IHSG anjlok 3,06%, sentimen MSCI dan pelemahan rupiah jadi biang kerok

Ifonti.com , JAKARTA — Pasar modal Indonesia kembali menghadapi tekanan setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan pembekuan rebalancing indeks saham Indonesia untuk periode Mei 2026. Selain itu, tekanan juga datang dari pelemahan rupiah.

Head of Research Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menilai tekanan pasar saat ini perlu dilihat dalam konteks dinamika global yang masih dipenuhi ketidakpastian.

“Pelemahan rupiah saat ini lebih mencerminkan kombinasi sentimen risk-off global dan meningkatnya risk premium domestik, bukan disebabkan oleh krisis kebijakan yang ekstrem,” ujar Rully Arya Wisnubroto, Jumat (24/4/2026).

: IHSG Sesi I Ambrol 3,06% ke 7.152, Ada 670 Saham di Zona Merah!

Rupiah ditutup di level Rp17.295 per dolar AS pada 23 April 2026, atau melemah sekitar 3,5% sejak awal tahun. Meski demikian, Mirae Asset Sekuritas memandang pelemahan tersebut masih relatif lebih baik dibandingkan beberapa mata uang emerging markets lain seperti Rupee India dan Lira Turki.

Lebih lanjut, kata Rully, dari sentimen MSCI, MSCI menyatakan pembekuan dilakukan sambil mengevaluasi konsistensi dan efektivitas kebijakan baru otoritas pasar modal Indonesia, terutama terkait transparansi kepemilikan saham dan rencana kenaikan batas minimum free float menjadi 15%. MSCI juga menunda penambahan Foreign Inclusion Factors (FIF) dan perubahan klasifikasi sejumlah saham Indonesia dalam indeksnya.

Di sisi lain, dia menilai otoritas pasar modal Indonesia telah menunjukkan progres reformasi yang cukup signifikan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) telah menyelesaikan empat dari delapan agenda reformasi transparansi pasar modal yang diumumkan pada awal April 2026.

Langkah tersebut mencakup publikasi daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi, pengungkapan kepemilikan saham di atas 1% secara bulanan, perluasan klasifikasi investor KSEI, serta penerapan aturan minimum free float 15%.

“Langkah reformasi yang telah dijalankan merupakan sinyal positif bagi pasar. Penguatan IHSG sejak awal April menunjukkan bahwa kepercayaan investor terhadap komitmen reformasi otoritas masih cukup terjaga. Pasar kini akan mencermati sejauh mana konsistensi reformasi dapat dipertahankan dan bagaimana MSCI menilai efektivitas kebijakan yang telah diterapkan,” ujar Rully.

Sejak pengumuman reformasi pada 2 April 2026, IHSG tercatat menguat sekitar 8%, meskipun volatilitas pasar masih tinggi. 

Fokus investor selanjutnya akan tertuju pada MSCI Index Review pada 12 Mei 2026 dan hasil Market Accessibility Review pada Juni 2026, yang akan menjadi penentu arah pasar domestik dan persepsi investor global terhadap pasar modal Indonesia.

Adapun pada perdagangan sesi I hari ini, IHSG ditutup melemah 3,06% ke level 7.152,85. Sebanyak 90 saham menguat, 642 saham melemah, dan 82 saham stagnan. Kapitalisasi pasar Bursa menyusut menjadi Rp12.805 triliun.

______

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.