp2.520.

: : Indeks Bisnis-27 Dibuka Melemah Terseret Penurunan Saham INCO, BRPT hingga BUMI

Pelemahan harga saham juga dialami oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang terkoreksi 0,99% ke Rp5.000, PT Mayora Indah Tbk. (MYOR) yang melemah 2,48% ke Rp2.360, atau saham PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) yang terkoreksi 2,06% ke Rp1.190.

Sebelumnya, Equity Analyst Indo Premier Sekuritas Imam Gunadi menuturkan memasuki pekan 9–13 Februari 2026, perhatian pasar akan tertuju pada sejumlah rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat, China, dan Indonesia yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar keuangan global maupun domestik. 

: : Ikuti IHSG, Indeks Bisnis-27 Ditutup Melemah 0,22% ke Zona Merah

Dari Amerika Serikat, data inflasi menjadi sorotan utama dengan proyeksi penurunan ke level 2,5% yoy dari 2,7% yoy pada periode sebelumnya, yang dapat memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter The Fed. 

Selain itu, initial jobless claims diperkirakan berada di kisaran 235.000, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan tetap stabil di 4,4% mencerminkan pasar tenaga kerja yang mulai melandai. 

Dari China, pasar akan mencermati rilis data inflasi yang diproyeksikan turun menjadi 0,4% yoy dari 0,8% yoy, mengindikasikan tekanan permintaan domestik yang masih lemah dan ruang kebijakan yang lebih longgar bagi otoritas setempat. 

Di dalam negeri, fokus investor tertuju pada rilis penjualan ritel Desember 2025 sebagai indikator daya beli masyarakat menjelang akhir tahun, serta data penjualan mobil Januari 2026 yang akan memberikan gambaran awal mengenai tren konsumsi dan permintaan domestik di awal tahun. 

Data-data ini akan menjadi konfirmasi lanjutan atas ketahanan konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Di luar rilis data ekonomi, pasar juga masih akan mencermati perkembangan kebijakan Moody’s, khususnya dampaknya terhadap perusahaan-perusahaan Indonesia yang mengalami penurunan outlook, mengingat potensi implikasinya terhadap persepsi risiko, biaya pendanaan, dan sentimen investor. 

_____

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.