Indeks Bisnis-27 dibuka melemah 0,52% ke 494,45, saham BBRI hingga TLKM jadi penekan

Ifonti.com – ,JAKARTA – Indeks Bisnis-27 dibuka melemah pada awal perdagangan hari ini Selasa (21/4/2026) seiring dengan meningkatnya tekanan dari sentimen global.

Berdasarkan data IDX Mobile hingga pukul 09.10, Indeks kerja sama dengan harian Bisnis Indonesia ini dibuka melemah 0,52% ke level 494,45 di tengah sikap hati-hati pelaku pasar yang mencermati perkembangan geopolitik serta arah kebijakan moneter global.

Sebanyak 11 saham konstituen menghijau, 11 saham memerah, dan sisanya 5 saham stagnan.

: Indeks Bisnis-27 Ditutup Melemah Terbebani Saham AMRT, BRPT, MAPI

Pelemahan indeks dipimpin oleh saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang turun 4,65% ke level Rp3.280, kemudian saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk, (ADMR) yang turun 1,57% ke level Rp1.875,  selanjutnya saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang turun 1,29% ke level Rp3.060.

Berikutnya saham PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) turun 1,18% ke level Rp1.680, dan saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) melemah 0,96% ke level Rp1.030.

: : Indeks Bisnis-27 Dibuka Menguat, Saham DSNG, TLKM, dan PGEO Pimpin Kenaikan

Sementara itu saham yang mampu menahan laju penurunan lebih dalam dan cenderung menguat adalah saham PT United Tractors Tbk. (UNTR) naik 1,34% ke level Rp32.025, saham PT Astra International Tbk. (ASRI) naik 1,18% ke level Rp6.425, dan saham PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) naik 1,20% ke level Rp1.270.

Tim riset Phintraco Sekuritas mengatakan pasar keuangan global bergerak hati-hati di awal pekan ini seiring meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

: : Saham PGEO, BRPT hingga MYOR Tekan Indeks Bisnis-27 Ditutup Melemah

Ketegangan meningkat setelah penyitaan kapal berbendera Iran oleh AS pada akhir pekan lalu. Langkah tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap kelanjutan proses perdamaian yang tengah diupayakan kedua pihak. Meski demikian, Presiden AS Donald Trump menyatakan negosiator AS tetap dijadwalkan melanjutkan pembicaraan di Pakistan.

Namun, ketidakpastian masih membayangi. Iran dilaporkan menolak berpartisipasi dalam putaran negosiasi lanjutan, meskipun terdapat sinyal bahwa delegasi negara tersebut masih mempertimbangkan kehadiran dalam perundingan. Di sisi lain, Trump juga menegaskan kecil kemungkinan memperpanjang masa gencatan senjata dua minggu jika tidak tercapai kesepakatan sebelum batas waktu 21 April 2026.

Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung bersikap wait and see. Ketidakjelasan arah diplomasi meningkatkan volatilitas, terutama di pasar komoditas dan obligasi.

Di sektor domestik, perhatian juga tertuju pada stabilitas sektor keuangan, khususnya kredit properti. Data Bank Indonesia menunjukkan rasio kredit bermasalah (NPL) properti meningkat menjadi 3,24% pada Februari 2026, dibandingkan 2,99% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski demikian, pertumbuhan kredit properti masih cukup solid, tumbuh 13,7% secara tahunan. Hal ini mengindikasikan peningkatan aktivitas pembiayaan, namun juga diiringi bertambahnya jumlah kredit bermasalah.

Kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi salah satu risiko yang perlu dicermati, terutama jika dilakukan untuk menahan tekanan terhadap rupiah. Namun, pasar memperkirakan Bank Indonesia masih akan menahan suku bunga dalam rapat kebijakan pada 22 April 2026 guna menjaga momentum pemulihan ekonomi.

_____

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.