IHSG ditutup turun 0,46% ke level 8.951, saham AMMN hingga BRPT membebani

Ifonti.com JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah sebesar 0,46% ke level 8.951 pada perdagangan Jumat (23/1/2026). IHSG ditutup melemah setelah bergerak fluktuatif pada kisaran terendah 8.837 dan tertinggi level 8.951. 

Berdasarkan data IDX Mobile, terpantau sebanyak 200 saham menguat, 521 saham melemah, dan 237 saham stagnan. 

Sepanjang perdagangan hari ini, sebanyak 61 miliar saham diperdagangkan dengan volume sebesar Rp31,92 triliun dan frekuensi 3,232 juta kali. Nilai Kapitalisasi pasar pada hari ini tercatat mencapai Rp16.243 triliun.

Saham-saham berkapitalisasi besar yang memimpin pelemahan adalah saham PT Amman Mineral International Tbk. (AMMN) turun sebanyak 6,19%, selanjutnya saham PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) terkoreksi sebesar 5,82%, saham PT Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) melemah hingga 3,23%, selanjutnya PT Pertamina Geothermal Tbk. (PGEO) sebesar 2,03%.

: Profil Anak Usaha UNTR yang Izin Usahanya Dicabut Prabowo

Sementara itu, sejumlah saham berkapitalisasi besar yang menjadi penggerak laju IHSG adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) menguat sebesar 5,96%, PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) bergerak naik sebesar 5,09%, PT Alamtri Minerals Tbk. (ADMR) sebesar 5,07%, PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) naik sebesar 3,83%, 

Saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) ikut naik sebesar 3,45%. Disusul saham PT Semen Indonesia Tbk. (SMGR) sebesar 3,02%, serta saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) sebesar 2,13%.

Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas mengatakan pergerakan bursa di regional Asia sejalan dengan tren positif bursa Wall Street memperpanjang kenaikan yang didukung meredanya tensi geopolitk. Presiden AS Donald Trump melunak dengan kesepakatan kerangka kerja dengan NATO mengenai kesepakatan Greenland di masa depan dan data pasar menyoroti kekuatan ekonomi AS. 

Selain itu, Rilis data GDP menunjukkan kondisi ekonomi AS tetap berada di pertumbuhan yang solid. Selanjutnya pasar juga didorong sentimen dari harapan akan dukungan kebijakan baru di mana bank sentral China mengisyaratkan akan mempertahankan kebijakan moneter.

Kebijakan moneter di China akan longgar pada tahun 2026 melalui instrumen seperti pemotongan rasio cadangan wajib dan pengurangan suku bunga untuk memastikan likuiditas yang memadai. 

Pasar juga mengamati stimulus fiskal menghadapi tekanan deflasi, permintaan konsumen yang lemah, dan sektor properti yang sedang kesulitan. 

Sementara dari dalam negeri, jelang akhir pekan ini indeks IHSG melemah yang tampaknya kombinasi profit taking dan juga keluarnya arus modal asing. Pasar juga diwarnai melemahnya sejumlah emiten konglomerasi yang mendorong aksi profit taking setelah IHSG terus mengalami penguatannya.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.