IHSG dibuka melemah ke 6.194, terhambat laju BBCA, BREN & BMRI cs

Ifonti.com , JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Indeks komposit terhambat oleh mayoritas saham big caps yang dibuka di zona merah.

Melansir IDX Mobile pukul 09.02 WIB, IHSG melemah 0,01% atau 0,53 poin ke 6.194,60. Pasar mengawali sesi dengan transaksi 1,08 miliar saham senilai Rp921,2 miliar. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp10.903 triliun.

Pagi ini, sebanyak 254 saham dibuka menguat, 204 melemah dan 501 saham belum berubah.

: IHSG Diproyeksi Uji Level 6.3262, Cermati Saham BRPT hingga KLBF

Dari jajaran saham dengan kapitalisasi pasar terbesar, BBCA dibuka melemah 0,43% ke Rp5.800, BREN turun 1,49% ke Rp4.040, BYAN melemah 0,51% ke Rp9.800, MORA melemah 2,19% ke Rp6.700, dan TLKM yang dibuka turun 0,68% ke Rp2.930.

Di sisi lain, saham big caps yang menguat antara lain adalah BBRI yang naik 0,66% ke Rp3.060, BMRI naik 0,72% ke Rp4.200, SRAJ dibuka melambung 10,69% ke Rp14.425, DSSA menguat 17,89% ke Rp725, BBNI menguat 0,53% ke Rp3.780, serta PANI yang dibuka menguat 0,68% ke Rp7.350.

Tim riset Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG hari ini akan melanjutkan penguatan dan bergerak di level resistance 6.300 serta support 6.100. Pada perdagangan Selasa (2/6) lalu, IHSG ditutup menguat 1,11% ke 6.195. Secara teknikal, IHSG bertahan di atas level MA5, diikuti dengan penyempitan histogram negatif MACD yang berlanjut dengan Stochastic RSI mengarah ke area pivot. 

“Sehingga diperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan penguatan dengan menguji level 6.220-6.280,” tulis analis, Rabu (3/6/2026).

Sentimen pasar yang menyertai IHSG kini adalah sejumlah rilis data ekonomi dalam negeri. Inflasi bulan Mei tercatat sebesar 3,08%. Inflasi ini masih dalam kisaran target Bank Indonesia sebesar 1,5%-3,5%. Namun, analis menilai jika inflasi berlanjut menguat serta rupiah masih depresiasi lebih lanjut, diperkirakan BI Rate masih berpotensi naik. 

: : IHSG Ditutup Menguat 1,11% ke 6.195, Saham DSSA, BREN hingga Big Banks Tancap Gas

Sementara itu, indeks PMI manufaktur naik di level 50 pada Mei 2026 dari level terendah selama sepuluh bulan di 49,1 pada April 2026. Hal ini mengindikasikan kondisi pabrik yang relatif stabil. Pesanan baru meningkat selama dua bulan berturut-turut, namun pesanan ekspor turun karena gangguan konflik di Timur Tengah. 

Dari sektor perdagangan, surplus neraca perdagangan Indonesia berkurang menjadi US$0,09 miliar pada April 2026, dari sebelumnya sebesar US$3,32 miliar pada bulan Maret 2026, serta dari US$0,2 miliar pada April 2025. 

“Ini merupakan surplus perdagangan terkecil sejak April 2020, yang disebabkan oleh kenaikan impor sebesar 22,5% YoY dengan peningkatan impor migas sebesar 85,52% dan impor nonmigas tumbuh 14,11%,” tulis analis.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.